Agrofrm.co.id-Program cetak sawah di Desa Panggung Mulyo, Kecamatan Rawa Pitu, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung yang digagas investor Malaysia mendapat perhatian dari Prof Dr Lukman Gunarto, peneliti Mikrobiologi Tanah di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian Bogor sekaligus penemu hayati AGPI (Agricultural Growth Promoting Inoculant).
Kedatangan Dr Gunarto ke sawah yang siap ditanami mendapat respon yang luar biasa dari para petani Desa Panggung Mulyo, Kecamatan Rawa Pitu, Tulang Bawang Provinsi Lampung mengingat selama ini petani tidak mendapat pendampingi dari petugas penyuluh lapangan ( PPL).
Dihadapan puluhan petani, Dr Lukman memaparkan bagaimana cara menyuburkan tanah pertanian sehingga hasil panen bisa meningkat.
“Ada 3 unsur yang perlu diperhatikan, fisik, kimia, dan biologi. Fisik menyangkut pengolahan tanah, kimiawi berkaitkan dengan pupuk urea, NPK, dan biologi menyangkut kandungan jasad renik yang di dalamnya ada microba, jamur dan bakteri,”ucap Dr Lukman di Desa Pangung Mulyo, Minggu (27/10/2024).

Dr Lukman meminta para petani mulai memperhatikan tiga unsur dalam pengelola lahan pertanian. Biologi tanah harus diperhatikan, dimana sejak tahun 1960 pertanian Indonesia sudah memanfaatkan pupuk urea dan kimia untuk pertanian. Biologi tanah jarang sekali mendapat perhatian.
“Selama 13 tahun saya riset, bagaimana teknologi AGPI bisa dimanfaatkan para petani di Indonesia, karena hayati riset saya untuk kesehatan tanah, yang bisa dipakai berkesenabungan, ramah lingkungan, bukan untuk disemprot di daun,”tandas ahli biologi tanah ini.
Sebelum melakukan penanaman padi, Dr Lukman menyarankan agar tanah disiram dengan campuran pupuk hayati setelah itu baru menanamnya. Dalam 1 hektar sawah memerlukan 6 liter pupuk hayati, dan dilakukan 2 kali penyiraman.
“Hasil panen bisa meningkat, dari yang 5-6 ton per hektar, jika pemakaian pupuk hayati dilakukan dengan benar penen bisa mencapai 9 ton per hektar. Ini sudah dibuktikan BUMN Pangan PT Sanghyang Seri yang di Sukamandi, Subang Jawa Barat bulan September kemarin,”ujar peneliti senior di InsFer (International Nitrogen Efficiency Fertilization) Program, IRRI (Internasional Rice Research Institute) Philipina ini
Dr Lukman juga mengingatkan para petani jangan meninggalkan pupuk NPK atau pupuk urea yang selama ini digunakan. Urea tetap digunakan tapi jangan bersamaan. Kasih jedah 2 hari jika mau mengaplikasikannya.
“Bagaimana juga urea dan NPK membantu meningkatkan efisiensi pemupukan,”imbuhnya.irsa
