17.1 C
New York

Produksi Defisit, Harga Jagung Menjulang Tinggi

Published:

Agrofarm.co.id-Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai tingginya harga jagung akibat pasokan mengalami defisit. Solusinya pemerintah menunjuk Perum Bulog melakukan pengadaan jagung dalam negeri sebanyak 30.000 ton.

Merujuk Data Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Neraca Produksi dan Kebutuhan Jagung Tahun 2021 disebutkan kebutuhan jagung nasional mencapai 15.842.176 ton dan prognosa produksi sebesar 23.063.777 ton. Alhasil tahun ini ada surplus jagung sekitar 1.190.423 ton.

“Namun dalam neraca itu, sejak Mei 2021 memang ada defisit jagung. Jadi penggunaan per bulan itu dari neraca yang dibuat terjadi defisit dari bulan Mei, meskipun totalnya sepanjang 2021 terjadi surplus 1,1 juta ton,” ujar Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Isy Karim pada Webinar Pataka bertema “Tersandung Data Jagung”, Kamis (30/9/2021).

Hal ini seiring dengan pergerakan harga jagung. “Pergerakan harga yang kami pantau di dalam negeri dan luar ngeri senada mengalami kenaikan dari Januari 2021,” jelas Karim.

Dia mengungkapkan bahwa harga jagung dalam negeri cenderung naik di atas harga acuan pemerintah karena berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 07 Tahun 2020 harga jagung di tingat peternak dipatok Rp4.500 per kilogram (kg) dengan kadar air 15 persen.

“Ternyata harga jagung di peternak terus mengalami kenaikan, bahkan hingga Agustus ini kenaikannya sampai Rp5.800 per kg-Rp6.000 per kg dan ini tentunya memberatkan buat peternak mandiri. Ada pukulan telak peternak karena harga ayam justru naik turun dan harga telur menurun,” ungkap dia.

Padahal, harga jagung itu berkontribusi sebeasr 60 persen terhadap pakan ternak. “Ini sungguh-sungguh meberatkan peternak,” tandas dia.

Kemendag pada Mei tahun ini sudah mencoba mengusulkan kepada Menteri Kordinator Perekonomi untuk dilakukan stabilisasi harga. Mekanismenya sesuai Perpres 48 tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perusahaan Umum (Perum) Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional, dalam hal ini terkait stabilisasi jagung, harus ditetapkan melalui rakortas.

“Di tanggal 25 Mei ini kami berkirim surat karena melihat pergerakan harga jagung sudah merangkak naik. Dengan meminta melakukan rakortas untuk pengaadaan jagung pakan pemerintah guna membantu peternak mandiri,” jelas dia.

Sementara itu, kebutuhan jagung sebanyak 859.500 ton per bulan. Kebutuhan tersebut meliputi GPMT 787.500 ton dan sisanya 72.000 ton untuk peternak mandiri.

Untuk itu, pemerintah memutuskan pengadaan jagung dalam negeri sebanyak 30.000 ton oleh Perum Bulog. “Jagung tersebut akan didistribusikan ke peternak mandiri atau koperasi seharga Rp4.500 per kg,” kata Karim.

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto mengungkapkan, puncak produksi jagung pada Februari dan Maret, pasokan tinggi dan harga rendah. “Namun mulai bulan April produksi mulai turun dan memang ada panen Juni-Juli, tapi jumlahnya sedikit,” ujar dia.

Oleh sebab itu, pada saat panen bulan Februari-Maret itu harus ada yang menyerap atau menampung jagung untuk stabilisasi harga di tingkat produsen. “Sehingga petani mendapatkan jaminan harga sesuai acuan dan menumbuhkan stok untuk menyiapkan cadangan jagung pemerintah yang akan kita salurkan pada bulan tidak panenyakni Agustus hingga Oktober,” ungkap dia.

Perum Bulog mememperoleh penugasan dalam pengadaan jagung dalam negeri sebanyak 30.000 ton. “Ini akan kita salurkan ke peternak dengan harga Rp4.500 per kg,” ujar dia.

Ali Usman, Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) menambahkan, Polemik harga jagung tidak lepas dari sengkarut data jagung yang disajikan oleh Kementan. Sebab data jagung tahun 2018 2021 stok akhir (ending stock) untuk tahun sebelumnya dan stok awal (beginning stok) tahun berikutnya selalu tidak sama.

“Bahkan beginning stok di awal tahun selalu tidak sama. Karena itu, perlunya validasi data prognosa jagung. Karena data prognosa jagung yang kurang valid dapat menyebabkan kebijakan pemerintah yang keliru,” ungkap dia. Bantolo

Related articles

Recent articles