Ekspor bawang merah/ist

Kementan Bangun Lumbung Pangan Orientasi Ekspor di Wilayah Perbatasan

Agrofarm-Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pembangunan lumbung pangan berorientasi ekspor di wilayah perbatasan. Untuk itu, dibuatlah program khusus yaitu Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Wilayah Perbatasan, (LPBE-WP).

LPBE-WP merupakan salah satu langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah dan antar masyarakat di wilayah perbatasan. Pengembangan LPBE-WP diarahkan kepada peningkatan kapasitas produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah perbatasan dan kelebihannya untuk diekspor utamanya ke Negara tetangga guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berkembangnya ekonomi wilayah perbatasan.

Sasaran utamanya adalah meningkatnya produksi, mutu, dan daya saing produk komoditas pangan dengan mengutamakan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumberdaya alam di wilayah perbatasan.

Pengembangan LPBE-WP dirancang berbasis kawasan dengan konsep pertanian modern yang didukung oleh inovasi teknologi dan kelembagaan sarana-prasarana produksi, permodalan, serta pengolahan dan pemasaran hasil pertanian melalui pemberdayaan kelompok tani dan kemitraan dengan swasta.

Lima provinsi yang disasar sebagai Lokasi prioritas LPBE-WP adalah (1) Provinsi kalimantan Barat, di kabupaten Sambas, Sintang, Sanggau, Bengkayang dan Kapuas Hulu; (2) Provinsi Kepulauan Riau, di Kabupaten Lingga, Karimun dan Natuna; (3) Provinsi Kalimantan Utara di Kabupaten Nunukan; (4) Provinsi Papua di Merauke; (5) Provinsi Nusa Tenggara Timur di Malaka dan Belu.

Komoditas prioritas yang dikembangkan antara lain padi (semua provinsi kecuali NTT), jagung untuk Kalbar, Papua dan NTT. Bawang merah menjadi target pengembangan untuk perbatasan Kaltara dan NTT. Khusus sayuran pengembangannya diarahkan untuk mengejar target ekspor ke Singapura dan Malaysia menjadi prioritas Kepri dan Kalbar.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Muhammad Syakir menjelaskan secara khusus telah membangun percontohan sistem produksi komoditas pangan skala luas yang sekaligus melaksanakan pendampingan dan pengawalan budidaya komoditas strategis yang dapat menjadi titik ungkit untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Syakir menambahkan, setidaknya berbagai upaya tersebut telah membuahkan hasil nyata dengan telah dilakukan rintisan ekspor ke beberapa negara tetangga. Februari 2017 Menteri Amran Sulaiman melaksanakan launching ekspor beras ke Papua Nugini dari Kabupaten Merauke.

Selanjutnya secara berturut-turut dilakukan launching rintisan ekspor bawang merah ke Republik Timor Leste dari Kabupaten Malaka, NTT dan ekspor beras dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat ke Malaysia pada Oktober 2017.

“Gebrakan kebijakan Menteri Pertanian tidak hanya mampu meningkatkan devisa, tapi juga nyata meningkatkan pendapatan petani,” ungkap Syakir dalam keterangan resminya, Kamis (31/5/2018).

Karenanya Syakir mensyaratkan perlunya dukungan kebijakan dan sinergisme dengan Kementerian dan lembaga lainnya, serta dukungan dan partisipasi pihak swasta dalam rangka mendorong investasi di bidang produksi dan perdagangan temasuk ekspor hasil pertanian.

Pemberian berbagai insentif pada investor termasuk deregulasi perijinan dan penyederhanaan layanan, perbaikan tata niaga serta pengembangan infrastruktur pendukung dan fasilitasi ekspor menjadi agenda penting yang tak dapat dipisahkan dari rangkaian pengembangan LPBE-WP. Setidaknya hingga 2017 Kementan menjadi lembaga yang berhasil dalam melaksanakan deregulasi berbagai peraturan tersebut.

“Prestasi ini perlu terus dijaga bersama-sama dengan pengawalan inovasi teknologi, agar kesejahteraan petani di perbatasan dapat terus meningkat,” pungkasnya. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *