Agrofarm.co.id, Jakarta-Gabungan Perusaan Perkebunan Indonesia (GPPI) kembali menggelar International Conference and Exhibition on Palm Oil (ICEPO) ke-8 tahun ini, bertempat di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan pada 21-22 Mei 2024.
Delima Hasri Darmawan, Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) mengatakan bahwa ICEPO ke 8 ini adalah reborn sejak terakhir digelar pada 2017 lalu. Delima mengaku ICEPO merupakan komitmen Gabungan Perusahaan Perkebunana Indonesia (GPPI) pada program perkebunan sawit di Indonesia.
“ICEPO dimulai pada 2010 dan terakhir digelar pada 2017. Sempat vakum karena pandemi dan baru pada 2024 ini kita laksanakan lagi, jadi ini kita menyebutnya ICEPO Reborn,” ungkap dia, Selasa (21/5/2024).
“Termasuk isu sustainability, isu yang sedang hot sekarang terkait carbon trading dan zero emission. Yang paling penting dalam acara-acara ICEPO isu yang kita angkat adalah isu yang membuat stakeholder , petani sawit tetap menjaga planet untuk kepetingan manusia dan mereka juga harus profit,” tambahnya.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Prayudi Syamsuri dalam sambutannya mengatakan, kelapa sawit merupakan satu-satunya komoditas Indonesia yang mendunia karena sekitar 30 persen kebutuhan dunia dipenuhi dari sawit kita.
“Suatu perjuangan yang panjang sudah lebih dari 25 tahun kita menampaki bagaimana perkembangan sawit kita yang sebelumnya di bawah Malaysia. Sekarang kita mengalahkan Negeri Jiran dari sisi produksinya, sehingga kita melihat potensi sawit ini luar biasa,” jelas Prayudi.
Di satu sisi tantangan saat ini, menurut dia, Indonesia menjaga sustainability pasar minyak sawit. Sebagai negara produsen, Indonesia menghadapi berbagai macam hambatan pasar dunia, salah satunya kebijkan EUDR di Uni Eropa.
“Oleh sebab itu, pemerintah harus mempersiapkan apa yang diminta oleh pasar dan ini menjadi tantangan kita,” ujar dia.
Pertama, sustainability (keberlanjutan) pekebun sawit, karena itu pemerintah terus mendorong sistem data base pekebun.
“Yang pertama sistem informasi perizinan perkebunan (Siperibun). Dan Alhamdulilah data base siperibun kita 2.140 perusahaan sawit. Itu akan terus di update oleh perusahaan perkebunan, dan kita berharap perusahaan selalu tertib melakukan pelaporan kegiatan perusahaanya,” papar Prayudi.
Kedua, perbaikan pendataan pekebun sawit yang mencapai 2,5 juta pekebun dan menguasai sekitar 6 juta ha lahan sawit.
“By name by addres sedang kita perbaiki yang kita sebut dengan surat tanda daftar budidaya. Dalam kesempatan ini kami berharap mendapat dukungan dari seluruh stakeholder dilakukan pendataan pekebun. Dan kami dari sisi pemerintah sedang melakukan penyederhanaan sistem pendataan tersebut,” ungkapnya.
Ketiga, traceability atau ketertelusuran pemerintah sedang menyusun Dasbor Data Nasional. “Ini diperkirakan bulan September sudah bisa dimanfaatkan oleh perusahaan untuk melakukan sistem pemasaran atau perdagangan kelapa sawit baik CPO maupun produk turunannya,” jelas dia.
Keempat, melakukan penguatan serifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). “Kita sedang melakukan proses revisi Perpres 44, juga Permentan 38 sedang kami lakukan proses revisi untuk penyederhanaan sistem ISPO tanpa melepas prinsip-prinsip yang sudah kita kenal selama ini,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, pihaknya sedang mendorong perkebunan kelapa sawit bisa masuk bagian sistem pasar karbon. Bantolo
