21.9 C
New York

PATAKA: Program SPHP Belum Berhasil Kendalikan Harga Beras Medium

Published:

Agrofarm.co.id, Jakarta-Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) memaparkan hasil Survei Keragaan Produksi dan Harga Beras Nasional Oktober 2024 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produktivitas padi dari bulan Mei hingga September 2024.

Ferry Sitompul Ketua PATAKA menyebutkan rataan produktivitas padi terendah terjadi di bulan Juni 2024 yaitu 5,63 ton/ha, dan tertinggi di bulan September yaitu 5,93 ton/ha, dengan rataan bulanan dari Mei-September 2024 sebesar 5,79 ton/ha.

Adapun rataan laju harga jual gabah kering panen (GKP) petani mengalami kenaikan sebesar 3,27% per bulan dengan rataan harga jual GKP terendah terjadi di bulan Mei 2024, yaitu sebesar Rp.5.493/kg.

Kemudian tertinggi di bulan September 2024 sebesar Rp.6.248/kg, dengan rataan bulanan dari Mei-September 2024 sebesar Rp.5.901/kg.

Pada bulan Mei-Juli 2024 harga GKP petani berkisar antara Rp. 5.493-5.792/kg, berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp.6.000/kg.

Dengan demikian pada periode Mei-Juli 2024 saatnya pemerintah melakukan penyerapan gabah dalam negeri yang lebih besar melalui Perum Bulog.

“Namun jika dilihat dari data Badan Pangan Nasional (Bapanas) terkait realisasi pengadaan beras dalam negeri, justru mengalami penurunan yang sangat signifikan di periode bulan Mei-Juli 2024,” ungkap dia pada konferensi pers, Senin (14/10/2024).

Sementara hasil survei PATAKA menunjukkan bahwa di periode bulan Agustus sampai September 2024, posisi harga jual GKP di tingkat petani berada di atas HPP yaitu berkisar antara Rp.6.103-6.248/kg. Dengan ini, seharusnya Pemerintah mengurangi penyerapan gabah/beras dalam negeri.

Selain itu, ada beberapa faktor produksi yang disurvei oleh PATAKA diantaranya, biaya benih, pupuk, pestisida dan pengairan, dimana seluruhnya mengalami peningkatan.

Hal ini menandakan adanya kenaikan harga beberapa sarana prasarana produksi pertanian (Saprotan), atau peningkatan kuantitas penggunaan Saprotan yang dibeli selama periode masa tanam, dengan masa panen antara bulan Mei-September 2024.

Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan itu diantaranya adanya gagal tanam, kekeringan dan serangan hama penyakit tanaman.

Hasil survei lainnya yaitu terkait indikator di tingkat pengepul. Ferry menyatakan bahwa rataan harga beli GKP Pengepul per bulan sekitar Rp.5.949/kg, atau tumbuh rata-rata 3,24% per bulan.

Sementara, rataan harga jual GKP pengepul per bulan sekitar Rp.6.420/kg atau tumbuh rata-rata 1,67% per bulan dengan margin atau keuntungan pengepul sekitar 7,99% atau Rp.471/Kg.

Kemudian data menunjukkan bahwa rataan harga GKP yang dibeli pengepul terdapat gap dengan harga jual GKP di tingkat petani, dengan perbedaan (gap) berkisar Rp.48/kg atau 0,83%.

“Perbedaan gap antara harga jual petani dan harga beli pengepul, diduga adanya pihak lain atau perantara (preman gabah) yang mengambil keuntungan dengan jatah kisaran Rp.48/Kg,” kata dia.

Terkait volume beli GKP pengepul memiliki rataan per bulan sekitar 9,71 Ton/Minggu atau tumbuh rata-rata 19,72% per bulan selama Mei-September 2024. Sementara volume jual GKP memiliki rataan per bulan sekitar 13,13 Ton/Minggu, atau tumbuh rata-rata 7,05% per bulan.

Persentase volume gabah yang dijual lebih tinggi dari jumlah gabah yang dibeli rata-rata sebesar 54,11% per bulan. Hal ini menunjukkan adanya pola manajemen stok di tingkat pengepul.

Kemudian hasil survei PATAKA juga menunjukkan bahwa pada musim panen raya Mei-Juni 2024, dan masa panen Agustus-September 2024, rataan volume jual GKP pengepul menurun, karena penggilingan tidak membeli gabah dari pengepul.

