Jajaran Direksi Pupuk Indonesia/ist

Hingga Triwulan III 2018, Pupuk Indonesia Catat Penjualan Pupuk 8,9 Juta Ton

Agrofarm.co.id-Pupuk Indonesia untuk mencatat hingga triwulan III 2018 penjualan pupuk mencapai 8,956 juta ton atau meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Penjualan pupuk untuk sektor PSO, yaitu penyaluran pupuk bersubsidi ke sektor tanaman pangan, hingga saat ini sudah mencapai 6.633.982 ton, atau meningkat lebih dari 300 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (persero), Aas Asikin Idat dalam keterangan resminya, Selasa (30/10/2018).

“Ini artinya, Pupuk Indonesia tetap memprioritaskan kebutuhan pupuk untuk pangan dalam mengamankan kebutuhan petani dan juga penyaluran pupuk bersubsidi semakin efektif dan dapat diterima oleh petani yang berhak memperolehnya,” tambah Aas.

Peningkatan penjualan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari peningkatan penjualan ekspor pupuk dan amoniak yang tinggi yaitu mencapai 770 ribu ton pupuk dan 439 ribu ton amoniak dengan nilai penjualan USD332 juta atau meningkat 60% dari tahun 2017.

Sedangkan penjualan sampai akhir tahun 2018 diproyeksikan mencapai total 1,588 juta ton dan amoniak 630 ribu ton dengan nilai total USD650.563.913. Namun Aas menegaskan bahwa prioritas utama Perusahaan tetap untuk memenuhi kebutuhan sektor tanaman pangan dalam rangka penugasan PSO. “Ijin ekspor hanya bisa keluar jika kebutuhan dan stok dalam negeri sudah aman,” tegas Aas.

Tidak hanya ekspor, penjualan ke sektor non subsidi, khususnya perkebunan, juga mengalami kenaikan menjadi 1.552 juta ton, atau naik sekitar 200 ribu ton dibandingkan periode yang sama pada 2017.

Selain peningkatan penjualan, kinerja produksi juga lebih baik dibandingkan 2017. Total produksi pupuk meningkat 12%.

“Saat ini produksi kami sudah mencapai 5.645 juta ton untuk semua jenis pupuk, dan 4,346 juta ton untuk produksi amoniak,” ujar Aas. Selain itu, katanya, efisiensi pemakaian bahan baku gas, juga terus ditingkatkan.

“Rasio konsumsi gas kami saat ini 28,5 MMBTU per ton, lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Ini artinya pabrik-pabrik kami bisa berjalan lebih baik dan efisien sehingga bisa menghemat bahan baku. Penghematan ini ujungnya juga akan berimbas pada harga pokok produksi, yang sekaligus akan mengurangi beban subsidi Pemerintah,” kata Aas. Bantolo