Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita melakukan ekspor perdana domba ke negara Uni Emirat Arab/ist

Kementan Dorong Peternak Kambing dan Domba Bentuk Korporasi

Agrofarm.co.id-Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian I Ketut Diarmita mengatakan, peternak harus optimis dalam mengembangkan usahanya.

“Buatlah kelompok peternak dan buat program untuk meningkatkan produksi ternak kambing dan domba, tanamkan untuk selalu kerja keras,” jelas I Ketut Diarmita saat menjadi narasumber acara Sarasehan Peringatan Hari Ulang Tahun Perserikatan Peternak Kambing Domba Yogyakarta (PPKDY) di Universitas Gajah Mada.

Diarmita mengatakan bahwa terkait orientasi ekspor harus disesuaikan dengan supply dan demand. “Tujuan kita satu, yaitu meningkatkan produksi baru setelah itu ekspor karena dengan ekspor, maka akan dapat meningkatkan dignity bangsa, sehingga negara kita menjadi lebih dihargai oleh negara lain, untuk itu ekspor harus berkelanjutan (sustainable),” ungkap I Ketut dalam siaran persnya, Sabtu (02/3/2019).

Dia berharap peternak kambing dan domba terus maju dan dapat meningkatkan produksinya. Ia tegaskan bahwa untuk meningkatkan produksi ternak, maka harus ditingkatkan grade ternak yang dipelihara, yaitu grade A.

“Terkait upaya peningkatan mutu genetik, saya telah minta BBIB Singosari dan BPTUHPT Baturraden untuk dapat menghasilkan bibit-bibit grade A,” ucapnya.

“Target kita harus tinggi, sehingga kita harapkan produksi kita tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun juga harus kita genjot untuk ekspor,” terangnya.

Ia sebutkan bahwa tahun 2018, Indonesia telah melakukan ekspor ternak domba ke Malaysia dan baru-baru ini juga dilakukan ekspor domba Garut ke Uni Emirat Arab (UEA). Menurutnya, domba hidup juga berpotensi untuk mengambil share market di Brunei Darussalam.

Lebih lanjut I Ketut Diarmita menyampaikan, untuk menggenjot ekspor tersebut, maka harus ada jaminan ketersediaan ternak secara berkelanjutan. Untuk itu, Kementan mendorong dilakukannya kemitraan antara pelaku usaha (eksportir) dengan peternak domba/kambing yang melibatkan lembaga keuangan (perbankan maupun non perbankan) dalam penyediaan permodalan.

Penyediaan permodalan bagi peternak dapat melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun dengan pemanfaatan Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), kata I Ketut.

Untuk KUR Peternakan, I Ketut Diarmita menyampaikan, tahun 2019 pemerintah telah menargetkan Rp 25,3 Triliun. “KUR peternakan ini juga dapat dimanfaatkan untuk usaha semua komoditas ternak, termasuk bidang usaha pembibitan dan budidaya domba dan kambing,” tandasnya.

“Penyerapan KUR peternakan saat ini terbesar di sektor pertanian, dengan suku bunga 7% peternak dapat memanfaatkan pembiayaan ini sebagai tambahan untuk meningkatkan usahanya,” tambahnya.

Dia menambahkan, usaha peternakan rakyat di Indonesia saat ini masih bersifat subsisten (sambilan), sehingga harus didorong untuk bergeser kearah profit oriented dengan membuat kandang komunal dan berkelompok.

Sementara itu, Ali Agus selaku Dekan Fakultas Peternakan UGM menyampaikan, spirit koperasi dan korporasi perlu dibangun. “Koperasi bukan hanya kumpulan orang-orang (peternak), namun koperasi harus memiliki spirit koorporasi yang harus diperkuat,” ujar Agus.

Menurut Ali Agus, di negara-negara maju seperti Eropa dan Jepang perekonomiannya sangat ditunhang oleh bisnis koperasi atau UMKM-UMKM yang produknya akan dibeli oleh perusahaan besar (swasta).

“Harus ada korporasi untuk melanggengkan usaha contohnya seperti di New Zealand, dimana peternak-peternak tergabung dalam koperasi yang menghasilkan susu dan melakukan kerjasama dengan industri persusuan seperti Fontera.”

Selanjutnya Ia katakan bahwa dalam menjalankan usaha juga perlu komitmen dan sungguh-sungguh. Selain itu, menurutnya peternak harus meningkatkan industri yang kompetitif, dimana harus didukung oleh: ketersediaan ternak, lahan untuk mendukung usaha dan sumber daya manusia dengan motivasi kerja yang tinggi, serta pemanfaatan teknologi untuk mempersiapkan industri 4.0. Bantolo