16.9 C
New York

KJA Danau Toba Beri Multiplier Effect Ekonomi Sumatera Utara

Published:

Agrofarm.co.id-Keramba jaring apung (KJA) Danau Toba memberikan multiplier effect yang besar terhadap perekonomian Sumatera Utara. Perputaran uang pada usaha ini diperkirakan mencapai Rp 4 triliun per tahun.

Ketua Assosiasi Dearma Haranggaol Toba, Pieter Damanik mengungkapkan berkat adanya KJA kesejahteraan masyarakat sekitar Danau Toba menjadi meningkat. “Upah di atas UMR kabupaten dan disni bisa dikombinasi antara usaha KJA dengan pariwisata lokal,” ujar dia dalam seminar online bertema Budidaya Perikanan Berkelanjutan di Danau Toba Penopang Perekonomian Daerah, Kamis (11/11/2021).

Pieter menyebutkan, penjualan ikan rata-rata 40-50 ton per hari, pakan 70-80 ton per hari dan bibit ikan 200.000-225.000 ekor per hari. “Perputaran uang dari ketiga kegiatan ini sekitar Rp 2 miliar per hari,” beber dia.

Menurut dia, usaha ini memberikan pendapatan yang sangat baik kepada masyarakat. “Sehingga masyarakat bisa mengirim anak-anaknya kuliah diberbagai universitas di Indonesia,” kata Pieter.

Dia memperkirakan, perputaran uang sekitar Danau Toba dari bisnis ikan sekitar Rp 4 triliun per tahun. Kontribusi “KJA terhadap perekonomian kita sangat baik dan pemerintah mendapatkan pajak dari situ,” jelas Pieter.

Peneliti Care IPB University, Dahri Tanjung menambahkan, KJA merupakan usaha utama masyarakat di beberapa desa di pinggir Danau Toba sejak 1990an.

Bahkan, kata dia, ada salah satu desa pinggir Danau Toba, tepatnya di Haranggaol masyarakatnya menjadi orang kaya baru. “Ada yang mempunyai truk, mobil Innova, Fortuner hingga Alphard. Ini suatu kegiatan bisnis yang tidak disentuh oleh pemerintah dan bisa mensejahterakan masyaraat,” ujar Dahri.

Dia mengungkapkan, nilai ekspor ikan dari Sumatera Utara sekitar Rp 1,5 triliun per tahun. Adapun negara tujuan ekspor ke Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Perancis dan negara lain.

“KJA Danau Toba memberikan multiplier effect yang besar terhadap perekonomian Suatera Utara. KJA ini datang, kemudian muncul bisnis-bisnis lain seperti warung makan, Homestay aau penginapan hingga pertokoan,” ungkap Dahri.

Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Kosmas Harefa mengatakan, keberadaan KJA Danau Toba perlu diatur supaya ada seimbang antara aspek ekosistem dan ekonomi.

“Ini harus diatur karena keseimbangan ekosistem dan kualitas air Danau Toba menjadi prioritas. Kita sudah sepakat bahwa Danau Toba adalah sebuah destinasi pariwisara super prioritas,” ujar Kosmas.

Menurut dia, itu bukan alasan untuk terus mengeksplorasi habis-habisan Danau Toba, sehingga airnya tidak bisa dipertahankan kualitasnya. “Untuk itu, harus diatur budidaya perikanan di kawasan Danau ini, supaya ada keseimbangan kepentinga yang kita inginkan,” ungkap Kosmas.

Dia meminta budiadaya perikanan di KJA dapat menjadi nilai tambah terhadap pengelolan Danau Toba sebagai sebuah destinasi pariwisata super prioritas. “Oleh sebab itu, tidak ada jalan harus dikontrol dan dikelola agar tidak terjadi eksplorasi tanpa memperhatikan ekosistem Danau Toba,” jelas Kosmas. Bantolo

Related articles

Recent articles