22.6 C
New York

2018, Harga CPO Bangkit

Published:

Agrofarm-Para analis dan pakar memprediksi harga minyak sawit mentah (CPO) pada tahun 2018 akan tembus mencapai USD 850 per ton.

Dorab Mistry, analis minyak nabati Godrej International Ltd, memperkirakan harga CPO Rotterdam akan nelonjak dari USD 735 menjadi USD 800 per ton pada Januari 2018. Sedangkan pada Bursa Malaysia Derivatives (BMD) harga CPO akan mencapai RM 3.100 per ton.

Dia mengatakan, harga itu didasarkan pada beberapa asumsi, harga minyak mentah Brent naik dari USD 45 menjadi USD 65 per barel, The FED berencana secara bertahap akan menaikkan suku bunga pinjaman.

“Disamping itu, dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mata uang Brazil, Argentina, India. Kemudian tidak ada perang dagang atau gangguan perdagangan dari Negara China dan AS,” jelas Dorab.

Menurutnya, mulai bulan Januari 2018 stok akan berkurang setiap bulan. Kita akan melihat stok minyak sawit menipis, ujar Dorab. Bahkan, katanya, harga CPO dapat menembus USD 850 pada bulan Maret 2018, tambah Dorab.

Dia menambahkan, hal itu terjadi jika jika panen kedelai di Amerika Latin, rapeseed di Eropa, dan biji bunga matahari di Ukraina, tidak menggembirakan.

Dorab menuturkan, produksi kelapa sawit Malaysia pada tahun ini diperkirakan sebesar 19,97 ton dan kelapa sawit Indonesia pada kisaran 36,5 juta sampai 37 juta ton pada tahun 2018. Sedangkan produksi kedelai akan tumbuh luar biasa di Amerika Selatan dan minyak matahari maupun minyak rapeseed akan kurang dari tahun lalu.

Dia memprediksi, dalam jangka panjang harga minyak sawit akan menanjak lebih tinggi pada 2021-2022 menyusul keterbatasan areal untuk ekspansi. Pasalnya, Malaysia telah jenuh.

“Pada saat yang sama, Indonesia menerapkan moratorium sehingga ekspansi melambat dari 500.000 hektar (ha) menjadi 150.000 ha per tahun,” beber Dorab.

James Fry, Chairman LMC International Ltd menyebutkan, harga CPO akan mencapai puncaknya pada Januari 2018 sebesar RM 2.950 per ton dan kemudian jatuh kembali ke RM2.600 per ton.

“itu terjadi jika Arab Saudi terjadi gonjang-ganjing, setidaknya sampai kuartal II 2018 dan harga harga minyak brent sekitar USD 60 per barel,” katanya.

Sementara, saat harga Brent USD 60 per barel. Fry memperkirakan harga CPO naik sampai puncak di atas RM 2.800, sebelum jatuh kembali ke bawah RM 2.500.

Kemudian pada harga Brent USD 55 per barel, harga BMD akan turun dibawah posisi berada di bawah RM 2.300 per ton. “Diprediksi pada Juli 2018 akan menjadi bulan pertama dimana harga CPO dan Brent di eropa mempunyai selisih harga rata-rata dalam jangka panjang berada sekitar USD USD 230- 240 per ton,” terang Fry.

Sementara itu, Mantan Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan, harga minyak sawit akan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : harga minyak mentah, minyak nabati lain, kondisi ekonomi dan kebijakan Eropa dan AS mengenai minyak kelapa sawit.

Berdasarkan faktor-faktor ini, kami memperkirakan bahwa harga minyak kelapa sawit pada tahun 2018 akan relatif stabil bahkan, mungkin sedikit menurun, ujar Fadhil yang juga Direktur Corporate Affairs Asian Agri.

Dia memperkirakan, pada semester pertama 2018 harga CPO sedikit meningkat. Pada semester kedua seiring musim panen raya, harga akan turun.

“Kami memperkirakan bahwa harga rata-rata CPO pada kisaran antara USD 700-710 per ton di bursa CIF Rotterdam,” terangnya.

Adapun harga minyak sawit pada tahun 2017 jauh lebih tinggi dari tahun 2016 sebesar USD 700 per ton, sementara harganya rata-rata CPO tahun lalu USD 716 per ton.

Dia menambahkan, konsumsi minyak sawit Indonesia meningkat pada tahun 2016 lantaran adanya program mandatory penggunaan biodiesel (B-20). Namun dalam waktu dekat tidak akan ada peningkatan konsumsi domestik kecuali program biodiesel dapat diimplementasikan secara efektif untuk Non PSO.

Fadhil memprediksi, tahun lalu konsumsi domestik akan mencapai 9,7 juta ton. Sementara pada 2018 akan sedikit meningkat menjadi sekitar 10 juta ton.

“Ekspor minyak sawit pada 2017 akan mencapai sekitar 28 juta ton. Hal ini meningkat signifikan dari 2016 dimana ekspor mencapai 23,40 juta ton,” katanya.

Menurutnya, ekspor meningkat ke hampir semua negara tujuan khususnya ke negara baru seperti Pakistan, Bangladesh, Afrika, dan Timur Tengah. “Pada 2018, ekspor sawit diperkirakan meningkat mencapai 29 juta ton,” ujar Fadhil.

Thomas Mielke, Analis Oil World mengatakan, konsumsi CPO tahun depan akan kembali meningkat, lantaran pada tahun 2017 sudah ada peningkatan konsumsi CPO dari India, China, dan Uni Eropa.

“Ekspor CPO ke Eropa naik sekitar 1 juta ton, baik dari Indonesia maupun Malaysia. Begitu juga dengan impor CPO India naik drastis,” ucap Mielke.

“Saya harapkan ada beberapa koreksi harga minyak kelapa sawit sampai akhir Desember 2017. Harga turun sebesar USD 30-40 FOB Indonesia, harga CPO ke depan tidak sampai di bawah RM 2.650 per ton,” katanya.

Menurutnya, pada Januari hingga Maret 2018 produksi minyak nabati dunia secara musiman sedang rendah dan stok akan berkurang.

“Sehingga akan berdampak pada kenaikan harga. Pada April-September 2018, pada asumsi kondisi iklim normal. Produksi minyak sawit akan surplus dan menyebabkan beberapa tekanan pada harga CPO,” jelas Mielke. Bantolo

Related articles

Recent articles