22.6 C
New York

Setop Ekspor Bahan Mentah, Industri Smelter Berperan Pacu Nilai Tambah

Published:

Agrofarm.co.id-Kementerian Perindustrian terus memacu tumbuhnya industri pengolahan dan pemurnian (smelter) karena sejalan dengan kebijakan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Langkah strategis ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, bahwa pemerintah akan menghentikan ekspor bahan mentah minerba secara bertahap.

Bapak Presiden Jokowi menekankan, kita akan setop ekspor bahan mentah nikel, kemudian tahun depan untuk bauksit, selanjutnya tembaga, emas, dan timah. Artinya, kita harus mendirikan industri smelternya di tanah air dalam rangka meningkatan nilai tambah raw material tersebut, kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (28/12/2021).

Kemarin, Senin (27/12), Kepala Negara didampingi sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menperin Agus meresmikan pabrik smelter bijih nikel PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) yang berlokasi di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Acara peresemian tersebut digelar di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Menperin menjelaskan, PTGNI merupakan industri smelter yang akan menghasilkan feronikel dengan kapasitas produksi mencapai 1,8jutatonper tahun.Perusahaan inimemberikan nilai tambah yang tidak sedikit, dari bijih nikel yang diolah menjadi feronikel, nilai tambahnya meningkat sebesar 14 kali lipat. Apabila dari bijih nikel diolah menjadi billet stainless steel, nilai tambahnya meningkat 19 kali lipat.

Oleh karenanya, dengan penambahan investasi oleh PT GNI ini, program hilirisasi mineral berbasis sumber daya alamdi tanah airbisasemakin cepat pencapaiannya. Hal ini melengkapi lini produksi yang dilakukan oleh pabriksmelter PT Obsidian Stainless Steel di Konawe, Sulawesi Tenggara, papar Agus.

PT Obsidian Stainless Steel merupakan industri smelter penghasil feronikeldengan kapasitas sebesar1,2jutatonper tahun,danmemproduksibillet stainless steeldengan kapasitas 1jutatonper tahun. Selain itu, terdapat PT Virtue Dragon Nickel Industry, yangjuga merupakan pabrik smelter penghasil feronikel dengan kapasitas mencapai1jutatonper tahun.

PT GNI, PT Obsidian Stainless Steel, PT Virtue Dragon Nickel Industry, merupakan satu group yang telah dan akan menjadi bagian dari rencana besar pemerintah Indonesia untuk mendorong hilirisasi industri dalam peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri, jelas Menperin.

Total investasi dari ketiga industri smelter tersebutmencapaiUSD8 miliar, dengan target penyerapan tenaga kerja sebanyak27 ribu orang. Dari perusahaan yang beroperasi, sudahmampu menyumbangkepada penerimaan negara berupa pajak sebesar Rp1,03 triliun sejaktahun 2019 hingga 2021.

Secara keseluruhan, nilai realisasi investasi pabrik smelter nikel yang ada di Indonesia sampai saat ini sudah menembus USD15,7 miliar. Selanjutnya, ekspor produk feronikel setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini memberikan dampak positif terhadap penambahan devisa.

Pada tahun 2020, ekspor feronikel mencapai USD4,7 miliar, dan pada periode Januari hingga Oktober 2021 tercatat sebesar USD5,6 miliar, sebutnya. Merujuk data World Top Export, Indonesia menempati peringkatke-1diduniasebagai negara pengeksporproduk berbasis nikel (stainless steel slab, stainless billetdan stainless steel coil), dengan total ekspor senilai USD1,63 miliar pada tahun 2020.

Lanjut Agus, keberhasilandari kebijakan hilirisasi industri ini juga berkontribusi pada peningkatan serapan jumlah tenaga kerja. Selain itu, berkembangnya industri smelter di dalam negeri,memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan wilayah setempat yang berujung padapeningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai ilustrasi, kalau biasanya Kabupaten Konawe ini pertumbuhan ekonominya sekitar 5-6% sebelum ada investasi datang, selama dua tahun terakhir ini pertumbuhannya sudah di angka belasan persen, ungkapnya.

Efek positif yang luas dari aktivitas industri tersebut, bahkan mampu mengurangi angka kemiskinan. Hal ini membuktikan adanya kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dengan masyarakat guna membawa kemajuan bersama, termasuk tumbuhnyawirausahadilingkungan pabrik serta dapat meningkatkan infrastruktur sosialyang dibutuhkan masyarakat, imbuh Menperin.

Sementara itu, Direktur Utama PT GNI Wisma Bharuna mengatakan, saat ini di Indonesia sudah muncul beragam produk turunan dari stainless steel, yang antara lain digunakan untuk memproduksi panci, sendok, dan sebagainya. Ia berharap, dengan adanya hilirisasi, semua produk bisa didapatkan di dalam negeri, akan ada alih teknologi, dan semuanya bisa menyejahterakan rakyat.

Segala macam itu harus dari sini semua sehingga sudah tidak lagi ke luar negeri, semuanya dipakai untuk kita, barangnya barang kita, kemudian nanti untuk menyejahterakan semuanya. Nanti ada alih teknologinya, metalurginya, anak-anak lebih pintar, semua lapangan pekerjaan ya semua Indonesia kaya, semua ada di sini, ujar Wisma. irsa

Related articles

Recent articles