20.8 C
New York

Petakan 15 Ribu Lahan dan Verifikasi 4.500 Petani, G T Rubber Thailand dan KOLTIVA Pastikan Rantai Pasok

Published:

Agrofarm.co.id – Thailand, salah satu produsen karet alam terbesar di dunia, tengah hadapi transformasi besar seiring meningkatnya tekanan regulasi dan permintaan pasar akan ketertelusuran dan keberlanjutan. G T Rubber berada di garis depan perubahan ini, dengan menggandeng perusahaan agritech asal Indonesia KOLTIVA untuk menerapkan sistem ketertelusuran dan manajemen risiko yang ketat, sejalan dengan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Kolaborasi ini bertujuan membangun sistem menyeluruh yang mampu merekam, memverifikasi, dan memantau produksi karet dari petani kecil hingga tahap ekspor.

Fragmentasi, Agregasi, dan Tantangan Ketertelusuran

Lebih dari 90% karet alam global diproduksi oleh petani kecil di Asia Tenggara, sebagian besar berada di luar rantai pasok formal dan memiliki hubungan terbatas dengan pabrik pengolah maupun pembeli (SPOTT, 2022). Thailand menjadi produsen terbesar dengan pangsa 34%, disusul Indonesia (26%), Vietnam (8%), Tiongkok (7%), dan India (7%).

Meski sektor ini menopang jutaan mata pencaharian, ekspansinya yang pesat turut mendorong deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta konflik kepemilikan tanah. Rantai distribusi yang terfragmentasi menambah rumitnya rantai pasok, sehingga upaya menerapkan ketertelusuran dan prinsip keberlanjutan menjadi sangat menantang.

Sebuah studi tahun 2023 dari Nature Journal menegaskan urgensi persoalan ini: lebih
dari 4 juta hektare hutan (setara dengan luas negara Swiss) telah dibuka untuk
perkebunan karet sejak 1993, dan setengah dari luasan tersebut terjadi setelah tahun
2000, banyak di antaranya berada di kawasan yang secara ekologis sangat sensitif. Jejak
lingkungan dari sektor ini sangat besar, namun karet masih belum banyak dibahas dalam
wacana global tentang deforestasi.

Seiring perkembangan regulasi perdagangan internasional, kemampuan untuk
memverifikasi asal-usul bahan baku—hingga ke tingkat petani—akan menjadi faktor
penentu bagi eksportir yang ingin tetap mengakses pasar global yang bernilai tinggi.

Infrastruktur Berbasis Data di Tingkat Petani

G T Rubber mendorong ketertelusuran dan manajemen risiko yang lebih baik dengan mengadopsi sistem digital dari KOLTIVA. Sistem ini memverifikasi legalitas lahan, menilai risiko deforestasi, dan menghubungkan data dari tingkat petani langsung ke transaksi sumber pasok. Kumpulan data yang sangat detail ini membentuk kerangka utama kepatuhan G T Rubber, yang memungkinkan pemantauan secara real-time dan pendeteksian risiko secara dini.

Yang tak kalah penting, sistem ini juga mempersiapkan perusahaan memenuhi
persyaratan integrasi dengan sistem informasi Uni Eropa yang akan datang (EU
Information System / EUIS), yang mewajibkan pelaporan geolokasi dan uji tuntas (due
diligence) secara mendalam.

Hingga saat ini, lebih dari 15.000 lahan petani kecil di Thailand telah dipetakan dalam
bentuk poligon, dengan lebih dari 4.500 petani karet telah diverifikasi melalui analisis
geospasial, pemeriksaan hak atas lahan, dan penilaian risiko deforestasi. Seluruh data
yang telah tervalidasi ini terhubung langsung ke transaksi sumber pasok dalam sebuah
Sistem Informasi Manajemen (MIS) terpusat, memungkinkan tim kepatuhan G T Rubber
untuk melacak, menilai, dan merespons risiko secara real-time.

Dirancang agar selaras dengan sistem informasi Uni Eropa yang akan datang (EUIS),
sistem ini mendukung pelacakan geolokasi secara rinci dan pelaporan uji tuntas—dua
komponen utama dalam regulasi EUDR. Dengan mengonsolidasikan proses verifikasi
dan pemantauan dalam satu platform, G T Rubber memperkuat transparansi sekaligus
meningkatkan kesiapan menghadapi dinamika regulasi keberlanjutan global.

“Deforestasi yang terkait dengan komoditas karet sering kali dipandang sebelah mata,
padahal datanya menunjukkan jutaan hektare hutan telah hilang dalam dua dekade
terakhir. Untuk tetap dapat mengakses pasar internasional, kita harus melakukan hal
nyata dan mulai membangun sistem yang menghasilkan data lapangan yang dapat
diverifikasi dan ditindaklanjuti. Hanya melalui data tersebut kita dapat membuktikan apa
yang benar-benar terjadi di lapangan,” ujar Manfred Borer, CEO dan Co-Founder
KOLTIVA dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2025) .

