Beranda Liputan Khusus Produksi Susu Lokal Turun dan Kualitasnya Rendah

Produksi Susu Lokal Turun dan Kualitasnya Rendah

BERBAGI
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Agro Panggah Susanto dan CEO of AustAsia Dairy Group, Edgar Collins minum susu bersama seusai peresmian Manufacturing Unit PT. Greenfields Indonesia/hms

Agrofarm.co.id-Pemerintah telah mencanangkan program kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak sapi lokal untuk meningkatkan integrasi dalam proses produksi sehingga mampu mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Upaya ini sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor domestik strategis sebagaimana yang diamanatkan pada Nawa Cita.

“Diharapkan program kemitraan dapat meningkatkan suplai bahan baku susu segar dari peternak sapi kita, yang ditargetkan dari 23 persen di tahun 2016 menjadi 41 persen tahun 2021 dengan kualitas semakin baik,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada peresmian Manufacturing Unit PT. Greenfields Indonesia di Desa Palaan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (4/5/2017).

Guna mencapai sasaran tersebut, Menperin meminta pelaku industri supaya bermitra dengan koperasi atau kelompok usaha bersama (KUB). Misalnya, satu industri membina minimal 3-5 peternak sapi untuk meningkatkan penyerapan susu segar dari dalam negeri. Kemitraan ini mendorong program pemerataan kesejahteaan masyarakat.

“Kami juga mengimbau kepada pelaku industri agar terus berkomitmen mengembangkan susu segar dalam negeri dengan pendekatan asistensi untuk peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas, dan budidaya ternak yang lebih baik,” paparnya.

Selanjutnya, Kementerian Perindustrian aktif melakukan koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Koperasi dan UKM.

“Mengenai kebijakan penetapan harga susu, idealnya untuk pertenak sekitar Rp5.500-6.000 per liter, sehingga apabila peternak memiliki 10 sapi bisa dapat penghasilan sebesar Rp2 juta per bulan,” tegas Airlangga.

Kemenperin pun siap membantu peralatan produksi yang dibutuhkan oleh peternak sapi lokal. “Bahkan, kami memberikan apresiasi kepada Greenfields yang akan membangun institut pelatihan bagi pertenak sapi untuk memberdayakannya,” lanjut Airlangga. Kemenperin akan memfasilitasi kemudahan investasi apabila Greenfield minat mendirikan pabrik di luar Jawa seperti Sulawesi, Kalimantan atau Sumatera.

Menperin mengungkapkan, dari 58 industri pengolahan susu yang beroperasi di Indonesia, hanya delapan perusahaan yang bermitra dengan peternak dan menyerap susu segar di dalam negeri. Pasalnya, produksi susu segar cenderung terus turun dan dan kualitasnya masih rendah. Kemenperin mencatat, pada tahun 2016, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri untuk industri pengolahan susu sebanyak 3,7 juta ton.

Sementara itu, lanjut Airlangga, pasokan bahan baku susu segar dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 852 ribu ton atau 23 persen, dan sisanya impor sebesar 2,8 juta ton dalam bentuk skim milk powder, anhydrous milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

PT. Greenfields Indonesia merupakan salah satu anak perusahaan AustAsia Dairy Group yang mampu mengembangkan industri pengolahan susu di dalam negeri secara terintegrasi mulai dari pembibitan, budidaya sapi perah, pemerahan sapi hingga industri pengolahan susu segar menjadi produk susu Ultra High Temperature (UHT), susu Extended Self Life (ESL), dan keju mozarella. Total kapasitas produksi perusahaan untuk mengolah susu segar bisa mencapai mencapai 120 ton per hari.

Investasi Rp335 miliar
Pada kesempatan yang sama, Menperin meminta kepada pelaku industri pengolahan susu di dalam negeri untuk menjalankan komitmen investasinya sehingga akan berkontribusi dalam menumbuhkan sektor manufaktur dan perekonomian nasional. “Selain memenuhi kebutuhan produk susu olahan bagi masyarakat, ekspansi usaha akan menimbulkan multiplier effect yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. Greenfields Indonesia yang telah mendirikan pabrik baru di Kabupaten Malang serta memproduksi berbagai produk makanan dan minuman berbasis susu segar. “Ini patut dicontoh, pabriknya terintegrasi dengan peternakan sapi dan proses produksinya telah berstandar internasional,” ujarnya.

Pabrik baru yang dibangun tersebut seluas tujuh hektare dengan nilai investasi sebesar Rp335 miliar dan saat ini menambah tenaga kerja sekitar 200 orang. Kapasitas produksi dari ekspansi ini mampu mengolah susu segar mencapai 72 juta liter per tahun yang dihasilkan oleh 20 ribu ekor sapi perah. Capaian ini akan mendukung posisi Greenfields sebagai merek susu segar nomor satu di Indonesia.

Menurut CEO of AustAsia Dairy Group, Edgar Collins, Greenfields telah menghasilkan produk susu segar dan olahannya untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang masyarakat Indonesia sejak tahun 2000. “Pabrik baru Greenfields di Desa Palaan ini akan meningkatkan produksi susu segar dalam negeri dan mendukung usaha meningkatkan konsumsi susu per kapita di Indonesia,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, perusahaan bertekad akan meningkatkan penetrasi brand Greenfields ke pasar luar negeri. Saat ini produk Greenfields telah diekspor ke Hong Kong, Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Myanmar dan Kamboja.

Greenfields Indonesia memiliki fasilitas peternakan sapi perah dan pengolahan susu terintegrasi yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan 100 persen susu segar yang berasal dari peternakan sendiri tersebut, perusahaan ini menjadi salah satu produsen olahan susu di Indonesia yang secara total tidak bergantung pada hasil susu impor. Bahkan, pabrik baru ini ramah lingkungan karena menggunakan cangkang kelapa sawit dan cangkang kemiri sebagai bahan bakar untuk menghidupkan boiler.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro Panggah Susanto menyampaikan, industri pengolahan susu merupakan salah satu bagian dari subsektor industri makanan dan minuman. Subsektor ini sebagai kelompok industri strategis dan mempunyai prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan.

Hal tersebut ditunjukkan dengan laju pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun 2016 sebesar 8,46 persen, di atas pertumbuhan industri pengolahan non migas sekitar 4,42 persen. “Peran subsektor industri makanan dan minuman pada PDB industri non migas juga terbesar dibandingkan subsektor lainnya, yaitu mencapai 37,42 persen pada tahun 2016,” imbuhnya.

Dari segi perdagangan internasional, lanjut Panggah, sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2016 mencapai USD26,39 miliar. Dengan impor pada tahun yang sama sekitar USD9,65 miliar, sehingga subsektor industri ini mengalami neraca perdagangan yang positif. Di samping itu, perkembangan realisasi investasi subsektor ini terus mengalami kenaikan hingga Rp32 triliun untuk PMDN dan USD2,1 miliar untuk PMA di tahun 2016.

Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 12,10 kg/kapita/tahun setara susu segar. Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, Thailand 22,2 kg/kapita/tahun, dan Philipina 17,8 kg/kapita/tahun.

”Kondisi tersebut menjadi peluang dan sekaligus tantangan bagi usaha peternakan sapi perah di dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar, sehingga secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan bahan baku susu untuk industri pengolahan susu di dalam negeri,” papar Panggah. irsa