Beranda Sawit Tiga Perusahaan Sawit Raksasa dan LSM Kerjasama Penyelamatan 10.000 Orangutan

Tiga Perusahaan Sawit Raksasa dan LSM Kerjasama Penyelamatan 10.000 Orangutan

BERBAGI
Orangutan. (ist)

Agrofarm.co.id Tiga group perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia yakni Wilmar, Sime Darby dan Musim Mas, bersama dengan Orangutan Land Trust dan sejumlah pakar konservasi satwa liar dan LSM membentuk Aliansi PONGO, sebuah inisiatif baru yang ditujukan untuk mendukung pengelolaan orang utan dan satwa liar lainnya di lanskap kelapa sawit.

Meskipun terdapat persepsi luas mengenai budidaya kelapa sawit yang tidak sesuai dengan perlindungan satwa liar, penelitian terbaru yang dilakukan oleh LSM Borneo Futures untuk Orangutan Land Trust dan Wilmar International, menunjukkan bahwa ada beberapa cara agar industri kelapa sawit dan orangutan dapat hidup berdampingan.

Perusahaan kelapa sawit, yang merupakan anggota Aliansi PONGO, mengakui tanggung jawab mereka untuk memastikan bahwa budidaya kelapa sawit dapat dilakukan dengan meminimaliasi dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati lokal dan berkomitmen untuk mempromosikan penggunaan pengembangan lanskap yang berkelanjutan (disebut ‘pendekatan lanskap’) di seluruh Pulau Borneo.

Adapaun pendekatan lanskap tidak hanya di satu tempat konsesi kelapa sawit atau konsesi lainnya, tetapi di ekoregion secara keseluruhan karena satwa liar tidak hanya tinggal di dalam batas-batas konsesi tertentu, namun mereka bergerak melintasi keseluruhan bentang alam yang mereka anggap sebagai habitat alami mereka.

Pendekatan Aliansi PONGO melibatkan semua pemangku kepentingan di lapangan, termasuk perusahaan kelapa sawit, pemerintah daerah dan masyarakat lokal untuk menerapkan praktik pengelolaan terbaik untuk melindungi orangutan dan satwa liar dalam lanskap kelapa sawit,” kata Ginny Ng Siew Ling, Forest Sustainability Manager with Wilmar International dalam keterangan resminya, Selasa (13/6/2017).

Orangutan adalah spesies yang terancam punah, yang populasinya telah berkurang lebih dari setengah selama 50 tahun terakhir karena perburuan liar, penebangan liar dan pertanian intensif. Saat ini, populasi orangutan terbesar di dunia terdapat di pulau Borneo, yang dimiliki oleh tiga negara, yaitu, Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Sertifikasi RSPO dan kebijakan perusahaan mengenai Melarang Deforestasi, Melarang penanaman di Lahan Gambut dan Melarang eksploitasi, memberikan dampak positif dalam keberlangsungan hidup species yang ada, seperti yang tertulis di Borneo Futures, salah satu anggota dari Aliansi. Namun, masih ada sekitar 10.000 orangutan yang hidup dalam konsesi kelapa sawit non-sertifikasi dimana beresiko punah jika habitatnya tidak dikelola dengan baik.

Dr. Erik Meijaard, seorang peneliti independen di Center of Excellence for Environmental Decisions (sebuah kemitraan antara lima universitas di Australia) dan pendiri Borneo Futures, menjelaskan hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif di tingkat lanskap dapat mengurangi perburuan satwa liar.

Sekarang, langkah selanjutnya adalah meningkatkannya dan melakukan diskusi dengan semua perusahaan kelapa sawit yang memiliki orangutan di konsesi mereka di wilayah Borneo untuk membahas rencana aksi bersama, pungkasnya. Beledug Bantolo