Agrofarm.co.id, Jakarta- Lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada kenaikan biaya produksi benih dan produk perlindungan tanaman (Prolintan).
Ketua Umum Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Ayub Darmanto mengungkapkan kenaikan harga minyak yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah memengaruhi berbagai komponen biaya produksi benih di dalam negeri.
“Kalau kita bicara produksi benih di dalam negeri, ternyata dengan adanya kenaikan minyak yang luar biasa itu sangat mempengaruhi komponen input daripada biaya-biaya yang dilakukan oleh produsen benih di dalam negeri,” kata Ayub dalam Media Briefing bertema Harga Agroinput dan Beban Produksi Meningkat: Apa Solusi Industri? di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Menurut dia, dampak kenaikan biaya tidak hanya dirasakan pada produksi benih dalam negeri, tetapi juga pada benih impor. Harga mulsa plastik, pupuk impor, pestisida, hingga bahan kemasan mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga minyak dunia.
Ayub menambahkan, tekanan semakin besar karena sebagian benih hortikultura masih harus diimpor, seperti kubis, sawi putih, pakcoy, kembang kol, dan brokoli. Di sisi lain, transaksi pembelian dilakukan menggunakan dolar AS maupun euro, sementara penjualan di dalam negeri menggunakan rupiah.
“Jadi dengan adanya perubahan harga, terus terang saja sangat memukul kami sebagai salah satu pelaku di perbenihan ini. Kenapa? Karena kita menjualnya dengan Rupiah, tapi kita belinya dalam bentuk Dolar maupun Euro,” ujarnya.
Dia menjelaskan kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus berhati-hati dalam menentukan harga. Pasalnya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pembayaran kepada pemasok luar negeri, terutama bagi perusahaan yang memperoleh fasilitas pembayaran tempo.
Sementara itu, Dewan Pakar Agroinput, Midzon Johannis mengungkapkan bahwa industri produk perlindungan tanaman saat ini menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah.
Padahal, produk perlindungan tanaman memiliki peran strategis dalam menjaga produktivitas pertanian. Menurutnya, sekitar 30 hingga 40 persen keberhasilan produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh penggunaan pestisida yang tepat untuk mengendalikan hama dan penyakit.
“Perlindungan tanaman sangat menentukan kuantitas dan kualitas hasil panen. Karena itu, gangguan pada industri prolitan akan berdampak langsung terhadap sektor pangan,” ujarnya.
Midzon menjelaskan, sekitar 85 hingga 90 persen bahan baku pestisida nasional masih berasal dari impor, terutama dari Tiongkok. Sementara bahan aktif maupun bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi pestisida sangat bergantung pada turunan minyak bumi.
Tidak hanya itu, kemasan pestisida yang umumnya menggunakan plastik HDPE juga mengalami kenaikan harga karena dipengaruhi oleh harga minyak dunia.
Dalam struktur biaya produksi pestisida, bahan aktif menyumbang sekitar 40–60 persen biaya, bahan tambahan 20–35 persen, dan kemasan sekitar 15–20 persen. Sebagian besar komponen tersebut masih bergantung pada impor.
“Semua komponen utama produksi pestisida saat ini terdampak oleh kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah. Saat ini kenaikannya memang masih sekitar lima persen, tetapi jika kondisi berlangsung beberapa bulan ke depan, potensi kenaikan biaya bisa mencapai 20 hingga 30 persen,” jelasnya.
Kenaikan harga produk perlindungan tanaman diperkirakan akan berdampak langsung kepada petani sebagai pengguna utama.
Menurut Midzon, terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, petani tetap membeli pestisida untuk menjaga produksi sehingga biaya budidaya meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga produk pertanian di tingkat konsumen.
