Beranda Ekspresi Miras Simalakama

Miras Simalakama

719
BERBAGI
Ilustrasi

Agrofarm.co.id – Pernah lihat film Drunken Master yang diperankan si jagoan Jackie Chan dengan andalan jurus mabuknya. Ia begitu dipuja puja karena aksi hebatnya mengalahkan musuh-musuh . Walau aksi hebatnya itu didapat dengan menenggak minuman keras dahulu, dalam keadaan itu ia disebut pahlawan walau lagi mabuk.

Miras (yang mengandung alkohol memabukkan itu) dibenci, tapi juga dicari. Ini dilemanya. Pada momen-momen tertentu, ketika pesta, tak jarang ada miras “bertengger” di situ. Bagi yang pernah mengkonsumsinya, ada yang mengatakan bahwa miras tidak serta merta mengakibatkan mabuk. Ada yang minum tapi tidak mabuk. Yang menjadi masalah dalam miras ini, bagi mereka “yang penting tidak mengganggu.”

Pada kenyataannya, banyak kasus yang terjadi karena mabuk. Satu dua orang bisa saling “baku ambe” (berkelahi) antara satu dan lainnya karena hilang kesadaran. Apalagi di Papua, sudut sudut jalan bisa saja beberapa lelaki tertidur, itu karena mabuk berat. Atau sudah mengucap salam “Foy Shelle” khas Papua ketika bertemu di jalan, para lelaki bisa adu otot itu karena mabuk.

Kini ada pelarangan menjual minuman beralkhol (minol) di retail dan supermarket. Di satu sisi Pemerintah melarang distribusi miras karena mengakibatkan hilangnya nyawa dan merusak generasi muda. Namun melarang distribusi miras menjadi dilema pemerintah. Pemasukan pajak dari produksi miras sangat tinggi. Pada 2012 pendapatan negara dari tarif cukai miras yang mengandung etil alkohol Rp 3,2 triliun serta pendapatan dari etil alkohol dan etanol Rp 123 miliar. Pada 2013 hingga September, pendapatan cukai dan tembakau Rp 76,3 triliun, dari jumlah ini 96 persen dari cukai tembakau. Adapun cukai miras berkontribusi 3,84 persen dan cukai etil alkohol 0,14 persen.

Data Kementerian Perdagangan menyebutkan nilai ale atau jenis bir dengan rasa buah sepanjang Januari-Juli 2014 tercatat US$ 517.036. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan nilai impor sepanjang tahun lalu yang tercatat US$ 328.575. Volume impor minuman jenis itu tercatat 255.063 kilogram selama tujuh bulan di 2014, lebih tinggi dibandingkan volume impor sepanjang 2013 yang sebanyak 156.768 kilogram.

Hal serupa juga dijumpai untuk grape must dalam kontainer. Grape must adalah minuman berkadar alkohol ringan yang terbuat dari anggur. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan nilai impor sampai Juli 2014 mencapai US$ 209.163, lebih tinggi dibandingkan nilai impor sepanjang 2013 sebanyak US$ 178.847. Sementara dari sisi volume jumlahnya meningkat menjadi 22.177 kilogram sampai Juli 2014 dibandingkan volume impor sepanjang 2013 yang tercatat 15.293 kilogram. Itulah sebabnya pemerintah seperti memakan buah simalakama. Jika miras dilarang, pemasukan berkurang; jika tidak dilarang, akan merusak generasi.

Karena dilema ini, yang bisa dilakukan hanyalah pengaturan. Miras oplosan ilegal karena tidak mendapatkan izin dan tidak membayar pajak. Artinya, tidak ada pemasukan bagi negara dari miras oplosan ini. Miras oplosan diharamkan pemerintah. Berbeda dengan miras legal yang izin pendiriannya jelas. Karena izin pendiriannya jelas, jelas pula pembayaran pajaknya. Negara mendapatkan keuntungan dari penjualan miras legal. (Dian Yuniarni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here