Gula Rafinasi Rembes Terus


Majalah AgroFarm

Perembesan gula kristal rafinasi (GKR) itu sudah diketahui umum. Berlangsung bertahun-tahun. Tersebar di berbagai daerah di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Padahal GKR diperuntukkan kalangan industri. Gula rafinasi itu masuk secara ilegal melalui pelabuhan-pelabuhan kecil, kemudian kemasannya diganti dengan merek lokal.

Sejak tahun 2008, produktivitas gula nasional terus menurun. Data 2010 setiap satu hektar (ha) hanya menghasilkan 4,55 ton gula dan tahun sebelumnya 4,56 ton. Sementara angka impor gula rafinansi terus naik sekitar 33% dengan volume 144 ribu ton.

Tahun ini kuota impor raw sugar (gula mentah) naik menjadi 2,4 juta ton dari tahun sebelumnya sebesar 2,3 juta ton. Suryo Alam, Sekjen Agri mengatakan, naiknya impor lantaran adanya pertimbangan kenaikan industri makanan minuman sebesar 11% untuk tahun lalu dan membutuhkan bahan baku gula rafinasi yang naik sebesar 5%.

Akibat kelebihan stok gula impor inilah akhirnya GKR merembes ke pasar konsumsi. Importir gula, juga akhirnya “bermain” dengan menjual stok gula impor ini ke sektor rumah tangga. Kini Pemerintah tengah melakukan audit distribusi GKR untuk mencari sumber perembesan komoditas yang menurut ketentuan diperuntukkan bagi industri makanan/ minuman tapi malah dijual ke pasar konsumsi.

Menurut Suryo Alam, Sekjen Asoasiasi Gula Rafinasi Indonesia(Agri) yang ditemui Agrofarm menyebutkan, ada tiga poin penyebab merembesnya gula rafinasi ke pasar. Pertama, terjadinya rembesan gula rafinasi ke pasar tak lepas ada perubahan atau pergeseran dan peningkatan permintaan pasar yang meminta kualitas gula yang lebih baik untuk konsumsi industri. Termasuk industri rumah tangga. Kedua, adanya kelangkaan pasokan gula di beberapa daerah, sehingga gubernur setempat mengambil kebijakan untuk meminta rafinasi mengirim pasar.

Ketiga, gula yang beredar di pasar disamping rafinasi juga ada gula rafinasi eks impor. Ada juga gula sekelas rafinasi dari pabrik swasta yang mendapat ijin impor raw sugar. Selain kemungkinan gula rafinasi eks selundupan untuk dijual di perbatasan.

“Saya melihat tiga poin tersebut menyebabkan merembesnya gula rafinasi ke pasar,” ujar Suryo Alam. Untuk data jumlah dan daerah mana saja, Agri tidak memiliki data yang akurat. Karena lanjut Suryo, saat ini Kementerian Perdagangan sedang melakukan audit distribusi dan pemantauan pasar.

Lalu apa dampak bagi tata niaga gula nasional? Suryo melihat ada dampak positif dan negatifnya. Pasalnya, konsumen terjamin pasokan gula dengan kualitas bagus berstandar SNI dengan harga yang terjangkau.

Ini juga dapat mendorong produsen Gula Kristal Putih (GKP) untuk memproduksi gula yang berkualitas dan peningkatan efisiensi. Sedangkan dampak negatifnya terjadinya distorsi pasar. “Perlu diingat ini tidak mengganggu harga di pasaran, karena harga rafinasi lebih mahal dari GKP produksi local, dan ada jaminan kualitas dan sudah berstandar SNI,” jelas Suryo.

Menyusul terjadinya perembesan GKR, menurut catatan Agri, selama ini anggota Agri belum pernah ada yang menerima sanksi secara resmi. Namun Agri akan mendukung keputusan pemerintah jika ada anggota Agri terbukti melanggar peraturan diberi sanksi, setelah melalui temuan hasil distribusi audit.

Oleh karena itu, sebelum memberikan sanksi Kementerian Perdagangan akan melakukan audit sesuai dengan surat Menteri Perdagangan No.111/M-DAG/2/2009 tentang Petunjuk Pendistribusian Gula Rafinasi. Dalam surat tersebut ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh para produsen gula rafinasi.

Pertama, distributor ditunjuk resmi oleh produsen gula rafinasi, distributor menunjuk sub distributor, serta nama distributor dan subdistributor wajib disampaikan ke dinas yang bertanggung jawab di bidang perdagangan tingkat provinsi.

Kedua, produsen, distributor, dan subdistributor menjual gula rafinasi langsung ke industri, serta dalam kemasan karung dan tidak boleh kiloan.Ketiga, kemasan gula rafinasi wajib mencantumkan produk gula kristal rafinasi (GKR), hanya kebutuhan industri, Standar Nasional Indonesia (SNI), berat bersih, dan nama produsen.

Keempat, mengenai kualitas GKR, harus sesuai dengan SNI. Yakni, mutu I maksimal Icumsa 45 dan mutu II maksimal dengan Icumsa 80. Hal itu mengacu pada Permen Perindustrian No.83/M-IND/PER/11/2008 tanggal 13 November 2008.

Kelima, industri harus menunjukkan kelengkapan dokumen agar dapat membeli gula rafinasi. Antara lain, izin usaha untuk industri skala besar-menengah, Tanda Daftar Industri (TDI) untuk industri skala kecil, dan surat keterangan dari RT/ RW yang diketahui dari industri kecil dan industri rumah tangga.

Saat ini Kementerian Perdagangan dalam setiap melakukan audit distribusi merujuk pada surat itu, termasuk kepatuhan Agri. “Sehingga apakah Agri mematuhi peraturan atau melanggar, tinggal menunggu hasil audit saja nanti,” tegas Suryo.

Suryo menambahkan, pemerintah dalam pengawasan gula rafinasi dipasaran telah berlangsung dengan baik. Dan untuk tahun ini ada peningkatan pengawasan melalui distribusi audit. beledug bantolo/irsa fitri

comments powered by Disqus

Majalah Agrofarm

Majalah Agrofarm Edisi Terbaru "November 2014"

Read now Berlangganan

Berita Terbaru

Must Read!
X