16 C
New York

Ekspor Produk Sawit Juli 2026 Turun 2,67 Persen

Published:

Agrofarm.co.id, Jakarta- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat voluem ekspor produk sawit pada bulan Juli 2026 mencapai 3.188 ribu ton, turun -2,67 persen dibandingkan bulan Juni sebesar 3.275 ribu ton.

Penurunan terjadi pada ekspor CPO menjadi 249 ribu ton dari 335 ribu ton (-25,70 persen), ekspor olahan minyak sawit yang hanya menjadi 2.296 ribu ton dari 2.357 ribu ton (-2,57 persen), dan ekspor olahan minyak inti sawit menjadi 99 ribu ton dari 116 ribu ton (-14,60 persen).

Sedangkan kenaikan ekspor terjadi pada oleokimia yang naik menjadi 537 ribu ton dari 467 ribu ton pada bulan sebelumnya (+14,94 persen).

Secara kumulatif Januari–Juli 2026, total ekspor mencapai 19.782 ribu ton, lebih tinggi 2,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 19.223 ribu ton.

Sementara itu, nilai ekspor produk sawit pada bulan Juli 2026 mencapai USD3,81 miliar, turun dari USD3,92 miliar pada bulan Juni atau sebesar 2,89 persen.

Rata-rata harga ekspor CPO pada bulan Juli USD 1.168 per ton lebih rendah dari harga rata-rata bulan Juni sebesar USD 1.174 (-0,45 persen).

“Secara kumulatif Januari–Juli 2026, nilai ekspor mencapai USD23,26 miliar, lebih tinggi 10,92 persen dari tahun 2025 sebesar USD 20,97 miliar,” ungkap Mukti Sardjono Direktur Eksekutif GAPKI, Selasa (29/9/2026).

Rata-rata harga ekspor CPO selama Januari–Juli 2026 tercatat USD1.137 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun 2025 sebesar USD1.075 per ton.

Menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor pada bulan Juli 2026 dibandingkan bulan Juni 2026 antara lain terjadi untuk tujuan EU 27 sebesar 104 ribu ton (+40 persen), Afrika sebesar 61 ribu ton (+17 persen), Amerika Serikat sebesar 44 ribu ton (+20 persen), dan China sebesar 25 ribu ton (+4 persen).

Penurunan ekspor terjadi untuk tujuan India sebesar 81 ribu ton (-20 persen), Russia sebesar 69 ribu ton (-69 persen), Malaysia sebesar 69 ribu ton (-32 persen), Pakistan sebesar 47 ribu ton (-17 persen) dan Bangladesh sebesar 35 ribu ton (-21persen).

Namun apabila dihitung secara kumulatif selama periode Januari–Juli 2026, ekspor ke China 30% lebih tinggi dari tahun 2025, ke Malaysia 14 persen lebih tinggi, Afrika 5 persen lebih tinggi, EU 27 4 persen lebih tinggi dan Russia 2 persen lebih tinggi.

Sebaliknya India 20 persen lebih rendah dari tahun 2025, Pakistan 13 persen lebih rendah, USA 4 persen lebih rendah dan Bangladesh 3 persen lebih rendah.

Adapun produksi CPO bulan Juli 2026 mencapai 4.904 ribu ton, naik 1,68 persen dari bulan sebelumnya 4.823 ribu ton.

Produksi PKO bulan Juli juga naik menjadi 466 ribu ton dari 449 ribu ton di bulan Juni sehingga total produksi CPO+PKO bulan Juli 2026 mencapai 5.370 ribu ton lebih tinggi 1,87 persen dari bulan sebelumnya 5.272 ribu ton.

Secara kumulatif Januari–Juli 2026, total produksi CPO+PKO mencapai 35.654 ribu ton, lebih tinggi 6,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 33.495 ribu ton.

Total konsumsi dalam negeri pada bulan Juli 2026 mencapai 2.275 ribu ton, naik 3,35 persen dibandingkan bulan Juni sebesar 2.201 ribu ton.

Peningkatan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.285 ribu ton, naik 13,59% dari 1.131 ribu ton pada bulan Juni.

Penurunan terjadi pada konsumsi pangan yang turun -8,31 persen menjadi 805 ribu ton dari 878 ribu ton di bulan Juni dan konsumsi oleokimia yang turun -3,65 persen menjadi 185 ribu ton dari 192 ribu ton di bulan Juni.

Secara kumulatif Januari–Juli 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 15.219 ribu ton, lebih tinggi 6,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 14.306 ribu ton.

Dengan stok awal tahun sebesar 2.068 ribu ton, total produksi Januari–Juli 2026 sebesar 35.435 ribu ton, total konsumsi dalam negeri sebesar 15.219 ribu ton, total ekspor sebesar 19.782 ribu ton, serta impor sebesar 38 ribu ton, maka stok akhir bulan Juli 2026 tercatat sebesar 2.758 ribu ton.

Related articles

Recent articles