Beranda Sawit Sofyan, Anak Sukabumi Sukses Jadi Petani Plasma Hindoli

Sofyan, Anak Sukabumi Sukses Jadi Petani Plasma Hindoli

238
BERBAGI

Agrofarm.co.id – Kelapa sawit berkotribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani bukanlah isapan jempol belaka. Buktinya Sofyan, anak rantau dari Sukabumi, Jawa Barat sukses mejadi petani sawit dengan penghasilan Rp 9 juta per bulan.

Pria kelahiran Sukabumi ini dari kecil mempunyai cita-cita yang sangat sederhana. “Saya hanya ingin bisa  makan kenyang,” katanya. Namun kehidupannya berubah setelah ikut ayahnya bertansmigrasi ke Sumatera untuk menjadi petani kelapa sawit. “Sejak 1981 hijrah ke Sumatera Selatan (Sumsel) bersama orang tua, dan pada waktu itu masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar,” terangnya.

Sofyan menuturkan, kehidupan dirinya dan keluarga mengalami perubahan setalah menjadi petani plasma PT Hindoli, anak usaha Cargill.  “Alhamdulilah kehidupan berubah setelah menjadi petani mitra binaan Hindoli,” ujar Sofyan. Bahkan, katanya, dari penghasilannya menjadi petani mampu membiayai anak sulungnya hingga lulus S1 di Universitas Muhamdiyah.

Dia mengatakan, bermitra dengan Hindoli sejak tahun 1990 hingga kini. Banyak benefit yang diperoleh setelah menjadi petani binaan perusahaan. “Kami memperoleh bimbingan teknis kebun, administrasi koperasi dan harga premium,” katanya saat berbincang-bincang dengan media di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Alhasil, produktivitas sawit dan kesejahteraan petani meningkat. Dia menambahkan, produksi TBS sawit dalam satu bulan mencapai 6 ton per kavling (satu kavling = 2 hektar). “Penghasilan yang diperoleh tiap bulan bisa mencapai Rp 9 juta. Meskipun, diakuinya, pemdapatannya itu ditentukan oleh harga tandan buah segar (TBS) di tingkat Dinas Perkebunan,” terangnya.

Menurutnya, sekarang produksi maupun harga sedang mengalami penurunan. Produksi hanya 4,7 ton per kavling dengan penghasilan Rp 8,6 juta. “Itu pendapatan bersih setelah dipotong biaya produksi,” tandas Ketua Koperasi  Petani Kelapa Sawit (KPKS) Bakti Mulya Kabupaten Kabupaten Musi Banyuasin Sumsel.

Koperasi yang dipimpinnya saat ini mempunyai 382 anggota petani dengan total areal perkebunan sawit 764 hektar (ha). Dia mengungkapkan, perusahaan Hindoli juga membantu koperasi memperoleh dua sertifikat sawit berkelanjutan yaitu Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan International Sustainablity Carbon Certification (ISCC). “Adanya sertifikat ini petani menerima harga premium sebesar 4% dan 0,5% untuk koperasi dari Hindoli,” jelasnya.

Sedangkan, petani sawit mandiri produksi dan penghasilannya jauh dibawah petani plasma. Sofyan mengatakan, produksi TBS rata-rata hanya berkisar 2 ton hingga 2,5 ton per bulan dan penghasilannya sekitar Rp 2 juta-3 juta per bulan.

Dia menambahkan, petani plasma mempunyai akses pasar yang jelas karena dijamin oleh perusahaan. “Petani swadaya harga ditentukan oleh tengkulak, harga bisa dimainkan kapan saja,” tukasnya. Apalagi, lanjutnya, petani swadaya tidak mendapatkan bimbingan teknis, karena dalam budidaya sawit butuh pengetahuan teknis dan bibit unggul guna mendapatkan produktivitas tinggi.

PT Hindoli juga membantu dalam program peremajaan tanaman sawit (replanting) petani. Rata-rata usia kebun para anggota koperasi diatas 26 tahun. “Perusahaan berkomitmen menjadi avails di bank untuk pembiayaan replanting,” ujar pria berusia 45 tahun ini. Biaya yang dibutuhkan cukup besar Rp 120 juta per kavling.

Menurutnya, tabungan koperasi saat ini mencapai Rp 12 miliar,namun dana itu tidak cukup untuk membiayai program peremajaan. “Sehingga kekurangannya musti meminjam dari bank. Dana itu nantinya akan digunakan guna biaya hidup sehari-hari selama empat tahun,” katanya.  Beledug Bantolo

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here