Bibit kelapa sawit/ist

PASPI : Embargo Sawit, Hutan Dunia Hilang 20 Juta Hektar

Agrofarm-Hasil kajian Palm Oil Agribusiness Stategic Policy Institute (PASPI) mengungkapkan, rencana embargo sawit Uni Eropa (UE) yang dimulai tahun 2020 beserta gerakan palm oil free yang dipaksakan pada industri penggunaan minyak sawit multinasional, akan dibayar mahal oleh masyarakat berupa hilangnya sekitar 20 juta hektar hutan dunia.

Masyarakat UE merupakan salah satu kawasan net importir minyak nabati terbesar dunia. Sekitar 60 persen kebutuhan minyak nabati Benua Biru itu, harus dipenuhi dari impor yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari dan lain-lain.

Ruang gerak peningkatan produksi minyak nabati EU dari dalam negeri yakni minyak rapeseed dan minyak bunga matahari, sudah sangat terbatas karena keterbatasan lahan. Sebagaimana studi FAO, jika Eropa melakukan swasembada minyak nabati, sekitar 70 persen lahan pertaniannya harus dikonversi menjadi lahan tanaman biofuel. Hal ini jelas tidak mungkin karena resikonya ketahanan pangan UE akan terancam. Jadi memasok minyak nabati dari impor, tetap jadi pilihan terbaik bagi Eropa.

Dikutip dari hasil riset PASPI, Minggu (29/4/2018) menyebutkan, volume impor minyak sawit EU saat ini sekitar 7 juta ton per tahun untuk bahan pangan, biofuel dan industri oleokimia. Diperkirakan dalam periode 2020-2030 volume impor minyak sawit Eropa akan mencapai rata-rata 10 juta ton per tahun untuk bahan pangan, energi dan industri oleokimia.

Jika UE benar-benar menghentikan penggunaan minyak sawit, pilihannya hanya dua. Pertama, meningkatkan produksi rapeseed dan bunga matahari baik di Eropa maupun di kawasan Eropa lainya.

Hal ini berarti areal tanaman bunga matahari dan rapeseed harus di perluas. Dengan produksi minyak rata-rata rapeseed dan bunga matahari hanya sekitar 0.5 ton/ha, maka untuk menggantikan impor 10 juta minyak sawit, diperlukan 20 juta hektar lahan baru untuk kebun bunga matahari dan rapeseed. Hal ini akan mengkonversi lahan hutan (deforestasi) Eropa besar-besaran.

Kedua, mengganti impor sawit dengan meningkatkan impor minyak nabati lain seperti minyak kedelai dari Amerika Selatan. Jika Eropa memilih pilihan kedua ini mengganti impor sawit dengan impor minyak kedelai atau minyak nabati lain, maka untuk menggantikan 10 juta ton minyak sawit memerlukan ekspansi lahan kebun kedelai atau tanaman biofuel lain seluas 20 juta hektar. “Hal ini berarti menambah konversi (deforestasi) hutan dunia seluas 20 juta hektar lagi,” bunyi riset itu.

Dengan kata lain, jika UE melakukan embargo sawit, maka Eropa mensponsori terjadinya deforestasi hutan dunia yang lebih besar lagi yakni 20 juta hektar. Sementara jika Eropa tetap mengkonsumsi minyak sawit, tidak perlu lagi tambahan deforestasi hutan dunia karena kebun sawit sudah berproduksi selama ini. Untuk memenuhi kebutuhan 10 juta ton minyak sawit cukup dari 2 juta hektar kebun sawit. Bantolo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *