Agrofarm.co.id, Jakarta- Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan terkait urgensi swasembada gula di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin meningkat.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong kompleksitas industri makanan. Kondisi tersebut akan berdampak pada semakin besarnya pasar komoditas gula.
Menurutnya, dalam hal ini Presiden RI sudah mengambil posisi dengan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel). Kebijakan ini menunjukkan komitmen dari pemerintah untuk serius mewujudkan swasembada.
Dalam kebijakan tersebut, secara jelas pemerintah menetapkan target yang harus dicapai. Dari mulai jumlah lahan yang harus terus meningkat, rendemen yang terus naik dihitung dari 7, 8, dan 11 persen. Selanjutnya, Menteri Erick mengajak seluruh stakeholder gula nasional saling berkolaborasi mewujudkan swasembada gula di tahun 2030, dengan roadmap telah disepakati bersama.
Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi dalam penyampaiannya menjelaskan mengenai kondisi stok dan harga gula serta dukungannya terhadap percepatan swasembada gula. Terkait stock, menurutnya, berdasarkan prognosa neraca pangan periode Januari-Desember 2023, ketersediaan gula diproyeksikan cukup dan aman hingga akhir tahun.
NFA juga saat ini tetap fokus untuk melakukan stabilisasi harga gula. Per tanggal 11 Desember 2023, harga gula Indonesia rata-rata mencapai angka Rp. 17.331 per kg. Langkah stabilisasi terus dilakukan melalui harga acuan pembelian dan penjualan gula yang pembahasan dan penetapannya melibatkan stakeholders gula nasional dari hulu hingga hilir.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif AGI Budi Hidayat mengatakan, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan peningkatan pertumbuhan ekonomi maka konsumsi gula akan terus tumbuh. Saat ini diperkirakan total konsumsi rumah tangga dan industri mencapai 7 juta ton sedangkan produksi dalam negeri hanya dapat dipenuhi dari gula eks tebu yang berjumlah 2,27 juta ton di tahun 2023 ini.
Untuk itu, pihaknya merespon positif langkah pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 40 tahun 2023. Beleid tersebut menunjukkan komitmen dan tekad pemerintah untuk mencapai swasembada gula konsumsi di tahun 2028 dan swasembada gula total (Gula konsumsi dan industri) pada tahun 2030.
“Kebijakannya sudah ada, sekarang proses menuju ke sana yang harus dijalankan dan dikawal bersama. Aksi dan kolaborasi bersama antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi dan peneliti, asosiasi, serta stakeholder lainnya menjadi faktor penentu. Semua harus seiring sejalan dalam memperkuat ekosistem gula nasional,” ujar dia dalam acara National Sugar Summit (NSS) 2023 di Waskita Rajawali Tower (WRT), Jakarta, Rabu (13/12/2023).
Perpres tersebut, tambah Budi, juga menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh entitas pergulaan nasional.
“Komunitas pergulaan khususnya para pelaku industri selaku produsen bersama petani tebu ditantang untuk bisa ikut berperan menyukseskan Perpres tersebut, dengan meningkatkan daya saing ekosistem industri gula, khususnya dalam produktivitas tanaman tebu dan efisiensi PG,” jelas dia.
Dalam upaya menuju swasembada gula, Budi sependapat, bahwa salah satu instrumen yang perlu diperkuat adalah penggunaan teknologi tinggi.
“Teknologi sangat berperan untuk meningkatkan kinerja produksi gula maupun untuk pengambilan keputusan bisnis lainnya. Untuk itu tema yang dipilih dalam NSS 2023 kali ini sangat relevan, yaitu Pemanfaatan Agro-Teknologi Unggul dalam Memacu Tercapainya Swasembada Gula,” ungkap dia. Bantolo