Selanjutnya Ferry menunjukkan data hasil survei terkait Volume Beli GKP Setara Beras dan Volume Jual Beras di Tingkat Penggilingan.

Hasil menunjukkan bahwa volume pembelian GKP dan penjualan beras umumnya mengalami tren penurunan dari Mei hingga Juli 2024, dengan pembelian GKP setara beras turun sebesar 46%, dan penjualan beras menurun dari bulan Mei-Juli 2024 sebesar 41%.

Penjualan beras mengikuti pola serupa, turun dari 16,19 ton pada Mei menjadi 8,06 ton pada Juli 2024, dan naik kembali menjadi 10,65 ton pada Agustus 2024. Ini mengindikasikan adanya dinamika pasokan gabah dan permintaan beras.

Kemudian, terdapat kesenjangan antara volume pembelian GKP setara beras dan penjualan beras, dengan rata-rata selisih 33% per bulan.

Hal ini menunjukkan bahwa semua GKP yang dibeli langsung diolah menjadi beras, bahkan mengambil stok yang ada di penggilingan dalam periode yang sama. Faktor-faktor seperti kapasitas produksi dan permintaan pasar dapat memengaruhi kesenjangan ini.

Hasil survey PATAKA menunjukkan bahwa harga beli gabah kering panen (GKP) penggilingan dan harga jual beras mengalami tren kenaikan antara Mei hingga September 2024.

Rata-rata harga beli GKP penggilingan per bulan mencapai Rp.6.540/kg atau naik 3,64% per bulan, dengan harga tertinggi pada September 2024 sebesar Rp6.863/kg.

Sementara harga jual beras meningkat rata-rata Rp.12.640/kg per bulan atau naik 1,5% per bulan, dengan puncaknya di Agustus 2024 sebesar Rp12.967/kg. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan di sepanjang rantai pasok. Adapun margin penggilingan mencapai Rp6.100/kg per bulan atau 48%.

Ferry juga menyampaikan bahwa ada gap antara harga jual GKP pengepul dengan harga beli GKP penggilingan selama Mei-September 2024 sebesar Rp250/kg per bulan.

Perbedaan gap antara harga jual GKP pengepul dan harga beli beli GKP penggilingan, diduga adanya pihak lain atau perantara (preman giling) yang mengambil keuntungan dengan jatah kisaran Rp.250/Kg per bulan, ujar dia.

Selanjutnya hasil survei PATAKA di tingkat pedagang beras menunjukkan bahwa kecenderungan harga beras premium naik dari bulan Juni-Agustus 2024, dari harga Rp.14.199/kg menjadi Rp14.509/kg, dengan laju sekitar 1,90% per bulan, tetapi masih di bawah harga harga eceran tertinggi (HET).

Hal ini menurut Ferry disebabkan karena ketersediaan beras premium kebanyakan ada di pasar modern atau supermarket yang lebih mudah dipantau oleh pemerintah, serta menandakan adanya ketaatan pelaku usaha terhadap regulasi.

Sementara di pedagang beras tradisional, beras jenis premium kebanyakan dipasok dari penggilingan berupa beras curah kualitas premium dan sebagian besar masyarakat lebih memilih beras dengan kualitas medium. Adapun laju harga beras medium Survei PATKA sebesar 2,60% per bulan.

Harga rata-rata beras medium dari bulan Mei-Juli 2024 hasil Survei PATAKA relatif stabil diharga Rp.12.803-12.670/kg, kemudian naik pada bulan Agustus yaitu sebesr Rp.13.165/kg dan di bulan September sebesar Rp.13.570/kg.

Kecenderungan harga beras medium tidak berubah dari bulan Agustus-September 2024, disebabkan oleh suplai GKP dari petani dan beras dari penggilingan masih terjaga, serta pemerintah masih menyalurkan bantuan beras dan melakukan program Gerakan Pangan Murah dari Bapanas.

“Namun harga beras medium hasil Survey PATAKA relatif tidak terkendali, harga masih di atas HET,” ujar dia.

PATAKA juga membandingkan harga beras medium dengan realisasi penyaluran SPHP oleh pemerintah.

“Hasil survei menunjukkan bahwa ternyata beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang merupakan instrumen untuk mengendalikan harga beras medium di pasaran, belum berhasil untuk mengendalikan harga beras medium agar berada di bawah HET,” ungkap Ferry. Bantolo

Related articles

Recent articles