Kepala BSN, Bambang Prasetya dan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kementan, Dedi Junaedi pada acara Festival Kopi ber-SNI di Thamrin 10 Jakarta Pusat/bantolo

Tingkatkan Daya Saing, Kementan Dukung Penerapan SNI Kopi

Agrofarm.co.id.Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kopi dalam negeri.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Kementan, Dedi Junaedi mengungkapkan, pihaknya mendukung penerapan kopi SNI karena sejalan dengan upaya Kementan meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi nasional.

“Ini sejalan dengan program Dirjenbun dalam lima tahun ke depan, yaitu Grasida atau gerakan peningkatan produktivitas, nilai tambah, daya saing serta bagaimana kita menghasilkan devisa,” kata Dedi pada acara Festival Kopi ber-SNI di Thamrin 10 Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020).

Saat ini areal kopi nasional mencapai 1.238.598 hektar dengan produksi mencapai 717.962 ton. Terdiri dari kopi robusta dengan areal seluas 896.205 ha (72,4%) dengan produksi 528.222 ton dan kopi arabika seluas 342.393 ha (27,6%) dan produksinya sebesar 189.740 ton.

Sedangkan produktivtas kopi Indonesia rata-rata 775 kilogram/ha yang mayoritas diusahakan oleh pekebunan rakyat mencapai 96% dan sisanya 4% merupakan perkebunan kopi milik swasta maupun BUMN.

Dewan Kopi Nasional, Anton Apriyantono mengatakan sangat mendorong kopi ber-SNI, karena kualitas kopi menurutnya bukan hanya ditentukan jenis kopinya, tapi juga bagaimana kopi tersebut dapat diproduksi secara konsisten.

“Jadi fokus kami adalah bagaimana ini diproduksi dengan konsisten, jika tidak, maka mutunya akan bervariasi dan ini akan ditolak oleh pasar dan akan terus mengdorong masalah perkobian dari hulu hingga ke hilir untuk menerapkan SNI,” ujarnya.

Anton menjelaskan akan mengarahkan produk kopi yang sudah ber-IG juga ber SNI, dan itu suatu tantangan.

“Boleh ber-IG, tapi bagaimana konsistensi produksinya, apakah bisa menjaga kemurniannya. Dengan SNI konsistensi bisa terjaga dan memenuhi standar. Memang tidak sedikit konsumen belum menyadari pentingnya sebuah standar dan konsistensi, bahka mereka lebih mengetahui IG atau spesialty, maka hari ini kita sosialisasi tentang SNI, Karena suatu standar yang harus dipenuhi,” ungkap dia.

BSN telah menetapkan enam SNI mengenai kopi diantaranya SNI 01-3542-2004 Kopi bubuk; SNI 2907:2008 Biji Kopi; SNI 7708:2011 Kopi gula krimer dalam kemasan; SNI 2983:2014 Kopi Instan; SNI 4314:2018 Minuman kopi dalam kemasan; serta SNI 8773:2019 Kopi Premiks,

Kepala BSN, Bambang Prasetya mengatakan, dari keenam SNI tersebut satu di antaranya merupakan SNI wajib yakni SNI 2983:2014 Kopi Instan.

“Saat ini jumlah industri penerap SNI Kopi Instan berjumlah 41 industri. Sementara jumlah penerap SNI Kopi bubuk berjumlah 4 industri, serta biji kopi 1 industri,” kata Bambang.

Dia mendorong industri lainnya yang belum menerapkan, untuk dapat menerapkan SNI. Dengan menerapkan SNI dapat menjamin kualitas dan mutu kopi Indonesia yang pada akhirnya dapat bersaing di kancah internasional, jelas Bambang. Bantolo