Beranda Pertanian Pemerintah Buat Roadmap Pengembangan Produk Rekayasa Genetik

Pemerintah Buat Roadmap Pengembangan Produk Rekayasa Genetik

BERBAGI
Lahan jagung/Ist

Agrofarm.co.id-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian saat ini tengah membuat roadmap tentang pengembangan benih produk rekayasa genetik (PRG). Targetnya tahun 2018 roadmap ini dapat dilaksanakan.

Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ignatia Maria Honggowati mengatakan, pihaknya berharap peta jalan pengembangan PRG dapat selesai akhir tahun ini. Sementara itu, pelaksanaan roadmap pada tahun 2018.

Dia menjelaskan, tujuan pembuatan roadmap ini guna memberikan acuan kepada instansi terkait dan para pemangku kepentingan untuk pengembangan dan penggunaan PRG dalam negeri.

“Kami menekankan produk dalam negeri, karena parental benih tersebut dari akan lebih sesuai untuk digunakan dalam negeri sendiri,” ujar Maria dalam diskusi “Dampak Global Tanaman Biotek : Efek Ekonomi dan Lingkungan 1996-2015” di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Adapun ruang lingkup dari roadmap ini meliputi manfaat dan keuntungan ekonomi, faktor-faktor strategis pengembangan benih produk rekayasa genetik, analisis lingkungan strategis pengembangan benih produk rekayasa genetik, strategi pengembangan benih produk rekayasa genetik, dan rencana aksi.

Maria Honggowati menuturkan, manfaat produk rekayasa genetik dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, tahan terhadap hama penyakit, cekaman abiotik, lingkungan, pengurangan biaya produksi, kualitas nutrisi yang tinggi, tahan lama dan bisa meningkatkan komposisi kimia tertentu.

Dia menambahkan, teknologi ini juga dapat megurangi dampak kerusakan lingkungan lantaran lebih efisien dalam penggunaan pestisida dan herbisida.

Selain itu, katanya, berdasarkan hasil studi dari aspek ekonomi, penggunaan benih PRG itu lebih menguntungkan. Penggunaan benih jagung hibrida di Jawa Timur hanya Rp 6,3 juta, sedangkan benih PRG Rp 7,8 juta.

Maria mengakui, Indonesia belum mau menanam PRG lantaran maraknya isu negatif tentang penggunan benih ini. “Benih mengakibatkan kerusakan lingkungan, sosial ekonomi, penyebab kanker dan dianggap tidak halal,” tukas Maria

Padahal, lanjutnya, sudah ada Undang-Undang ((UU) yang melindungi penggunaan PRG dari aspek keamanan lingkungan, keamanan pangan dan keamanan pakan. UU No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2005 Tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik.

Sementara itu, pengembangan benih PRG sudah banyak diantaranya tebu tahan kekeringan kerjasama antara PT Ajinomoto dengan PTPN XI dan Universitas Negeri Jember. Benih ini sudah mendapatkan sertifikat pelepasan varietas. Padi BT tengah dalam proses peroleh sertifikat keamanan hayati yang dilakukan oleh LIPI.

Kentang tahan penyakit hawar daun yang dilakukan oleh Badan Litbang pertanian yang dalam proses mendapatkan sertifikat keamanan hayati. “Kita sudah banyak mengkonsumsi pangan dari roduk PRG, namun kita belum berani menanamnya,” ujar Maria. Beledug Bantolo