Beranda Ekspresi Polemik Garam

Polemik Garam

416
BERBAGI
Petani garam/ist

AGrofarm.co.id – Garam adalah produk sederhana dan murah. Apalagi, negeri ini dikenal sebagai negeri bahari dengan jumlah pantai melimpah yang panjangnya mencapai 95.181 km. Namun, jangan tertawa jika Indonesia tiap tahun membuang devisa ratusan miliar hanya untuk membeli garam.  Ironisnya, Indonesia justru mengimpor garam dari Negara-negara yang garis pantainya jauh lebih kecil.

Tercatat Indonesia mengimpor garam terbanyak dari Australia, India, Selandia baru bahkan Indonesia juga mengimpor garam dari Singapura yang tanahnya saja di dapat dari reklamasi pantai. Ironis memang!

Pro Kontra Kebijakan Impor Garam selalu menjadi polemik. Impor itu dinilai tidak memihak kepada petani garam dan dianggap lebih memihak pada kepentingan perusahaan besar pengimpor garam. Alasan utama yang dikemukakan pemerintah pan perusahaan pengimpor adalah bukan soal kurangnya produksi garam lokal, tapi karena alasan kualitas garam lokal/tradisional tidak memenuhi standar mutu untuk industri. Sebagai informasi, garam yang ada dipasaran terdiri atas garam untuk konsumsi dan garam untuk industri. Hasil produksi garam lokal kita dianggap tidak memenuhi standar untuk garam industri sehingga harus diimpor dari Negara lain.

Yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana peranan pemerintah dalam hal ini, apa yang telah dilakukan dan seberapa efektif usaha pemerintah melakukannya?. Karena yang terlihat bagi kita semua adalah bahwa dengan menggunakan alasan mutu pemerintah terkesan hanya ingin gampangnya saja.

Apa yang telah dilakukan pemerintah agar garam produksi kita lebih berkualitas dan memenuhi standar industri? Sejauh mana usaha riset pemerintah? Kenapa pemerintah tidak berusaha sekuat tenaga memfasilitasi dibangunnya pabrik yang bisa menghasilkan garam bermutu?. Apa yang telah dilakukan pihak perguruan tinggi dan akademisi dalam menyelesaikan masalah ini? Seberapa besar dana yang digelontorkan pemerintah untuk mencari solusi masalah ini?

Memang pemerintah telah menetapkan aturan kuota bahwa perusahaan pengimpor garam harus membeli sekian persen produksi garam lokal, tapi sampai kapan? Apakah ini menyelesaikan masalah yang ada? Tentu saja tidak. Karena kita akan tetap terus menjadi pengimpor garam selama tidak ada keinginan dan upaya untuk bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Karena persoalannya tidak terbatas pada sebuah harga diri sebagai Negara dengan garis pantai terpanjang kok menjadi pengimpor garam, bukan sebatas itu. Tapi pertanyaannya adalah dimana keberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil, terhadap petani garam kita?. Apakah selamanya kita akan mengimpor garam?  Kapan petani garam bisa lebih maju dan sejahtera?…entahlah … (Dian Yuniarni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here