16 C
New York

Moposad dan Moduduran: Warisan Nenek Moyang Demi Masa Depan Bangsa

Published:

Agrofarm.co.id-Pancasila merupakan ideologi yang dianut oleh bangsa Indonesia. Adapun eksistensi dari Pancasila sendiri terlahir karena adanya perjuangan keras yang dilakukan oleh para pahlawan kita. Sebagai generasi penerus, maka sudah seharusnya bagi kita untuk terus mempertahankan tujuan dari dibentuknya Pancasila. Sebagaimana kita tahu, terdapat 5 sila dalam Pancasila yang telah berulang kali kita ucapkan ketika kita menduduki bangku SD, SMP, SMA, maupun saat kita kuliah nanti.

Namun, seringkali kita melewatkan esensi dari Pancasila sendiri. Sebenarnya, 5 sila dalam Pancasila merupakan nilai yang tidak terpisahkan dan bersinergi antara satu dengan yang lainnya. Terdapat beberapa nilai yang terlahir dari adanya sinergi antara 5 sila dalam Pancasila, salah satunya merupakan tolong-menolong.

Tolong-menolong merupakan jati diri dari bangsa Indonesia. Sebagai makhluk sosial, sudah sepantasnya bagi kita untuk saling menolong sesama kita. Nilai tolong-menolong salah satunya dapat dilihat dalam sila ke-3 dari Pancasila, yang menjelaskan bahwa segala upaya yang menuju kepada persatuan Indonesia adalah hal yang harus diadopsi oleh seluruh rakyat Indonesia.

Tentu untuk mencapai persatuan tersebut, masyarakat Indonesia perlu untuk saling berinteraksi dengan sesamanya, menjalin hubungan yang baik, serta harus ringan tangan untuk menolong sesama kita yang membutuhkan pertolongan kita.

Sebenarnya, apakah nilai tolong-menolong yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang baru bagi bangsa Indonesia sendiri, atau sebenarnya nilai ini diadopsi memang dari kebiasaan yang telah ada sebelumnya. Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat ditemukan melalui penelusuran kita terhadap kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia, salah satunya merupakan Moposad dan Moduduran. Moposad dan Moduduran merupakan kebudayaan yang berasal dari wilayah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Adapun kebudayaan yang mengajarkan tolong-menolong ini tidak diketahui bagaimana sejarah terbentuknya. Namun, pada tahun 1904, W.Dunnerbier menemukan bahwa masyarakat Bolaang Mongondow selalu menolong warga setempat yang hendak melaksanakan upacara pernikahan.

Adapun bentuk dari pertolongan tersebut misalnya melalui persediaan bahan baku dan juga pengolahan makanan untuk konsumsi pada saat upacara berlangsung, lalu juga pada saat mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan untuk upacara pernikahan, dsb. Namun, pada masa itu belum dikenal kebudayaan Moposad dan Moduduran, melainkan terdapat istilah lain untuk tolong-menolong pada setiap upacara pernikahan.

Kebudayaan Moposad dan Moduduran sendiri bagi masyarakat Bolaang Mongondow, biasanya diimplementasikan dalam aspek pertanian, dimulai dari menabur bibit tanaman pertanian, mengairi sawah, sampai dengan melakukan panen terhadap hasil pertanian tersebut.

Namun, Moposad dan Moduduran memiliki makna lebih luas dari itu. Adapun hal tersebut dapat dijumpai dari ajaran Moposad dan Moduduran yang mengajarkan bahwa masyarakat Bolaang Mongondow harus selalu membalas setiap pertolongan yang diberikan, serta memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, dan terdapat sanksi apabila terjadi pelanggaran terhadap ajaran tersebut.

Ajaran atau esensi sesungguhnya dari Moposad dan Moduduran pada dasarnya adalah bahwa kita sebagai makhluk sosial, tidak boleh berhenti untuk menolong sesama kita, demi mencapai perkembangan kolektif. Dalam kebudayaan ini, yang menjadi inti adalah kepentingan masyarakat luas diatas kepentingan pribadi.

Dalam masyarakat Bolaang Mongondow, terdapat suatu pepatah yang merupakan titipan dari leluhur, yang berbunyi Dika Koliongan In Utatmu, yang memiliki makna bahwa saudara tidak akan meninggalkan sesama saudara. Implementasi pepatah tersebut dengan kehidupan masyarakat saat ini adalah, bahwa kita harus selalu menolong sesama kita, walaupun mereka memiliki latar belakang budaya, ekonomi, dan agama yang berbeda dengan kita, namun kita harus melihat bahwa mereka adalah saudara sebangsa kita, dimana kita bersama-sama menanggung nasib yang sama dengan mereka, yaitu untuk mewujudkan persatuan bangsa Indonesia.

Melalui penjelasan diatas, sekiranya dapat menjawab pertanyaan mengenai asal-usul dari nilai tolong-menolong sendiri. Sebenarnya, tidak hanya kebudayaan Moposad dan Moduduran saja yang mengajarkan tentang tolong-menolong, melainkan masih ada ratusan bahkan ribuan kebudayaan lainnya. Oleh sebab itu, maka Pancasila sebenarnya merupakan jati diri dari bangsa Indonesia, karena telah menyatukan berbagai macam kebudayaan yang ada di Indonesia.

Penulis: Charles Tonagamas, Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya, Jurusan International Business Law 6A

Related articles

Recent articles