Minyak goreng kelapa sawit lebih menyehatkan. (Ist)

GIMNI Minta Kewajiban Minyak Goreng Kemasan Dimulai 1 Januari 2020

Agrofarm.co.id-Pelaku industri yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengusulkan kewajiban minyak goreng kemasan dijalankan sesuai amanat regulasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 09/2019 bahwa minyak goreng kemasan harus dimulai per 1 Januari 2020.

“Kami ikut arahan pemerintah namun dan tetap mendukung kebijakan migor kemasan yang higienis, ujar Bernard Riedo, Ketua Umum GIMNI dalam Seminar “Minyak Goreng Kemasan Sederhana (Halal dan Higienis”, di Jakarta Kamis, (21/11/2019).

Hadir dalam seminar ini antara lain Enggartiasto Lukita (Menteri Perdagangan RI Periode 2016-2019), Sahat Sinaga (Direktur Eksekutif GIMNI), MP Tumanggor (Ketua Umum APROBI), Kanya Lakshmi (Sekjen GAPKI), dan Suhanto(Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag RI).

Sahat Sinaga mengapresiasi kerja Enggartiasto Lukita selama menjabat Menteri Perdagangan karena mampu mewujudkan program migor kemasan ini. “Saya sudah (ikuti) lima menteri tetapi migor kemasan tidak berjalan. Barulah di era Pak Enggar migor kemasan bisa dijalankan,” puji Sahat.

Menurut Sahat, program migor kemasan adalah momen besar bagi republik untuk mengubah kebiasaan masyarakat, yang biasanya pakai curah untuk beralih lebih besar.

“Jika tanggal 1 januari 2020 dimulai, seharusnya Presiden (Jokowi) launching program ini. Dengan pakai migor kemasan maka biaya kesehatan (BPJS) dapat ditekan. Saran saya, program migor kemasaan serius dibicarakan di kabinet sekarang,” pintanya.

Ia mengatakan di masyarakat marak terjadi pemakaian minyak jelantah yang tidak diketahui asal usulnya. Apalagi pemerintah belum punya aturan mengenai minyak jelantah yang berbahaya bagi kesehatan.

Itu sebabnya, Sahat meminta program minyak kemasan untuk dijalankan awal tahun depan. Tidak lagi ditunda atau diundur waktunya. Penjualan minyak goreng curah di pasar retail mencapai 3,35 juta ton atau ekuivalen 3,38 miliar liter pada 2019. Jika program kemasan berjalan, maka butuh 10,71 miliar kantong plastik apabila dibungkus produsen migor. Ini artinya dibutuhkan 1.558 filling machine dengan kecepatan 800 pack/jam.

Enggartiasto Lukita menyarankan kalangan industri aktif mempromosikan penggunaan minyak goreng kemasan. Tujuannya, masyarakat memahami pemakaian kemasan ini bermanfaat bagi kesehatan mereka, tidak sebatas kepentingan pemerintah atau pelaku usaha.

“Kalangan pelaku industri dapat melibatkan perguruan tinggi dan stakeholder lainnya, sehingga minyak goreng kemasan dapat diterima dengan baik,” ucap Enggartiasto.

Sahat mengusulkan pemerintah mengoptimalkan merek “MINYAKITA” yang sudah berjalan baik selama setahun terakhir ini. Produk MINYAKITA dapat ditopang penghapusan PPn selama 12 bulan sehingga harga dapat bersaing dengan migor curah. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *