17.1 C
New York

Permintaan Minyak Sawit ke China Diprediksi Makin Suram

Published:

Agrofarm.co.id, Bali- Ryan Chen dari Cargill Investments (China) Limited memaparkan bahwa ekonomi China masih berada dalam tekanan deflasi, dengan deflator PDB yang tetap negatif. Kondisi ini menjaga harga tetap rendah dan membebani konsumsi, termasuk konsumsi minyak nabati.

“Permintaan dalam negeri masih lemah sehingga konsumsi minyak sawit belum menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan dalam waktu dekat,” kata Chen, dalam 21st Indonesia Palm Oil Conference and 2025 Price Outlook (IPOC 2025) yang digelar di Bali.

Ia juga mengungkapkan bahwa ekspor China ke Amerika Serikat terus melemah sepanjang 2025, sementara kepercayaan konsumen dalam negeri belum pulih.

Menurutnya, pelaku industri perlu menyesuaikan strategi karena dinamika perdagangan global, terutama hubungan Tiongkok – AS, akan sangat menentukan arah permintaan.

Chen menambahkan bahwa kapasitas pemrosesan minyak nabati di Tiongkok terus meningkat, sehingga negara tersebut mulai beralih dari peran tradisional sebagai konsumen besar menjadi penyedia dan pengolah untuk ekspor kembali.

Peluang ekspor terbuka lebar untuk produk-produk seperti Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), Sustainable Aviation Fuel (SAF), serta minyak kedelai, selama permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa tetap kuat.

“Tiongkok sedang berubah dari negara yang berfokus pada konsumsi menjadi negara pengolah dan pengekspor kembali,” jelas Chen.

Related articles

Recent articles