Beranda Pertanian Risfaheri, Kepala BB Pasca Panen : Pemerintah Perlu Menetapkan HET Beras Premium

Risfaheri, Kepala BB Pasca Panen : Pemerintah Perlu Menetapkan HET Beras Premium

BERBAGI
Risfaheri, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian. (Ist)

Agrofarm.co.id-Pemerintah perlu menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium. Pasalnya, di pasaran saat ini disinyalir ada puluhan merek beras yang mengklaim sebagai beras premium, baik dinyatakan pada label maupun secara tersirat. Beras tersebut juga dipatok dengan harga cukup tinggi Rp 13.500 hingga Rp 27.000 per kilogram (kg).

Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr. Ir. Risfaheri, M.Si Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian (BB-Pascapanen) Badan Litbang Pertanian Kementerian Peranian dalam siaran persnya, di Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor, Kamis (03/08/2017).

Risfaheri mengungkapkan, adanya kecenderungan terjadi peningkatan peredaran beras Premium di pasaran perlu di cermati oleh Pemerintah. “Peningkatan ini diduga karena adanya keleluasaan menjual Beras Premium dengan harga yang tinggi, tidak seperti halnya harga beras medium,” katanya.

Menurutnya, bila hal ini tidak segera diantisipasi dapat berakibat berkurangnya pasokan beras medium di pasaran karena produsen Beras beralih ke Beras Premium. Selain itu, katanya, akan terjadi pengurangan pasokan beras medium di pasar. “Kondisi ini dapat memicu naiknya harga beras medium karena pengaruh psikologis harga dari beras Premium,” jelasnya.

Dia menuturkan, harga eceran tertinggi (HET) beras premium harus dikalkulasi secara cermat agar sebanding dengan tambahan biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen beras untuk memproduksi beras premium tersebut.

“Sehingga tidak mendorong beralihnya produsen beras medium menjadi produsen beras premium. Dengan demikian, produksi beras premium didasari oleh segmen pasar yang dimiliki atau segmen pasar yang akan disasar oleh produsen beras, dan bukan dipicu karena perbedaan keuntungan yang besar bila memproduksi beras premium,” jelasnya.

Penggilingan beras Perlu Diatur

Adapun penggilingan padi besar, selain memproduksi beras premium dari bahan baku gabah, juga dapat memproduksi beras premium dari beras pecah kulit atau beras medium (Rice to Rice) dari produksi penggilingan padi kecil (PPK) dan menengah (PPM). PPK memiliki kapasitas giling 3 ton gabah/hari dengan kelas mutu yang dihasilkan beras pecah kulit, dan biasanya dijual pada pasar lokal di wilayah penggilingan tersebut. Sedangkan PPM memiliki kapasitas giling 5-10 ton gabah/hari, dan menghasilkan kelas mutu beras Medium.

Risfaheri mengungkapkan, apabila tidak ada pengendalian terhadap penggilingan beras tersebut, maka beras dari PPK dan PPM akan masuk ke penggilingan beras medium. “Imbasnya pasokan beras medium di pasaran akan berkurang. Penggilingan padi besar dengan mudah dapat menyerap produksi beras dari PPK dan PPM karena harga pembeliannya diatas harga pasar,” tandasnya.

Terkait kasus PT Indo Beras Unggul (IBU), produsen beras premium tersebut mampu membeli harga gabah Rp 4.900 per kg diatas HPP gabah yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 3.700 per kg. Menurutnya, keberanian produsen beras Maknyus tersebut untuk membeli bahan baku dengan harga tinggi karena produksi beras premiumnya bisa dipasarkan dengan harga cukup tinggi.

“Apabila pemerintah dapat menetapkan HET yang ideal untuk beras premium, maka PPK dan PPM akan lebih memilih menjual hasil produksinya ke pasar dari pada ke penggilingan beras,” ujar Risfaheri.

Penguatan Penggilingan Padi Kecil (PPK)

Saat ini mesin yang dimiliki PPK hanya mampu meproduksi beras pecah kulit dan maksimum kelas mutu Beras Medium 3. Sedangkan PPM dapat menghasilkan beras sampai pada kelas mutu Beras Medium 1.

Untuk itu, katanya, secara teknis perlu penguatan PPK dengan penambahan mesin grader, polisher dan cleaner yang mampu menghasilkan beras premium. Begitu juga PPM dengan meningkatkan derajat sosoh (polisher) dan persentase beras kepala (grader) dapat menghasilkan beras premium.

Peningkatan kemampuan PPK dan PPM untuk dapat memproduksi Beras premium hendaknya diarahkan untuk memperluas segmen pasarnya, dan bukan untuk menggeser produksi beras medium ke beras premium. “Sehingga tidak mengganggu pasokan meras medium di pasar,” ujarnya.

“Dengan demikian, segmen pasar beras premium tidak dimonopoli oleh penggilingan padi besar saja. Hal ini bisa dikendalikan jika HET untuk beras premium dapat ditetapkan,” pungkas Risfaheri. Beledug Bantolo