19 C
New York

Hairi, Perajin Pandai Besi Sukses Binaan BGA

Published:

AgroFarm-Berkat ketekunan dan bantuan PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) usaha pandai besinya Hairi semakin maju. Terbukti saat ini sudah mempunyai karyawan tiga orang dan omset penjualan alat pertanian tiap bulan terus meningkat.

Hairi Pandai Besi Binaan BGA Dusun Kertaraja Kendawangan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat mengungkapkan, perusahan membina usaha kerajinan besi psejak tahun 2015 hingga saat ini. Usaha ini merupakan turun-temurun dari keluarga.

“Awalnya mencoba dan belajar dari orang tua. Alhamdulilah dapat mengusai ilmu kerajinan dan mecoba terjun menjadi perajin pandai besi,” ujar Hairi.

Mneskipun dia tidak menyangka pada akhirnya dapat melanjutkan usaha orang tua sampai sekarang. Dia menceritakan, usaha keluarga ini mulai 1995. Ide pembuatan dari banyaknya barang bekas pir mobil.

“Daripada barang bekas ini terbuang percuma, maka kami mencoba olah menjadi alat pertanian seperti pisau, sabit, golok, parang dan alat pemanen sawit (dodos),” jelasnya.

Menurutnya, Dodosnya mempunyai kualitas yang baik ketimbang merek lain. Tahan lama dan lebih murah.

Dia pun bercerita, modal usaha awal dalam berbisnis kerajinan besi sebesar Rp 10 juta. Namun karena usahanya maju, modal sudah balik satu tahun kemudian.

“Awalnya hanya coba membuat, dan ternyata laku ada yang membeli. Akhirnya kami pun memproduksi secara masal.”

Menurutnya, tiap bulan mampu produksi sekitar 70-100 unit alat pertanian. Sementara harga tergantung ukuran panjang alat. Misalnya dodos ukuran panjang 10 cm sekitar Rp 120.000, 12 cm Rp 150.000 dan ukuran 14 cm sebesar Rp 170.000.

“Paling laku ukuran 12 cm karena digunakan untuk panen buah sawit,” ujar bapak anak dua ini.

Dia mengatakan, untuk mencari bahan baku pir tidaklah sulit karena pasokan mudah didapat dari tempat pengepul loakan. Terkadang sudah ada orang yang langsung mengirim bahan pir ke outlet.

“Banyak sisa pir truk di daerah Kendawangan yang sebagian besar areal perkebunan sawit. untuk itu, para pemulung besi bekas langsung menjual ke kami karena harganya jauh lebih baik dari pasar loak,” tambahnya.

Dia menyebutkan, pembeli alat pertanian berasal dari perusahaan sawit dan petani. Ada juga di jual ke pasar. Rata-rata penjulan dodos sekitar 70-80 unit perbulan. Bahkan juga menjual Egrek Sawit seharga Rp 200.000 per unit.

Dia mengatakan, kemitraan dengan perusahaan BGA berupa bantuan bahan baku, peralatan penunjang usaha, pelatihan, pembangunan workshop dan pemasaran. Adanya perusahaan sangat membantu usaha kami menjadi lebih maju, ujar Hairi.

Dia mengungkapkan, setelah dibina oleh perusahaan, kehidupan ekonomi menjadi meningkat. “Omset penjualan naik. Sekarang juga bisa menambah tenaga kerja,” bebernya.

Dia menyebutkan, saat ini mempunyai karyawan tiga orang dalam menjalani usahanya, padahal awalnya hanya memiliki satu karyawan.

Dalam layanan purna jual ada garansi alat selama enam bulan. “Apabila alat patah, maka akan kami ganti baru secara cuma-cuma,” ujarnya.

Dia berharap, usahanya terus maju dan berencana bisa menjual hasil kerajinan besinya ke daerah lain. “Meskipun mencari pandai besi di Kalimantan itu sulit, butuh ketekunan. Namun setiap karyawan baru akan dilatih terlebih dahulu sebelum menjadi pandai besi,” pungkasnya. Bantolo

Related articles

Recent articles