Agrofarm.co.id-Ketua Umum Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo), Agus Pakpahan meminta Menteri BUMN Erick Thohir berhati-hati dalam mengambil kebijakan menggabungkan Perum Bulog dengan PTPN dan RNI menjadi satu klaster pangan.
Agus mengungkapkan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan pemerintah dalam pembentukan klaster pangan. Pertama, ada opportunistic behavior yang berkaitan dengan kekuasaan yang lebih besar di satu pihak, dan kesulitan monitoring dan evaluasi di pihak lain.
Kedua, pengelolaan economies of scope memerlukan manajemen puncak yang kuat dan mampu bekerja keras. “Ini juga memerlukan multi-capability dalam mengelola bidang-bidang yang beraneka-ragam tersebut,” kata Agus agrofarm.co.id, Selasa (02/6/2020).
Ketiga, pengelolaan economies of scale yaitu kompleksitas yang berkaitan dengan skala usaha yang makin besar. Keempat, pengelolaan free rider atau shirking atau ignorance sebagai akibat meningkatnya biaya transaksi, biaya pemantauan, dan biaya penindakan yang berkaitan dengan scope dan scale yang semakin besar.
“Apabila hal tersebut tidak dapat dikelola, maka kemungkinan apa yang pernah terjadi dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yaitu jatuh bangkrut pada 1799 akan terjadi. Tetapi sebaliknya, apabila bisa dikelola dengan baik oleh BUMN integratif tersebut maka akan lahir BUMN baru yang bisa bersaing di dunia global sama seperti BUMN negara lain yang sukses,” terang Agus.
Adapun beberapa faktor penyebab bangkrutnya VOC yaitu merajalelanya korupsi, ketidakefisienan, dan krisis keuangan pada saat itu. Utang VOC kala itu mencapai 136,7 juta gulden dan terhitung sejak 31 Desember 1799 VOC dinyatakan pailit.
Menurut Agus, ada potensi benefit langsung dan multiplier yang sangat besar dengan menggabungkan BUMN-BUMN tersebut di atas. Apalagi jika Perum Perhutani juga dihabungkan ke dalam klaster pangan itu.
“Tugas utama Perum Perhutani adalah investasi di bidang lingkungan sebagai investasi suprastruktur yang mengamankan infrastruktur produksi berbasis sumberdaya alam seperti sawah dan irigasinya,” tutur mantan deputi Kementerian BUMN Bidang Agro Industri itu.
Dia mengingatkan, apabila hutan-hutan di daerah aliran sungai (DAS) hulu rusak, maka infrastruktur pertanian seperti irigasi dan sawah juga ikut rusak. “Kemudian, sistem logistik yang berkaitan dan urban sistem yang tergantung pasokan air dan udara segar dari hutan-hutan di sekitarnya manfaatnya tidak akan berarti,” ujar Agus.
Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pihaknya sedang menyusun peta jalan industri pangan di BUMN. Saat ini, BUMN sedang menyiapkan roadmap untuk industri pangan di BUMN. Penggabungan PTPN, Bulog, dan RNI dalam klaster pangan, menurut Erick, akan mendorong terbentuknya rantai industri pangan yang terkonsolidasi di BUMN. Bantolo
