20.8 C
New York

Ini Biang Kerok Produktivitas Kelapa Indonesia Rendah

Published:

Agrofarm.co.id, Cibinong- Serangga memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan agroekosistem tanaman perkebunan.

Selain berperan dalam rantai makanan, banyak spesies serangga memberikan manfaat besar seperti membantu penyerbukan, menjadi musuh alami hama, berperan sebagai dekomposer, hingga menjadi bioindikator lingkungan.

Keberadaan serangga tidak hanya menguntungkan secara ekologis, tetapi juga berdampak pada aspek ekonomi, terutama dalam mendukung daya saing produk perkebunan di pasar global yang kini semakin menuntut prinsip traceability (ketertelusuran) dan sustainability (keberlanjutan).

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pentingnya peran serangga dalam sistem budidaya kelapa dan tebu yang berkelanjutan.

Meldy L.A. Hosang, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, mengungkapkan produktivitas kelapa Indonesia masih rendah meski memiliki luas areal mencapai 3,3 juta hektar pada 2024, dengan 90% dikelola petani.

Salah satu penyebabnya adalah serangan hama Sexava serangga nokturnal yang merusak daun, bunga betina, hingga buah kelapa.

“Di Indonesia, terdapat tiga spesies utama yaitu Sexava nubila, Sexava coriacea, dan Sexava karnyi yang banyak ditemukan di wilayah timur. Betina Sexava mampu menghasilkan 50 butir telur, sebagian besar diletakkan di tanah. Kerusakan yang ditimbulkan hama ini memengaruhi hasil panen secara signifikan,” ujar Meldy dalam EstCrops Corner#12: “Serangga dalam Agroekosisten Tanaman Perkebunan” pada Selasa (25/03).

Meldy mengedepankan pentingnya pendekatan pengendalian hayati sebagai alternatif ramah lingkungan. Upaya ini mencakup pemanfaatan parasitoid telur, predator alami seperti semut rang-rang, laba-laba, dan katak hijau, serta penggunaan entomopatogen.

Selain itu, teknik budidaya seperti penanaman tanaman sela—seperti pala, vanili, dan talas—di antara pohon kelapa juga menjadi strategi yang dianjurkan.

“Pengendalian kimia memang telah dilakukan sejak 1930-an, tetapi penggunaannya harus dibatasi karena insektisida berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan,” imbuhnya.

Pengendalian berbasis ekologi tidak bertujuan memusnahkan hama, melainkan menekan populasinya hingga tidak merugikan tanaman.

“Dengan sistem ini, kita dapat menghasilkan produk kelapa yang bebas residu pestisida, lebih sehat, dan ramah lingkungan. Harapannya, petani mendapatkan pendapatan lebih tinggi, lingkungan tetap lestari, dan pengembangan kelapa di Indonesia terus bertumbuh,” kata Meldi.

Related articles

Recent articles