16 C
New York

BRIN dan Pertamina Bahas Pengembangan Sagu untuk Pengeboran Migas

Published:

Agrofarm.co.id, Lampung Tengah– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) menerima kunjungan PT Pertamina (Persero), PT Elnusa Tbk, dan PT Elnusa Petrofin untuk menindaklanjuti kolaborasi pengembangan drilling starch berbasis sagu sebagai aditif fluida pengeboran migas di fasilitas pengembangan drilling starch BRIN, Anak Tuha Lampung Tengah.

Pertemuan tersebut membahas perkembangan riset, capaian uji lapangan, kesiapan fasilitas produksi, serta pemanfaatan hasil riset untuk mendukung industri migas nasional.

Tim Pertamina dipimpin Farid Febrian, Manager Upstream & Low Carbon – Technology Commercial and Implementation, sementara dari PRTP BRIN hadir Perekayasa Ahli Utama Bambang Triwiyono, dan Perekayasa Ahli Madya Yanuar Sigit Pramana, serta tim peneliti lainnya.

Diskusi mencakup pengembangan teknologi drilling starch sejak 2022, meliputi optimasi bahan baku tapioka dan sagu, pengembangan prototipe, kajian teknis-ekonomi, produksi skala pilot, hingga uji produk pada kegiatan pengeboran minyak dan migas.

Perekayasa Ahli Utama PRTP BRIN Bambang Triwiyono menjelaskan, sagu diolah melalui rekayasa proses menjadi drilling starch, aditif fluida pengeboran.

“Hal ini untuk mengendalikan kehilangan cairan ke formasi batuan, sebagai upaya pengembangan material pendukung industri berbasis potensi nasional,” jelas dia, Selasa (30/6/2026).

Pada periode kerja sama kedua, Oktober 2023–Juli 2024, tambahnya, fasilitas BRIN di Anak Tuha memproduksi sekitar 16 ton drilling starch berbasis sagu yang digunakan dalam uji lapangan Pertamina di Ramba Field, Zona 4 (Maret 2025) dan Jatibarang Zona 7 (November 2025).

“Hasil evaluasi menunjukkan kinerja produk baik sebagai pengendali kehilangan filtrat tanpa kendala berarti. Capaian ini menandai kemajuan riset dari skala laboratorium ke produksi pilot dan kesiapan teknologi untuk kebutuhan industri,” paparnya.

Kunjungan juga meninjau fasilitas produksi pilot di Anak Tuha berkapasitas sekitar satu ton per hari yang masih memerlukan perawatan dan penyesuaian teknis. Selain itu, dibahas arah pengembangan meliputi kesiapan teknis, pengendalian mutu, bahan baku, keselamatan kerja, pembiayaan, dan pembagian peran.

Dalam jangka panjang, Pertamina merencanakan pembangunan fasilitas produksi mandiri dengan supervisi teknis dari BRIN, diawali studi teknis dan kajian kelayakan sebagai dasar tahapan pembangunan hingga operasional.

Kolaborasi BRIN dan Pertamina menegaskan pentingnya sinergi riset dan industri dalam mempercepat pemanfaatan hasil penelitian. Kerja sama ini menghasilkan inovasi sesuai kebutuhan sekaligus umpan balik untuk meningkatkan kesiapan teknologi.

Pengembangan drilling starch berbasis sagu menjadi contoh pemanfaatan sumber daya hayati bernilai tambah bagi sektor energi. Kolaborasi berkelanjutan ini diharapkan memperkuat kapasitas teknologi nasional dan kemandirian industri migas.

Hasil kunjungan dan diskusi menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun langkah pengembangan selanjutnya sesuai kajian teknis dan mekanisme kerja sama yang berlaku.

 

Related articles

Recent articles