Peternakan sapi lokal. (Ist)

Pemerintah Dorong Investasi Swasta Kembangkan Peternakan Sapi

Agrofarm.co.id-Guna meningkatkan populasi sapi potong dalam negeri, Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong peran swasta untuk ikut andil dalam pembangunan sub sektor peternakan melalui pengembangan investasi dan kemitraan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan, pemerintah sebenarnya telah berupaya mempercepat peningkatan populasi sapi potong di dalam negeri dengan meningkatkan anggaran. Bahkan sejak tahun 2017 alokasi APBN difokuskan kepada Upsus SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).

Namun Ketut mengakui, jika terlalu mengandalkan pembiayaan subsektor peternakan dari anggaran pemerintah, maka sangat tidak memadai, serta bukan pilihan yang bijaksana. Apalagi mengingat semakin besar beban anggaran yang harus ditanggung pemerintah untuk membiayai pembangunan keseluruhan sektor.

Untuk itu, pemerintah mendorong peran swasta untuk ikut andil dalam pembangunan sub sektor peternakan melalui pengembangan investasi dan kemitraan. Peran swasta, terutama investor sangat diharapkan untuk menjembatani usaha peternakan dalam skala usaha yang lebih besar dan menguntungkan.

“Perlu adanya dukungan semua pihak untuk mendukung subsektor peternakan. Tidak hanya dari pemerintah, tapi juga pihak swasta serta masyarakat pada umumnya,” katanya dalam siaran persnya, Senin (19/2/2018).

Pemerintah kata Ketut, telah melakukan berbagai upaya membuka peluang investasi mendorong minat investor di bidang peternakan. Serangkaian kebijakan investasi dan permodalan, serta potensi pengembangan pembibitan di Indonesia melalui langkah-langkah fasilitasi pajak penghasilan, serta kemudahan perijinan usaha.

“Kami juga terus mendorong pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten serta investasi swasta mengembangkan HPT melalui penyediaan lahan/penanaman HPT,” katanya.

Adapun pengembangan HPT untuk pengembangan sapi potong dilakukan melalui pengembangan padang penggembalaan dengan mengoptimalkan lahan ex-tambang pasca reklamasi dan kawasan padang penggembalaan.

Dalam pengembangan HPT, Ditjen PKH bersama Dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan telah melakukan pengembangan padang penggembalaan seluas 5.834 hektare (ha) sejak tahun 2013-2016. Lokasinya tersebar di sembilan provinsi, yaitu Aceh, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Papua Barat.

“Saat ini kami sedang mengidentifikasi potensi 193.769 ha, serta telah dilakukan Survey Investigation and Design (SID) di lahan seluas 10.994 ha,” ujarnya.

Hingga kini perusahaan yang telah melakukan investasi, baik baru maupun perluasan sejak tahun 2015-2017 cukup banyak. Di Jawa ada tujuh perusahaan yaitu, PT. Sri Hatmini, PT. Sae Abadi Santoso, PT. Putra Jaya Raharja, PT. Sijiro Indonesia, PT. Green Fields Indonesia, PT. Pramana Austindo Mahardinka, dan PT. Santori.

Sedangkan di luar Jawa sekitar 16 perusahaan yaitu : PT. Pangan Sari Utama Mitra, PT. Papua Utama Mitra, PT. Asiabeef Biofarm Indonesia, PT. Biofarm Plantation, PT. Juang Jaya Abdi Alam, PT. Ziong dan PT. Agro Ternakindo Terpadu Jaya.

Selain itu, PT. Elders Indonesia, PT. Green Agricultural Development,  PT. Nusantara Tropical Farm, PT. Puri Purnama Delod-Yeh, PT. Sumba Stock Feed, PT. Austasia Stock Feed, PT. Mitra Agro Mandiri Abadi, PT. Sae Abadi Santoso, dan PT. Ultra Sumatera Dairy Farm. Bantolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *