Kegiatan Milk Collection Point Pangalengan/ist

FFI Bangun 5 Milk Collection Point Digital di Pangalengan

Agrofarm.co.id-PT Frisian Flag Indonesia (FFI) terus memegang komitmennya untuk memberdayakan peternak sapi perah Indonesia dengan membangun Milk Collection Point (MCP) digital di Pangalengan. Lima (5) MCP memfasilitasi peternak sapi perah untuk mendapatkan penilaian kualitas dan harga susu yang adil.

Dalam rilis yang diterima Agrofarm, Sabtu (26/1/2018), melalui kemitraan dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pangalengan (KPBS Pangalengan), MCP juga dibangun untuk mendorong para peternak sapi perah agar terus untuk tata laksana dan tata kelola peternakan yang baik demi peningkatan kesejahteraan para peternak.

Saat ini, KPBS Pangalengan mencatat data Total Plate Count (TPC) sekitar 0,3 juta cfu/ml untuk kualitas susu terbaik yang dihasilkan oleh para peternak sapi perah. Indonesia masih terbilang jauh untuk dapat memproduksi susu secara mandiri.

FrieslandCampina, melalui anak perusahaannya di Indonesia, FFI, telah lama dikenal karena komitmen untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah lokal di Indonesia, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan susu di Indonesia. Pembentukan MCP berada di bawah pilar Less & Better dari Program FDOV (Sustainable Dairy Development Program) Indonesia, yang program jangka panjang yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas susu segar produksi Indonesia.

Program FDOV adalah kemitraan publik dan swasta yang bertujuan untuk meningkatkan peternakan sapi perah di Indonesia. Program FDOV diluncurkan pada tahun 2013 dan pelaksanaannya di Indonesia mencerminkan kemitraan jangka panjang antara FrieslandCampina, FFI, Koperasi Peternak Sapi Perah Lembang & Pangalengan, Wageningen University, konsultan Friesland, Agriterra, dan Pemerintah Belanda.

Khususnya di Pangelangan, sejak tahun 2015 hingga saat ini sebagai bagian dari program FDOV, FFI bermitra dengan KPBS Pangalengan untuk mendirikan lima MCP yang diperuntukan bagi para peternak sapi perah di Pangalengan, yaitu MCP Los Cimaung, MCP Warnasari, MCP Cipanas, MCP Citere, dan MCP Mekar Mulya. Hingga saat ini, sebanyak total 806 peternak sapi perah telah difasilitasi oleh kelima MCP, yang dilengkapi dengan sistem barcode digital yang akan membantu peternak sapi perah untuk mendapatkan penilaian yang valid untuk penetapan harga susu yang adil.

Akhmad Sawaldi bersama Nasrum Ilmudin, Perwakilan KPBS Pangalengan/ist

Setelah peternak sapi perah membawa susu hasil produksinya ke MCP, sistem digital pada MCP akan menghitung Total Plate Count (TPC) atau jumlah bakteri yang terkandung dalam susu segar.

Semakin rendah angka TPC, semakin tinggi kualitas susu segar dan susu akan dihargai lebih tinggi. Sistem digital yang masih tergolong baru di Indonesia ini diterapkan di MCP juga akan memudahkan peternak sapi perah untuk mendapatkan akses digital ke data susu mereka, termasuk analisis data TPC dan komposisi susu. Sistem barcode digital juga diharapkan dapat menghindari kesalahan manusia dalam memasukkan data serta mengurangi limbah kertas.

Kami berharap pembentukan MCP dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para peternak sapi perah. Kami tidak hanya menyediakan sistem digital untuk penilaian kualitas dan penetapan 2 harga susu, namun melalui inisiatif MCP, kami juga memberikan pembinaan dan pelatihan serta alat pendukung untuk mendorong mereka terus meningkatkan tata laksana dan tata kelola peternakan sapi perah. Sistem digital kami akan memungkinkan data nilai TPC per peternak dari susu yang diproduksi untuk dipantau secara ketat dan disimpan untuk proses pembelajaran dan pengalaman peternak. Pada akhirnya, kami berharap usaha peternakan para peternak dapat meningkat secara berkelanjutan, kata Akhmad Sawaldi, DDP Manager dan FDOV Project Frisian Flag Indonesia.

Apresiasi serupa juga diungkapkan oleh H. Aun Gunawan, SE, Ketua KPBS Pangalengan. Kami sangat menghargai inisiatif FFI yang telah menginspirasi para peternak sapi perah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sejak MCP digital beroperasi di Pangalengan, terdapat kenaikan harga susu sebesar 10% yang dihasilkan oleh peternak sapi perah. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas susu secara konsisten. Kedepannya, kami menargetkan agar lebih banyak peternak sapi perah yang mendapatkan kenaikan harga. Saya juga berharap FFI dapat memperluas MCP digital ke daerah lain karena akan lebih baik jika para peternak sapi perah di Indonesia juga terinspirasi dan termotivasi oleh inisiatif MCP.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Susu FFI menawarkan inisiatif MCP untuk membantu memotivasi peternak sapi perah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun, pengelolaan peternakan sapi perah yang baik juga berperan penting dalam memproduksi susu berkualitas tinggi. Proses pemerahan susu yang tepat adalah salah satu faktor dalam pengelolaan peternakan sapi perah yang baik dan perlu dipraktekkan secara konsisten oleh para peternak sapi perah. Sebelum membawa susu mereka ke MCP, peternak sapi perah harus melalui proses pemerahan susu yang tepat untuk memastikan hanya susu berkualitas terbaik yang didistribusikan ke koperasi.irsa/rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *