Beranda Industri & Keuangan Swasembada Susu Terancam Gagal

Swasembada Susu Terancam Gagal

BERBAGI
Foto industri susu (Ist).

Agrofarm.co.id  –   Usaha peternakan sapi perah di tanah air butuh perhatian pemerintah. Tanpa ada kewajiban menyerap susu lokal, para pabrik akan beralih ke impor apabila peternak susu  menaikan harga. Kondisi ini menjadikan posisi tawar para peternak menjadi rendah.

“Posisi tawar peternak bisa naik apabila ada kewajiban penyerapan susu lokal. Harga susu juga akan diyakini lebih baik bagi keberlangsungan usaha peternakan rakyat,”jelas  Agus Warsito, Ketua  Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) di Jakarta.

Agus menjelakan, pemerintah punya target swasembada susu sebesar 40 persen yang dica nangkan pada 2020, namun target ini terancam tidak tercapai. Pasalnya, sampai saat ini sekitar 82 persen kebutuhan susu nasional masih didapatkan dari hasil impor. Kondisi ini dari hasil yang diperoleh akibat semakin berkurangnya jumlah peternakan sapi perah rakyat karena harga jual susu yang sangat rendah.

“Susu lokal dihargai sekitar Rp 4.000 – Rp 4.500 per liter. Harga yang rendah ini membuat peternak sapi perah mulai beralih untuk memotong sapinya dan dijual dalam bentuk daging karena harganya lebih mahal, “tandasnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS) Yelita Basri berpendapat,  industri pengolahan susu di seluruh Indonesia telah bermitra dengan para peternak rakyat selama 30 tahun. Bahkan, lebih dari 80 persen peternak sapi perah lokal sudah menjadi mitra industri pengolahan susu.

“Selama ini, industri pengolahan susu juga sudah menyerap produksi susu lokal, kalau kualitas susunya bagus bisa kami beli seharga Rp 6.000,” ujar Yelita.

Menurut Yelita, di dalam regulasi pemerintah yang propeternak, baik itu berupa kemitraan ataupun kewajiban serap dibutuhkan adanya suatu kajian terlebih dahulu. Pemetaan berupa kebutuhan dan produksi susu adalah beberapa hal yang perlu dikaji.

Bermitra dan Investasi

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meminta kepada para peternak sapi perah di dalam negeri untuk terus meningkatkan produksi susu seiring tingkat kebutuhan industri olahan susu nasional yang makin tinggi. Untuk itu, diperlukan program kemitraan dalam upaya peningkatan daya saing industrinya karena didukung pemenuhan bahan baku susu segar yang berkesinambungan dan berkualitas baik.

“Industrinya sudah meningkat tetapi suplai dari domestiknya menurun. Oleh sebab itu, yang akan kami dorong adalah bagaimana peternak sapi kita bisa meningkatkan produksi susu segarnya. Apalagi kebutuhan produk susu di pasar dalam negeri dan ekspor juga naik,” ujarnya ketika belusukan ke  di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Airlangga juga mengajak masyarakat untuk berinvestasi dalam dunia peternakan sapi perah. Pasalnya, selama ini peternakan secara umum belum dianggap menjadi bisnis yang menjanjikan. “Kami akan membuat program supaya peternakan sapi perah ini menarik bagi masyarakat. Targetnya penghasilan peternak sapi dalam sebulan minimal setara dengan upah minimum propinsi. Itu bisa dicapai kalau peternak memiliki delapan sampai 10 sapi,” paparnya.

Kemenperin mencatat, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan saat ini sebanyak 3,8 juta ton dengan pasokan bahan baku susu segar dalam negeri hanya sekitar 798.000 ton dan selebihnya masih diimpor dalam bentuk Skim Milk Powder, Anhydrous Milk Fat, dan Butter Milk Powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Sementara itu, tingkat konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 12,10 kilogram per tahun setara susu segar. Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kilogram per tahun, Myanmar 26,7 kilogram per tahun, Thailand 22,2 kilogram per tahun, dan Filipina 17,8 kilogram per tahun.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mangatakan, pihaknya akan menyinergikan program untuk peningkatan kebutuhan susu nasional. Kemendag juga akan meminta BBIB Singosari untuk melaksanakan program peningkatan populasi sapi perah.

“Kami akan merumuskan acuan harga susu dan penyerapannya sehingga peternak mendapat kepastian kalau hasil produksinya terserap. Bersama dengan Mentan, kami juga akan menyusun kebutuhan yang diperlukan BPIB saat ini,” jelasnya.

Kepala Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Enniek Herwijanti mengungkapkan, kebutuhan semen beku diperoleh dari aneka jenis sapi di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk kebutuhan bibit sapi impor, Enniek menyebutkan, dibutuhkan pembaharuan dan penambahan pejantan sebagai sumber sperma.

Hasil produksi semen beku untuk ternak produksi susu di BPIB selama ini sebagian besar sudah dibeli oleh Jawa Timur. Karena itu butuh penambahan, jika nantinya harus mendukung program kebutuhan sapi penghasil susu. “Semen beku untuk sapi-sapi impor seperti jenis Limosin dan Simental itu 75 persen dibeli Jawa Timur. Mereka memiliki 32 persen dari populasi sapi di Indonesia,” tuturnya. Irsa fitri