Agrofarm.co.id-Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa dalam situasi seperti sekarang ini masyarakat mampu memanfaatkan lahan sempit dan pekarangan sebagai tempat bercocok tanam baik sayur maupun buah.
“Dalam situasi pandemi yang masih berlangsung ini, kita harus terus menggenjot produksi pangan lokal. Apalagi Indonesia kaya akan pangan lokal seperti sagu, singkong, jagung, ubi, dan lainnya. Kita bisa manfaatkan lahan sempit dan pekarangan sebagai tempat bercocok tanam,” kata dia dalam keterangan resminya, Rabu (12/8/2020).
Dedi mengatakan, sebagai negara tropis pertanian Indonesia sangat diuntungkan karena mendapat sinar matahari berlimpah dengan suhu yang sangat cukup, kemudian memiliki sumber air yang banyak, serta tanah yang subur. Kondisi ini membuat masyarakat bisa melakukan cocok tanam setiap saat dan dimana saja.
“Saya minta petani, penyuluh, dan petani milenial, untuk terus tanam. Jangan biarkan sejengkal tanah tidak tanam, jangan sampai ada waktu kosong untuk tidak tanam. Di mana saja, kapan saja, kita harus tanam, tanam, dan tanam. Utamanya, tanam komoditas pangan lokal,” katanya.
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menjelaskan, saat ini masyarakat bisa melakukan Gerakan tersebut melalui konsep “Pangan dari Pekarangan”. Konsep ini, kata Kuntoro, dinilai bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara swadaya, termasuk mendukung gerakan Kemandirian Pangan nasional.
“Intinya setiap keluarga bisa mensubstitusi kebutuhan pangannya. Masyarakat bisa membangun kebun keluarga dengan memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah yang sempit,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Cireundeu, Jajat Sudrajat, menyambut baik gerakan diserfikasi pangan lestari yang digaungkan Kementan dalam memperkuat produksi pangan lokal.
Jajat mengatakan, dukungan tersebut sudah dibuktikan masyarakat kampung adat Desa Cireundeu yang sejak puluhan tahun mengkonsumsi beras berbahan singkong sebagai makanan pokok. Menurutnya, pangan lokal memiliki berbagai macam manfaat yang baik untuk tubuh.
“Indonesia memiliki pangan lokal yang sangat berlimpah dan dapat dimanfaatkan karena bergizi tinggi dan sehat. Kami tidak lagi mengkonsumsi beras dari sawah. Kami justu mengembangkan pangan olahan dari singkong,” katanya.
Sebagai informasi, Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya dibentuk pada tahun 2018 dengan luas lahan 20 hektare yang ditanami seingkong untuk diolah menjadi beras singkong dan menjadi makan pokok seluruh warga Cireundeu. Bantolo
