Beranda Pertanian Pupuk Indonesia Revitalisasi Tiga Pabrik Tua

Pupuk Indonesia Revitalisasi Tiga Pabrik Tua

125
BERBAGI

Agrofarm.co.id- Guna meningkatkan daya saing perusahaan dan efisiensi penggunaan bahan baku gas, PT Pupuk Indonesia (Persero) melakukan sejumlah program revitalisasi pabrik pupuk.

Pupuk Indonesia Group telah melakukan berbagai proyek pengembangan dan melakukan revitalisasi, yaitu mengganti pabrik yang sudah tua dengan pabrik yang lebih canggih dan hemat konsumsi gasnya, ujar Kepala Corporate Communication PT Pupuk Indonesia (Persero) Wijaya Laksana.

Menurutnya, hal ini dilakukan lantaran pabrik pupuk yang dimiliki oleh perusahaan sebagian sudah tua diatas 20 tahun. Alhasil konsumsi gas menjadi boros. Sejauh ini, sudah tiga proyek besar yang dilaksanakan Pupuk Indonesia.

Pertama, Pabrik Pusri 2B di Pupuk Sriwidjaja, Palembang saat ini telah selesai pembangunannya. Pabrik dengan kapasitas 907 ribu ton urea per tahun dan 660 Ribu ton amoniak per tahun ini akan menggantikan kakaknya, Pusri 2, yang sudah sangat boros dengan konsumsi gas 38,16 per MMBTU.

Adapun Pusri 2B memiliki konsumsi gas hanya 24,25 MMBTU/ton, dan penyelesaiannya sudah mencapai 99%. Pusri 2B sudah tinggal memasuki tahapan performance test dan akan segera beroperasi. “Untuk Pusri 2B penyelesaiannya sudah 99 persen tinggal memasuki tahap performence test, tahun ini beroperasi, ujar Wijaya.

Kedua, di Gresik juga tengah dibangun Amurea 2 di Petrokimia Gresik. Pabrik ini akan menambah kapasitas produksi Petrokimia Gresik sehingga dapat mencukupi kebutuhan pasar di Jawa Timur yang memang merupakan konsumen urea terbesar di Indonesia. Kapasitas produksi Amurea 2 adalah 570 ribu ton urea per tahun dan 660 ribu ton per tahun amoniak, tambahnya.

Ketiga, Pabrik Kaltim-5, milik Pupuk Kaltim yang berlokasi di Bontang, telah selesai dibangun dan beroperasi secara komersial sejak November 2015. Pabrik ini berkapasitas 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amoniak per tahun dan dibangun untuk menggantikan pabrik Kaltim-1. Konsumsi gas pabrik yang merupakan pabrik urea terbesar di Asia Tenggara ini hanya 25 MMBTU /ton urea. Bandingkan dengan pendahulunya, Kaltim-1, yang konsumsi gasnya mencapai 37,82 MMBTU/ton, terangnya.

Dia mengungkapkan, revitalisasi pabrik ini untuk menjaga kemampuan produksi sehingga lebih berdaya saing. “Salah satunya adalah efisiensi bahan bakar gas. Apalagi, PT Pupuk Indonesia sudah berjanji turut mengamankan ketahanan pangan nasional, tandasnya.

Menurutnya, revitalisasi pabrik sudah menggunakan teknologi baru yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar, karena pada pabrik lama menggunakan rata-rata 38,26 MMBTU/ton, sementara setelah direvitalisasi menjadi 24,25 MMBTU/ton. “Penggunaan gas yang tinggi ini juga semakin memberatkan industri seiring dengan menguatnya dolar karena membeli dengan dolar,” kata dia.

Harga gas untuk industri strategis di Indonesia (petro kimia, semen, dan pupuk) ditetapkan sebesar USD 6 MMBTU/ton, turun bertahap dari USD 8,5 MMBTU/ton kemudian menjadi USD 6,6 MMBTU/ton.

Wijaya berharap harga gas industri untuk produksi pupuk bisa turun lagi dari USD 6 MMBTU/ton. Pasalnya, dengan harga gas yang terbilang masih tinggi membuat pupuk dalam negeri sulit bersaing dengan pupuk impor.

“Tahun lalu kondisi harga gas relatif tinggi sehingga biaya produksi pupuk kita USD 240-250/ton, kalah dengan pupuk dari China USD 200 MMBTU/ton karena harga gas mereka (China) cuma USD 2 sampai USD 3 . Idealnya kalau harga gas kita juga bsa sebesar USD 2-3 MMBTU/ton,” katanya.

Peran gas dalam produksi pupuk urea sangatlah penting. Gas akan dikonversi menjadi amonia yang disatukan dengan udara dalam hal ini CO2. Kedua zat tersebut kemudian menjadi pupuk urea yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Adapun dalam proses produksi pupuk, gas menyerap lebih dari 70 persen biaya produksi. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here