Agrofarm.co.id, Bogor-Prof. Bungaran Saragih, Menteri Pertanian periode 2000-2004 menggagas sistem agroindustri agar Indonesia sebagai negara tropis kepulauan memiliki modal alam, manusia, dan pasar yang besar bisa menjadi kekuatan besar dunia.
Indonesia memiliki kekayaan alam, keanekaragaman hayati, wilayah tropis, dan sumber daya manusia yang besar. Namun, berbagai keunggulan tersebut belum sepenuhnya mampu diubah menjadi produktivitas, penguasaan teknologi, dan kemakmuran yang merata.
Bungaran mengungkapkan, persoalan utama pembangunan Indonesia bukan semata-mata kekurangan modal atau sumber daya, melainkan belum optimalnya pengorganisasian berbagai potensi yang dimiliki.
Sumber daya alam, manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, pasar, serta pemerintah pusat dan daerah masih kerap berjalan sendiri-sendiri.
“Kita menyebut diri sebagai negara agraris, negara maritim, negara megabiodiversitas, dan pasar besar. Semua itu benar. Namun potensi tidak sama dengan kemampuan,” kata Bungaran pada acara bedah buku, Indonesia 2045: Sistem Agroindustri Nasional untuk Negara Tropis Kepulauan, di Sekolah Bisnis IPB University, Bogor, Kamis (15/10/2026).
Dia menilai, peningkatan produksi dan investasi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Sumber daya alam dapat terus diekspor tanpa diikuti penguasaan teknologi, sementara pertumbuhan ekonomi belum tentu memperbaiki posisi petani dan pemerataan nilai tambah.
Bungaran mengusulkan agar agroindustri dipandang sebagai sistem ekonomi yang menghubungkan seluruh rantai usaha, bukan sekadar kegiatan budidaya pertanian.
Sistem agribisnis mencakup industri benih, pupuk, pakan, alat dan mesin pertanian, pengolahan hasil, perdagangan, transportasi, pembiayaan, riset, hingga teknologi digital.
“Pangan dan biomassa menggerakkan industri benih, pupuk, pakan, alat dan mesin, budidaya, pengolahan, perdagangan, transportasi, pembiayaan, riset, teknologi, jasa digital, hingga konsumsi,” ujarnya.
Maka itu, produksi perlu terhubung dengan industri pengolahan, pembiayaan, dan pasar agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Pendekatan ini juga perlu mengintegrasikan pertanian, perikanan, kehutanan, dan kelautan sesuai karakteristik Indonesia sebagai negara tropis kepulauan.
Bungaran turut menyoroti logistik sebagai tantangan penting, mulai dari pelabuhan, pergudangan, rantai dingin, hingga distribusi antarpulau. Menurut dia, logistik harus menjadi bagian dari strategi pembangunan sejak awal, bukan sekadar urusan setelah produksi.
Pembiayaan dan kelembagaan juga perlu diperkuat. Selain mendekatkan riset dengan kebutuhan petani dan nelayan, pembangunan perlu menghubungkan pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga penelitian dalam satu ekosistem.
Bungaran menilai, kekayaan alam dan kondisi geografis Indonesia merupakan modal awal yang perlu dikembangkan menjadi keunggulan yang lebih kuat.
Karena itu, Indonesia perlu bergerak dari keunggulan komparatif menuju transformative advantage atau keunggulan yang dibangun melalui peningkatan kemampuan secara berkelanjutan.
“Setiap kegiatan ekonomi perlu meninggalkan kemampuan yang lebih besar pada daripada sebelumnya. Produksi harus memperbaiki produktivitas biologis. Produktivitas harus menghasilkan nilai tambah. Nilai tambah harus membangun manusia, teknologi, organisasi, dan jaringan,” ujar Bungaran.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari produksi, investasi, dan ekspor. Peningkatan kapasitas petani dan nelayan, penguasaan teknologi dalam negeri, pemerataan nilai tambah, serta keberlanjutan lingkungan juga perlu menjadi ukuran.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof. Haryanto menilai membangun sistem agroindustri tidak cukup dengan perbaikan sedikit demi sedikit.
Haryanto menambahkan, tanah bisa merosot kualitasnya, kelembagaan bisa melemah, dan pasar bisa memburuk. “Sehingga sistem perlu terus disuntik teknologi, manajemen yang lebih baik, aliran informasi, dan tata Kelola,” ujar dia
Sedangkan Guru Besar di bidang Ilmu Ekonomi, Statistik, dan Ekonometrika, Prof. Noer Azam Achsani, mengatakan buku ini dengan pemikiran Daron Acemoglu, peraih Nobel Ekonomi 2024, yang menyebut lembaga yang hanya menyedot kekayaan sebagai penyebab banyak negara gagal.
Ia mencontohkan Norwegia yang kaya minyak dan makmur, sedangkan Nigeria yang juga kaya minyak tetap miskin.