“EUDR dan regulasi serupa bukanlah hambatan sementara namun sekaligus arah masa
depan perdagangan global. Bagi pelaku usaha, kemampuan untuk menunjukkan
ketertelusuran hingga ke tingkat petani kini menjadi bagian penting dari ketahanan
jangka panjang. Ini bukan sekadar soal mematuhi aturan hari ini, tapi memastikan rantai
pasok kita mampu beradaptasi dengan ekspektasi masa depan,” tegasnya.

Tantangan di Tingkat Mitra Rantai Pasok: Pelatihan dan Sistem Segregasi sebagai
Solusi Mitigasi

Mitra rantai pasok sering kali menjadi titik paling rentan dalam upaya kepatuhan, terutama karena beroperasi di wilayah terpencil dengan infrastruktur digital yang terbatas sertaminim pemahaman terhadap tuntutan regulasi baru. Lebih dari 200 mitra rantai pasok dalam jaringan G T Rubber telah mengikuti pelatihan terstruktur melalui program peningkatan kapasitas. Pelatihan ini menggabungkan literasi regulasi dengan penerapan praktis di lapangan, dilengkapi dengan panduan langsung serta evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan untuk mengukur pemahaman mereka terhadap EUDR dan praktik ketertelusuran.

Selain itu, sistem pelabelan disediakan untuk mendukung pemisahan karet yang telah
terverifikasi dan yang belum, serta protokol pengadaan diterapkan guna mencegah
kontaminasi terhadap pasokan yang telah diverifikasi.

“Data petani saja tidak cukup untuk memastikan kepatuhan. Jika mitra rantai pasok
mencampurkan karet yang tidak terverifikasi ke dalam pasokan, maka seluruh produk
beserta kredibilitas sistem ketertelusuran akan dipertanyakan,” ujar Olivier Barents,
Senior Head of Marketing APAC di KOLTIVA.

“Risikonya yaitu pengiriman yang tidak patuh bisa berujung pada sanksi mahal atau penolakan masuk pasar. Karena itu, kami memprioritaskan ketertelusuran tidak hanya di tingkat petani, tetapi juga di antara mitra rantai pasok melalui pelatihan dan alat ketertelusuran yang tepat. Satu pengiriman yang tidak terdokumentasi bisa menutup akses pasar. Tugas kami adalah membekali pemasok dengan sistem yang mampu mendeteksi dan mengatasi risiko ini sebelum berubah menjadi pelanggaran regulasi.”

Membangun Ketertelusuran di Lapangan

Sebuah inisiatif terbaru dari G T Rubber di wilayah selatan Thailand menjadi contoh
konkret dalam membangun rantai pasok karet bebas deforestasi. Program ini disusun
berdasarkan kerangka keterlibatan tiga tingkatan yang dimulai dari penyelarasan
strategis di tingkat korporasi, dilanjutkan dengan pelatihan bagi mitra rantai pasok lokal,
serta pendampingan berkelanjutan bagi petani kecil di wilayah sumber pasok utama.
Pendekatan berlapis ini memperkuat integritas data dan meningkatkan ketertelusuran
pada titik-titik agregasi kritis yang kerap menjadi mata rantai paling lemah dalam
transparansi rantai pasok.

Yang membedakan model ini adalah integrasi berbagai sistem deteksi risiko. Citra satelit,
catatan penggunaan lahan nasional, dan platform peringatan dini deforestasi
digabungkan untuk membentuk profil geospasial dinamis dari wilayah sumber pasok.
Profil ini memungkinkan penilaian risiko yang lebih akurat dan intervensi yang lebih
proaktif.

G T Rubber berencana memperluas inisiatif ketertelusuran ini ke lebih banyak provinsi
pada tahun 2025, dengan target menjangkau setidaknya 10.000 petani kecil hingga 2027
serta meningkatkan porsi karet yang telah diverifikasi dalam total produksinya.
Perusahaan juga terus bekerja sama dengan Koltiva untuk memperkuat kerangka
ketertelusuran, memanfaatkan fitur digital terbaru dan analisis data untuk
mengidentifikasi celah dalam sumber pasok dan memantau kinerja lapangan secara
lebih efektif.

“Kami ingin meningkatkan daya saing untuk jangka panjang,” ujar Tanaphon
Tanunpatcharapol, Managing Director di G T Rubber Company Limited. “Pembeli
sekarang tidak hanya menuntut kualitas namun juga menuntut bukti bahwa bahan baku
dapat ditelusuri dan bebas dari deforestasi. Itulah arah masa depan perdagangan global.” diany

Related articles

Recent articles