Agrofarm.co.id, Palembang-PT Wilmar Padi Indonesia menargetkan kemitraan dengan petani melalui Farmer Engagement Program (FEP) seluas 20.000 hektare (ha) di tahun 2024.
Adapun lokasi kemitraan petani WPI saat ini mencakup : Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Serang, Kuala Tanjung Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.
Program ini dimulai sejak musim tanam II 2021 dengan luas lahan kemitraan 141 ha. Pada musim tanam I (November 2022-Februari 2023), jumlah petani peserta FEP mencapai 2.302 orang dengan luas lahan 2.815 ha.
Rice Business Head PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) Saronto mengungkapkan, tahun ini perusahaan menargetkan kemitraan melalui FEP meningkat menjadi 10.000 ha. Luasan itu naik signifikan dari realisasi kemitraan tahun lalu yang baru 3.366 ha.
“Tahun depan WPI menargetkan 20.000 ha kemitaan dengan petani,” ujar Saronto usai diskusi Bersama Petani Kemitraan di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, Rabu (14/6/2023).
Dalam menjalankan bisnis Wilmar Padi Indonesia mempunyai tiga misi. Pertama, perusahaan ingin menngkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia yakni melalui peningkatan produktivitas lahan. “Awalnya produktivitas padi 4 ton per ha naik menjadi 6 ton per ha. Kita punya mimpi 1 ha produksi 10 ton padi karena di beberapa lokasi bisa dapat segitu,” jelas Saronto..
Kedua, harga gabah yang baik karena selama ini perusahaan membeli gabah petani dengan harga wajar atau fair. “Kia tidak mau petani-petani akhirnya beralih dari tanam padi menjadi tanaman lain seperti kelapa sawit,” tandas dia.
Saronto mengungkapkan, Indonesia bisa swasembada pangan utamanya padi. “Jangan sampai akhirnya kita impor beras dan saying seekali kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk meningkatkan produksi dalam negeri,” jelas dia.
Ketiga, Wilmar berharap kerjasama kemitraan dengan petani ini bisa jangka anjang. “Kerjasama ini bukan sekali atau dua kali, gabah petani bisa masuk ke pabrik kami. Petani bisa sejahtera dan Wilmar mendapatkan keuntungan,” ungkap dia.
Dalam program FEP , perusahaan memberikan agri input seperti pupuk, bibit dan pestisida. “Kita berharap produktivitas padi meningkat dan harga menjadi lebih baik. Kerjasama ini tidak mencari untung karena ini program Community Development atau CSR Wilmar kepada petani,” terang Saronto.
Menurut dia, perusahaan memperoleh keuntungan dari mengolah gabah menjadi beras. “Beras yang kita hasilkan premium, dengan merek Sania, Fortune, Sawah Hijau dan Sawah Panen,” kata dia.
Dengan model kemitraan ini, lanjutnya, produksi padi petani bisa meningkat minimal 1 ton per ha. “Ini banyak yang berhasil karena mereka mengikuti saran Tim Agronomi WPI. Dengan produksi 1 ton dan rata-rata harga gabah Rp5.000 per kilogram (kg), maka ada tambahan pendapatan Rp5 juta. Apalagi produksi naik 2 ton, bisa mencapai Rp10 juta per ha,” ungkap Saronto.
Dia mengungkapkan, untuk meningkatakn produksi itu tidak sulit karena berdasarkan pengalaman di beberapa lokasi yang bagus bisa menghasilkan gabah kering paen (GKG) 6 ton hingga 7 ton per ha.
“Kalau 6 ton setara 6.000 kg dikalikan harga Rp5.00 per kg, petani memperoleh Rp30 juta per ha dalam satu musim tanam. Semantara itu, ongkos tanam rata-rata sebesar Rp12 juta per ha,” kata Saronto. Bantolo
