Agrofarm.co.id, Bali- Keanekaragaman komunitas serangga di perkebunan kelapa sawit dipengaruhi oleh praktik pengelolaan yang diterapkan oleh petani.
Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Purnama Hidayat dari IPB University, dalam riset kolaboratif bersama Sinar Mas dan pihak lainnya.
Dalam pemaparannya, Purnama Hidayat menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada dampak berbagai kategori petani terhadap komunitas semut dan kumbang di perkebunan sawit.
“Saya sangat senang dapat berbicara tentang aspek yang jarang dibahas mengenai komunitas serangga,” ujarnya, Kamis (13/2/2025) dalam International Conference on Oil Palm & Environment (ICOPE) 2025 bertema “Oil palm agro-ecological transformation: towards climate- and nature-positive agriculture” atau “Transformasi Agro-Ekologis Kelapa Sawit: Menuju Pertanian yang Ramah Iklim dan Lingkungan”, di Bali Beach Convention, Sanur, Bali.
Kelapa sawit memiliki peran besar dalam perekonomian global dan lokal, dengan sekitar 2 juta rumah tangga di Indonesia terlibat dalam sektor ini.
Sekitar 40 persen industri sawit dikelola oleh petani, yang terbagi dalam tiga kategori utama, yakni pengelolaan penuh, pengelolaan sebagian dengan dukungan pemerintah, dan independen yang mengelola sendiri hingga ke tahap penjualan produk di pasar.
Purnama mengaku, sejatinya penelitiannya akan dilangsungkan pada 2019 lalu. Namun, dikarenakan pandemi Covid-19, maka berhenti, hingga 2022 lalu dilanjutkan kembali.
Metode yang digunakan adalah dengan mengumpulkan semut dan kumbang melalui penempatan jebakan, kemudian menghitung dan menganalisis keberadaannya dalam berbagai kategori pengelolaan perkebunan sawit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam jumlah semut dan kumbang di antara sistem pengelolaan yang berbeda.
Namun, saat dianalisis lebih lanjut berdasarkan kelompok fungsional, ditemukan bahwa populasi kumbang pemangsa lebih rendah di perkebunan petani independen.
Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi hal ini adalah penggunaan herbisida dalam dosis tinggi di wilayah petani independen.
“Saya melihat dosis herbisida yang cukup tinggi di wilayah itu, mereka juga membersihkan area lahan secara intensif, sehingga kompleksitas penutupan tanah berkurang,” ungkap Purnama Hidayat.
Selain itu, rendahnya materi organik di lahan petani independen juga diduga berkontribusi terhadap berkurangnya jumlah kumbang pemangsa.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun jumlah total serangga relatif sama, komposisi spesies kumbang berbeda di antara sistem pengelolaan yang diterapkan petani.
Analisis menggunakan metode Non-Metric Multidimensional Scaling (NMDS) menunjukkan perbedaan spesies kumbang yang cukup jelas antar kategori perkebunan.
Ditemukan bahwa kumbang yang mengkonsumsi jamur lebih banyak ditemukan di sistem tertentu, sementara spesies kumbang lainnya lebih dominan di sistem lain. “Komposisi spesies ini memberikan indikasi bahwa cara pengelolaan petani berpengaruh terhadap komunitas serangga,” tambahnya.
Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengelolaan perkebunan sawit yang lebih berkelanjutan. Purnama Hidayat menyoroti bahwa serangga seperti semut dan kumbang sering dianggap sebagai hama oleh petani, padahal keduanya memiliki peran ekologi yang penting sebagai pemangsa hama alami.
“Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa praktik pengelolaan yang berbeda dari petani memang mempengaruhi keanekaragaman serangga. Ini menjadi informasi berharga dalam perumusan kebijakan pengelolaan hama yang lebih baik,” jelasnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan perkebunan sawit yang lebih ramah lingkungan, dengan mempertimbangkan peran penting komunitas serangga dalam keseimbangan ekosistem. Bantolo
