Beranda Pertanian Mentan Ingin Petani Sejahtera, Pengusaha Untung dan Konsumen Tersenyum

Mentan Ingin Petani Sejahtera, Pengusaha Untung dan Konsumen Tersenyum

118
BERBAGI
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU) Said Aqil Siradj. (Ist)

Agrofarm.co.id-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku tak keberatan bila ada perusahaan yang membeli gabah dari petani dengan nilai tinggi atau di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Namun, diharapkan perusahaan tidak kemudian mencari keuntungan yang juga jauh lebih besar dan membebankan masyarakat selaku konsumen.

“Saya senang (gabah petani, red) dibeli tinggi, tapi jangan jual mahal. Beli mahal, alhamdulillah. Tapi, jangan tinggi (keuntungannya mencapai, red) 200%,” tandas Amran di kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (25/7/2017).

Menurutnya, masalah hukum PT PT Indo Beras Unggul (IBU) diserahkan pada penegak hukum, produksi pangan menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian (Kementan) dengan seluruh stakeholdersnya. “Itu bukan domain Kementan,” ujar Amran.

Terkait dengan perusahaan yang diperkirakan membeli gabah beras jenis Varietas Unggul Baru (VUB) dari petani, penggilingan, pedagang, selanjutnya dengan diolah menjadi beras premium dan dijual dalam kemasan 5 kg atau 10 kg ke konsumen harga Rp 23.000-26.000 per kilogram (kg). “Menurut hitungan Kementan terdapat disparitas harga beras premium antara harga ditingkat petani dan konsumen berkisar 300%,” jelasnya.

Sementara dijumpai perusahaan lain membeli gabah ke petani dengan harga yang relatif sama, diproses menjadi beras medium dan dijual harga normal medium rerata Rp 10.519 per kg beras. Kementan memperkirakan disparitas harga beras medium ini di tingkat petani dan konsumen Rp 3.219 per kg atau 44%.

Untuk diketahui nilai ekonomi bisnis beras ini secara nasional Rp 10.519 per kg x 46,1 juta ton (atau setara 41,6 miliar kg) mencapai Rp 484 triliun. “Diperkirakan untuk memproduksi beras tersebut biaya petani Rp 278 triliun dan memperoleh marjin Rp 65,7 triliun,” ujar Amran.

Sedangkan pada sisi hilir, konsumen membeli beraskelas medium rerata saat ini Rp 10.519/kg setara Rp 484 triliun, dan bila konsumen membeli beras premium maka angkanya jauh lebih tinggi lagi. Sementara pedagang perantara atau middleman setelah dikurangi biaya proses, pengemasan, gudang, angkutan dan lainnya Kementan memperkirakan memperoleh marjin Rp 133 triliun.

Menurutnya, kesenjangan profit marjin antara pelaku ini tidak adil, dimana keuntungan produsen petani sebesar Rp 65,7 triliun ini bila dibagi kepada 56,6 juta anggota petani padi, maka setiap petani hanya memperoleh marjin Rp 1 juta-2 juta per tahun.

“Sementara setiap pedagang secara rata-rata memperoleh Rp 133 triliun dibagi estimasi jumlah pedagang 400 ribu orang, sehingga rata-rata per pedagang Rp 300-an juta,” kata dia.

Dia menegaskan, Satgas pangan menginginkan keuntungan terdistribusi secara adil dan proporsional kepada petani, pedagang beras kecil dan melindungi konsumen.”Kami ingin petani sejahtera, pedagang untung dan konsumen tersenyum bahagia melalui harga stabil dan wajar,” ujar Amran. Beledug Bantolo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here