Diskusi bertema Penggunaan Pupuk Organik, Hayati, dan Pembenah Tanahuntuk Meningkatkan Produktivitas Padi Berkelanjutan di Hotel Sahati Jakarta/ist

Penggunaan Pupuk Organik Mampu Tingkatkan Produktivitas Padi

Agrofarm.co.id-Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penggunaan pupuk organik melalui pemberian subsidi sejak 2008.

“Awalnya memang kualitas dikeluhkan. Sekarang mutu lebih baik. Penyerapan pupuk organik oleh petani melalui subsidi selama tiga tahun terakhir, tahun 2016-2018 rata-rata 700 ribu ton/tahun,” ungkap Muhrizal Sarwani, Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Kementan pada acara Diskusi bertema Penggunaan Pupuk Organik, Hayati, dan Pembenah Tanahuntuk Meningkatkan Produktivitas Padi Berkelanjutan di Hotel Sahati Jakarta, Rabu (27/2/2019)

Untuk mengatasi persoalan mutu pupuk organik, hayati dan pembenah tanah, pihaknya menelurkan Permentan 01/2019 tentang Pendaftaran Pupuk Organik dengan pendekatan persyaratan teknis minimal.

Selain itu, katanya, menerapkan standar, upaya tersebut diharapkan petani mendapatkan jaminan kualitas pupuk organik dan pemerintah bisa melakukan pengawasan. Ia mengakui, sosialisasi penggunaan produk tersebut kepada petani masih kurang. Penyuluhan dan pelatihan perlu ditingkatkan.

Sementara itu, Arif Fauzan, MT, Direktur Teknik dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik menyebutkan, Petrokimia Gresik mempunyai kapasitas produksi pupuk organik 1,6 juta ton tetapi karena kekurangan bahan baku sehingga realisasinya baru setengah.

“Dunia mengamanatkan bagaimana kita menggunakan N (nitrogen) seefisien mungkin. Selama ini pupuk N yang terserap. Selain itu kita diminta shifting ke organik, hayati dan bio supaya tanah sehat,” ucap Arif.

Winarno Tohir, Ketua Umum Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mengatakan, perlu ada gerakan penggunaan pupuk organik karena lahan kita sudah mengalami leveling off.

Apalagi, kata Winarno, berdasarkan BPS terbaru lahan baku pangan kita turun 600 ribu hektare (ha), menjadi 7,1 juta ha.

“Kita juga perlu tambahan penyuluh untuk sosialisasi penggunaan pupuk organik, hayati dan pembenah tanah. Bahasanya ke petani harus beda. Harus bikin bahasa petani. Dibutuhkan perpaduan pupuk anorganik dan organik,” terangnya.

Bungaran Saragih Pakar Agribisnis menjelaskan, guna meningkatkan produktivitas padi berkelanjutan perlu menggunakan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah.

“Namun pemakaiannya perlu dikombinasikan dengan pupuk anorganik karena tantangan dan tugas pemenuhan pangan nasional kita sangat riskan dan kurang bijak bila digantungkan pada sistem pertanian seperti ini,” kata Bungaran.

Menurutnya, pemupukan harus berimbang antara pupuk anorganik dengan pupuk organik bersama-sama dengan pupuk hayati dan pembenah tanah serta dibarengi dengan pengendalian hama penyakit terpadu.

Dia menambahkan, pembangunan pertanian khususnya padi sebagai komoditas pangan utama, saat ini menjadi sangat strategis karena menyangkut kedaulatan pangan nasional berkelanjutan ke depan.

“Tidak saja untuk peningkatan produksi dan produktivitas padi tetapi juga bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani serta upaya pengentasan kemiskinan di pertanian,” pungkas Bungaran. Bantolo