Kepala BSN selaku Ketua KAN Bambang Prasetya dan Director General ESMA, Abdulla Abdelqader Al Maeeni/ist

KAN Gandeng ESMA Kerjasama Sertifikat Halal

Agrofarm-Saat ini perdagangan produk pangan Indonesia ke pasar Uni Emirat Arab (UAE) maslh terkendala karena adanya persyaratan yang mengharuskan bahwa sertifikat halal yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi yang terakreditasi Emirates Authonty for Standardlzatlon and Metrology/ESMA.

Apablla hal tersebut tldak dipenuhi maka produk Indonesaa yang diekspor ke pasar Uni Emlrat Arab seperti biskuit, mie instan, produk olahan daging, permen, jelly dan flavour and food Ingredient akan terhambat.

Maka, dalam rangka memfasilitasi perusahaan lndonesua agar dapat melakukan eskpor ke wilayah UAE, Badan Standardisasi Nasional (BSN) melakukan Komite Akreditasi Nasional (KAN) guna melakukan kerjasama di bidang akreditasi lembaga sertifikasi halal dengan ESMA.

Pengembangan kerjasama BSN/KAN dengan ESMA dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Kepala BSN selaku Ketua KAN Bambang Prasetya dan Director General ESMA, Abdulla Abdelqader Al Maeeni di kantor BSN.

Penandatanganan kerjasama juga dihadiri oleh perwakilan dari Kementerlan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, BPJPH-Kementerian Agama, Delegasi ESMA, LPPOM MUI dan perusahaan produk pangan Indonesna.

Dalam isi perjanjian tersebut dinyatakan bahwa ESMA mengakui sertifikat halal yang diterbitkan oleh oleh KAN berdasarkan persyaratan standar UAE. Kerjasama ini diharapkan dapat mendorong para produsen Indonesia untuk memperluas pasar ke UAE, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia.

“Dengan dltandatanganinya kerjasama, maka KAN selanjutnya akan melakukan akreditasi kepada lembaga sertifikasi halal untuk produk yang diekspor ke UAE dan melakukan pengawasan terhadap lembaga sertifikasi tersebut untuk menjamin integritas sertifikat halal yang dlterbltkan,” kata Bambang di kantor BSN, Senin (23/7/2018).

Perlu diketahui, perdagangan produk halal di dunia diperkirakan akan semakin meningkat sebagaimana hasil survei yang dilakukan oleh Global Islamic Economic Gateway. Survey tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2015 pasar global untuk produk pangan halal mencapai 16,6 % dan pasar global USD 1.173 miliar.

Dan diperkirakan akan meningkat menjadi 18,3% di tahun 2020 sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk muslim yang diprediksi mencapai 20% dari jumlah total populasi seluruh dunia. Hal ini menunjukan bahwa perdagangan produk halal akan menjadi peluang investasi yang signifikan dan berkembang.

Survey tersebut juga melaporkan Ilma negara pengekspor produk pangan halal terbesar namun bukan anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yaitu Brazil, India, Argentina, Rusia dan Perancis. Sedangkan lima negara pengimpor terbesar adalah Saudi Arabia, Malaysia, UAE, Indonesia dan Mesir (Global !slamic Economy Report 2016/2017).

Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan industri halal mengingat jumlah penduduk muslim yang mencapai 85,2% atau sebanyak 221 juta jiwa dari total penduduk 260 juta jiwa penduduk, yang memasukan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini juga seiring dengan dan semakin berkembangnya usaha baik tingkat kecil maupun skala besar khususnya yang terkait dengan produk pangan. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *