Kopi Indonesia/ist

Kemendag Genjot Ekspor Produk Organik ke Hong Kong

Agrofarm.co.id-Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) menggenjot ekspor produk organik ke pasar Hong Kong dengan menggelar seminar Pengembangan Ekspor Produk Organik Indonesia ke Pasar Hong Kong pada 19 September 2018 di Malang, Jawa Timur.

Adapun seminar ini bekerja sama dengan Dinas Perdagangan Kota Malang dan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) kantor Jakarta.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan produk organik Indonesia dan menjadi sarana diskusi bagi pelaku usaha dalam mengembangkan produknya menjadi komoditas potensial ekspor khususnya ke pasar Hong Kong,” ujar Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan dalam siaran persnya, Jumat (28/9/2018).

Di era globalisasi saat ini, lanjut Marolop, produk organik harus menyesuaikan dengan perkembangan permintaan konsumen di dunia dengan memberikan jaminan atas integritas organik yang dihasilkan. Untuk itu, setiap pelaku usaha wajib memiliki Sertifikat Organik Indonesia yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO), diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), dan terdaftar di Otoritas Kompeten Pertanian Organik (OKPO). Unit usaha yang telah disertifikasi berhak mengklaim bahwa produknya adalah organik dan mencantumkan Logo Organik Indonesia.

“Logo Organik Indonesia memberikan kepercayaan kepada seluruh pihak yang berkepentingan bahwa produk organik yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Penggunaan logo diharapkan dapat meningkatkan nilai tawar produk organik Indonesia,” tutur Marolop.

Sebelumnya, seminar ini juga telah dilaksanakan pada 14 Agustus 2018 di Padang, Sumatra Barat yang bekerja sama dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sumatra Barat. Hadir sebagai pembicara yaitu perwakilan dari Aliansi Organik Indonesia (AOI) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Seminar ini juga dihadiri oleh 40 pelaku usaha organik Malang yang menghasilkan sayur, buah, kelapa hijau organik, aneka saus, kecap, kerupuk beras, dan singkong.

Menurut Ketua AOI Stevanus Wangsit, ekspor potensial produk organik masih sangat terbuka khususnya untuk produk yang tidak dibudidayakan seperti madu hutan, buah tengkawang, dan produk olehan setengah jadi seperti gula semut, kopi, kakao, rempah-rempah (empon-empon kering/simplesia), haulage aren, serta kelapa dan turunannya. Selain itu, produk khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain juga memiliki potensi untuk diekspor.

Marolop juga menambahkan, untuk mendorong akses pasar berbagai produk potensial Indonesia ke pasar Hong Kong, pada 1 Mei 2017, Ditjen PEN dan HKTDC telah menandatangani nota kerja sama di Hong Kong.

“Indonesia sangat kaya akan sumber daya genetik. Sebagian besar lahan pertanian di Indonesia dapat menghasilkan produk asli yang tergolong organik. Untuk itu, potensi dan kesempatan Indonesia untuk menjadi produsen organik terkemuka di Asia sangat terbuka lebar,” imbuhnya.

Di samping itu, permintaan dunia akan produk organik semakin banyak seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat atas bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan bahan kimia sintetis dalam pertanian. Sehingga masyarakat semakin selektif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

Pada tahun 2016, pasar produk organik dunia terus meningkat hingga mencapai lebih dari USD 91,3 miliar. Berdasarkan data Research Institute of Organic Agriculture (FIBL) tahun 2016, produsen produk organik dunia didominasi oleh Asia sebesar 40%. Produsen lainnya berada di Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Sedangkan tiga negara utama pasar produk organik adalah Amerika, Jerman, dan Prancis.

Melihat potensi ekspor dan perkembangan pasar produk organik di dunia, Kemendag berkoordinasi dengan kementerian dan pemangku kepentingan terkait telah menyusun rencana aksi pemasaran produk organik. Tahap awalnya akan membina sepuluh pelaku usaha produk organik Indonesia untuk dapat mengekspor produk organik yang dihasilkan ke pasar internasional, pungkas Marolop. Dian