Beranda Pertanian MPPI Ingin Indonesia Jadi Kiblat Perbenihan Dunia

MPPI Ingin Indonesia Jadi Kiblat Perbenihan Dunia

152
BERBAGI
Ketua Umum MPPI Herman Khaeron. (Bantolo Agrofarm)

Agrofarm.co.id-Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) berkeinginan Indonesia dapat menjadi soko guru atau kiblat perbenihan dan pembibitan dunia.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum MPPI Herman Khaeron dalam konferensi pers menjelang pengukuhan Dewan Pengurus Pusat MPPI periode 2017-2022 pada 21 Agustus 2017 di Jakarta. Pengukuhan DPP MPPI mengusung tema peran strategis MPPI dalam pengembangan teknologi perbenihan dan perbibitan nasional.

Menurutnya, tidak menjadi hal yang mustahil Indonesia akan menjadi soko guru atau kiblat perbenihan dan pembibitan dunia. “Sehingga tekad MPPI ke depan untuk mewujudkan kedaulatan benih dan bibit nasional. Tidak hanya untuk pemenuhan bibit dalam negeri, juga memenuhi kebutuhan dunia,” ujar Herman.

Dia mengatakan, kebutuhan benih dalam negeri saat ini masih terbatas. Padahal potensi permintaan benih sangat besar. Luas daratan Indonesia mencapai 1,9 juta Km2 tau 190 juta hektare (ha). Adapun luas lautan sekitar 580 juta hektar. “Jadi lebih luas kawan laut ketimbang daratan. Apalgi keuntungan Indonesia beriklim tropis. Setiap saat dapat memproduksi pangan dan benih pasti sangat dibutuhkan,” terangnya.

Herman menyebutkan, saat ini ketersediaan benih jagung seret, padahal pemerintah sedang menggalakan program perluasan lahan penanaman jagung pada 2017 sebesar 3 juta ha, namun benihnya tidak ada di lapangan.

“Imbasnya harus impor benih dari luar negeri. Selain itu, tanaman tebu untuk kegiatan bongkar ratoon secara serentak benihnya tidak tersedia dalam jumlah banyal. Sehingga peran benih ini sangat strategis karena usaha perbenihan dapat mensejahterakan rakyat,” jelas Wakil Ketua Komisi IV DPR ini.

Parahnya lagi, lanjutnya, di sektor perunggasan, produsen masih mengimpor sumber bibit atau grand parent stock (GPS). “Ke depan impiannya dapat menyediakan bibit GPS lokal. Benih menjadi vital dalam peningkatan produksi pangan dimasa mendatang,” tandasnya.

Sementara itu, negara lain benih menjadi prioritas nomor satu didalam enyediaan pangan. “Tanpa ada benih, maka tiak ada pangan, sehingga tidak bisa mewujudkan kedaulatan pangan. Ada benih, pasti ada pangan,” ujar Herman.

Menurutnya, saat ini benih yang digunakan oleh petani bukan benih bersertifikat dan unggul. “Untuk itu, kita berupaya menjadi penyedia benih unggul di dalam negeri, karena benih menjadi penopang peningkatan produktivitas dan produksi pangan,” terang Herman.

Maman Suherman Sekretaris Jenderal MPPI mengatakan, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan benih dan bibit, namun tidak didukung dengan teknologi yang mumpuni. “Kita mempunyai potensi plasma nutfah begitu besar, namun dalam pengembangan teknologi masih kalah bersaing dari produk luar negeri,” tutur Maman.

Menurutnya, kendala yang dihadapi Indonesia saat ini adalah jenis produknya yang kurang beragam, dan volumenya yang masih kurang. Hal tersebut menyebabkan banyak perusahaan multinasional yang menggunakan benih sumber impor.

“Maka itu, MPPI ingin membangun sistem perbenihan nasional menjadi lebih maju dan bisa bersaing dengan negara lain,” ujar Maman. Selain itu, katanya, peran organisasi bisa bermanfaat langsung kepda masyarakat maupun memberikan saran kepda pemerintah dalam memutuskan suatu kebijakan demi kemjaun perbenihan nasional. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here