Beranda Industri & Keuangan Tekstil Lokal  Ambruk Digusur Impor

Tekstil Lokal  Ambruk Digusur Impor

BERBAGI

Agrofarm.co.id – Sekretaris Eksekutif Badan Pengurus Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ernovian Ismy, menyatakan, kerugian akibat impor pakaian bekas sekitar Rp 10,9 triliun. Ini membuat daya saing IKM TPT tergerus habis oleh pakaian bekas. “Selanjutnya, hal ini akan berpengaruh terhadap penurunan pajak,” ujar Ismy pada Agrofram di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta.

Dia mencatat, dari total peredaran produk TPT di pasar domestik Rp154,32 triliun, impor resmi mencapai Rp 48,02 triliun atau 31% dari nilai pasokan produk lokal sebesar Rp 95,35 triliun. Selisih sebesar 7% diisi oleh pakaian impor bekas.“Harus ada operasi pemberantasan pakaian bekas impor, mulai dari pengetatan di sektor ritel hingga pengawasan pelabuhan tikus.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menyatakan, peritel modern tidak akan menjual pakaian bekas. Sebaliknya, maraknya pakaian bekas justru merugikan peritel modern.

“Saat ini, masyarakat masih terpengaruh brand image dari suatu produk, sehingga mereka berburu juga pakaian bekas impor. Jadi, kami peritel juga bersaing. Pesan saya, daripada beli produk bekas, mendingan beli produk dalam negeri,” ujar Tutum.

Selama ini, dia mengaku sulit mencegah peredaran pakaian bekas, karena masih ada permintaan pasar. Oleh karena itu, dia meminta pemerintah memutus rantai tersebut. “Demand masih, karena masyarakat menengah bawah sangat mementingkan harga jual. Yang jelas, kalau impor pakaian bekas . sudah dilarang, industri dalam negeri harus mengisi kekosongan pasar,” ujar Tutum.

Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI) memperkirakan nilai impor garmen ilegal menembus Rp 100 triliun per tahun. Keadaan ini merugikan pemain garmen nasional.

“Jumlah itu tidak termasuk impor pakaian bekas yang mencapai Rp10,9 triliun,” ujar Ketua APGAI Poppy Dharsono.

Poppy menjelaskan, pada 2014, total pasar aparel (garmen, kaus kaki, dan topi) mencapai Rp 300 triliun. Dari jumlah itu, pasokan garmen industri lokal mencapai Rp 95 triliun dan impor resmi Rp 48 triliun.

Adapun pasokan untuk kaos kaki dan topi sekitar Rp 56 triliun. Dengan demikian, terdapat selisih antara pasar dan pasokan yang tercatat sekitar Rp 101 triliun. Selisih ini diduga diisi oleh garmen impor ilegal.“Tahun ini, impor garmen diperkirakan naik menjadi Rp 60 triliun,” kata Poppy.

Dia menyatakan, keluhan utama industri garmen adalah produk impor ilegal. Perhitungan kerugian antara impor garmen ilegal dan pakaian bekas berbeda. Pasalnya, industri garmen kebanyakan merupakan pabrik besar dan kebanyakan menjadi pemasok departement store untuk kalangan menengah atas. Sementara itu, impor pakaian bekas kebanyakan menyasar masyarakat menengah bawah dan menggerus daya saing industri kecil menengah (IKM) tekstil dan produk tekstil (TPT).

“Kalau impor pakaian bekas perhitungannya beda dengan APGAI. Yang jelas, hal itu merugikan IKM, sehingga harus ditindak lanjuti,” ujar Poppy

Sebelumnya, Direktur Jendral Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan (Widodo) mengatakan, berdasarkan Undang Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, impor barang harus dalam keadaan baru. Atas dasar itu, Kemendag telah melarang importasi pakaian bekas. Larangan ini termuat dalam Kepmenperindag RI No 230/MPP/Kep/7/1977 tentang Barang Yang Diatur Tata Niaga Impornya dan Kepmenperindag RI No 642/MPP/Kep/9/2002 tentang Perubahan Lampiran I Kepmenperindag RI No. 230/MPP/Kep/7/1977 tentang Barang Yang Diatur Tata Niaga Impornya. “Semua Kepmenperindag ini mengatur larangan mengimpor pakaian bekas,” jelas Widodo.

Masuk Lewat Pelabuhan Tikus

Masuknya pakaian bekas melalui pelabuhan tikus yang sulit dideteksi Kemendag. Untuk itu, Kemendag bersama Polri, Ditjen Bea dan Cukai, dan instansi teknis terkait yang bergabung dalam TimTerpadu Pengawasan Barang Beredar (TTPB) akan mengintensifkan pelaksanaan pengawasan. Pemerintah melarang impor pakaian bekas, karena mengandung bakteri berbahaya.

Ditjen SPK Kemendag telah melakukan pengujian 25 contoh pakaian bekas yang beredar di pasar. Contoh diambil di Pasar Senen Jakarta, terdiri atas beberapa jenis pakaian, yaitu pakaian anak (jaket), pakaian wanita (vest, baju hangat, dress, rok, atasan, hot pants, celana pendek), pakaian pria (jaket, celana panjang, celana pendek, kemeja, t-shirt, kaos, sweater, kemeja, boxer, celana dalam).

Pengujian dilakukan terhadap beberapa jenis mikro organisme yang dapat bertahan hidup pada pakaianya itu bakteri staphylococcus aureus (Saureus), bakteri escherichia coli (Ecoli), dan jamur (kapang atau khamir). Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, ditemukan sejumlah koloni bakteri dan jamur yang ditunjukkan oleh parameter pengujian angka lempeng total (ALT) dan kapang pada semua contoh pakaian bekas yang nilainya cukup tinggi. (Dian Yuniarni)