Agrofarm.co.id-Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, juga seiring kemajuan teknologi, industri pengemasan memegang perananpentingdalam meningkatkan daya saing produk. Sebab, pengemasan tidak bisa dipisahkan dari prosesindustri secara umum.
Dengan meningkatnya industrialisasi yang mulaimelangkah ke arah digitalisasi, industri pengemasan dituntut untuk bisa bergeliat lebih cepat lagi. Tentunya yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan tren masa kini, kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka(IKMA) Kementerian Perindustrian,Gati Wibawaningsihdi Jakarta, Sabtu (24/3/2021).
Dirjen IKMA menyampaikan, kemasan menjadi aspek pentingdalammeningkatkanbrandingproduk nasional, termasukuntuk warna dan tulisannya.Jadi, ketika masuk pasar, barang tersebut harus mudah dilihat dan dijual, tuturnya.
Untuk itu,Kemenperinsedang mengembangkan platform digitalKlinik Desain Merek Kemas(KDMK)yang dapat menjadi pendorong bagi peningkatan mutu dan fungsi kemasan, sehinggaproduk industri lokal dapat unggul dalam persaingan global. Platform ini akan mengintegrasikan seluruh informasi yang ada di rumah kemasan dengan menjadi KDMK sebagai hub, jelasnya.
Gati berharap pengembangan platform digitalKDMK mendapat dukungan dari pemerintah daerah, asosiasi, dan perguruan tinggi. Kamitelahmelihat rumah kemasan yang dimiliki oleh Pemerintah ProvinsiJawa Tengah. Ini dapat menjadi benchmark terkait proses bisnis pada rumah kemasan, terutama dalam hal pengelolaan dan kesiapan sumber daya manusianya, ungkapnya.
Balai Industri Kreatif Digital dan Kemasan Provinsi Jawa Tengahtelah dibentuk sejak 2016. Sebelumnya, balai industri ini dikenaldengan nama Balai Pengembangan Kemasan dan Industri Kreatif. Balai ini selain melayani pengembangan kemasan, juga menjadi menyediakan layanan working space, inkubator, dan sarana pemasaran online untuk industri kreatif digital. Balai Industri Kreatif Digital dan Kemasan juga membuka layanan konsultasi sekaligus pembuatan kemasan, sablon, desain, laminasi sesuai pesanan IKM.
Menurut Gati,pihaknya telah membentuk KDMKsejak tahun 2003. Klinik ini bertujuan untuk membantu pelaku IKM dalam pemilihan bahan kemasan yang sesuai dengan produknya, pemilihan teknologi kemasan, pembuatan desain kemasan, pembuatan label kemasan sesuai peraturan yang berlaku, dan memfasilitasi bantuan cetak kemasan.
Selamaperiode 2015-2019,KDMK telah memfasilitasi sebanyak 858 IKM, dimana 81% merupakan IKM pangan (makanan dan minuman), kemudianIKM kerajinan (10%), dan IKM sandang (6%). Dalam menjalankan fungsinya, KDMK juga didukung oleh 25 rumah kemasan yang tersebar di Provinsidan Kabupatenatau Kota, imbuhnya.
Lebih lanjut, DitjenIKMA Kemenperin akanmemetakan klinik kemasan dan atau rumah kemasan yang tersebar di daerah, untuk dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan kelas untuk memudahkan penyusunan program KDMKke depannya. Ditjen IKMA bekerjasama dengan tim tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor untuk memetakan rencana pengembangan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing rumah kemasan di daerah, ujar Gati.
DiharapkanKDMK akan menjadi sarana informasi bagi pelaku IKM dan rumah kemasan, yangmeliputi teknologi pengemasan, mesin kemasan, bahan baku kemasan, perkembangan dan tren desain kemasan, inovasi kemasan, peraturan di bidang kemasan sertainformasi eventpenganugerahan tentang kemasan. Selain itu, KDMK dapat menjadi sarana pembelajaran melalui e-learningdan basis data melalui e-directorybagi IKM dan Rumah Kemasan.
Bahkan,menjadi tempat bertemunya IKM dan rumah kemasan dengan supplierbahan baku kemasan dan teknologi kemasan, sekaligus sumber konsultasi dan bimbingan terkait kemasan dan merek, paparGati. irsa
