16.2 C
New York

Samakan Persepsi untuk Keberlanjutan Program Biodiesel

Published:

Agrofarm.co.id, Jakarta-Kepala Divisi Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Achmad Mulizal Sutawijaya menjelaskan perlu adanya persamaan persepsi terhadap program biodiesel.

“Kita harus memahami kembali bahwa adanya biodiesel ini program sangat segimental mulai dari pendanaannya, aneka edukasi dari BPDPKS sendiri dengan Kementerian ATR, melalui mandatori proses juga menggunakan kofindo dan multiplier, dan inilah baru kita bisa sampaikan ke forum respect ini , karena kami masih banyak mendapat beberapa miss informasi terkait biodiesel,” ungkap Maulizal.

Focuss Group Discussion (FGD) yang diinisiasi oleh sawitsetara yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). FGD ini bertujuan mengedukasi para peserta dan mahasiswa untuk menyamakan persepsi tentang biodiesel. Dimana acara tersebut dilaksanakan di Jakarta pada Kamis (18/7/2024).

Maulizal menyampaikan terutama masi banyak mengatakan biodiesel ini hanya untuk korporasi, tidak bermanfaat langsung bagi petani swadaya.

“Memang bagi mahasiswa yang hadir disini bisa menjadi ambassador karena mereka generasi milineal ini sangat cepat menyebarkan informasi pada sesama mereka ini,” tutur Maulizal.

“Dan kami harapkan ini terus ditingkatkan kegiatan seperti ini, karena bagi kami di BPDPKS semakin banyak yang bisa direformasikan atau bisa dilakukan, kami bisa membuat catatan yang baik juga terutama melawan black campaign untuk kelapa sawit Indonesia,” tambah Maulizal.

Sementara itu, Head Of Sustainability Division Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Rapolo Hutabarat menyoroti urgensi penanganan permasalahan di sektor hulu sawit sebagai kunci keberlanjutan program biodiesel.

Rapolo menegaskankan pentingnya penyelesaian masalah di sektor ini karena menjadi penentu ketersediaan bahan baku.

“Permasalahan ini memang harus segera diselesaikan oleh negeri ini, terutama dari sisi hulu. Kita tahu bahwa banyak yang harus dikerjakan di sektor hulu, terutama karena inilah yang menentukan ada tidak bahan bakunya,” kata Rapolo.

Kemudian Rapolo juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program blending biofuel, seperti B40 dan kemungkinan peningkatan lebih lanjut ke B45 atau B50.

Menurutnya, keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku di sektor hulu.

“Pandangan kami dari Aprobi bahwa bahan baku itu menjadi salah satu kunci untuk dilakukan hilirisasi, baik dari sisi hilirisasi pangan, energi, dan kebutuhan lainnya untuk oleokimia,” ujar Rapolo.

APROBI berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan permasalahan di sektor hulu agar Indonesia dapat mencapai cita-cita besar dalam industri sawit, termasuk target produksi CPO sebesar 100 juta ton pada tahun 2045.

“Kami dari APROBI sangat mendukung program dari Pemerintah kebijakan dari Kementerian dan lembaga terkait,” ujar Rapolo.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr.Rino Afrino, ST., MM menambahkan perspektifnya tentang tantangan di sektor hulu sawit.

“Sebenarnya itu kan teka-teki, kalau Anda ingin B40 atau Anda ingin B50 berarti Anda butuh bahan baku lebih banyak. Itu matematika seperti itu,” kata Rino. Bantolo

Related articles

Recent articles