Beranda Perkebunan Membangun Mimpi Kejayaan Rempah Nasional

Membangun Mimpi Kejayaan Rempah Nasional

262
BERBAGI

Agrofarm.co.id –  Di masa jayanya rempah Indonesia pernah menguasai dunia dan menjadi  sumber utama pasokan dunia. Namun kini predikat itu luntur lantaran turunnya produksi dan mutu rempah Indonesia. Untuk membangkitkan rempah perlu dibangun kemitraan antara petani dan perusahaan.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang mengatakan, rempah Indonesia telah menjadi komoditas strategis nasional karena rempah mampu mensejahterakan dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Dia menerangkan, rempah Indonesia mempunyai berbagai keunggulan baik secara histroris, ekonomi, geografis maupun ekologis. “Sejarah telah membuktikan bahwa rempah Indonesia pernah menguasai dunia dan sumber pasokan dunia. Pada masa itu, bangsa eropa dan bangsa lainnya berburu rempah ke nusantara. Itulah kejayaan rempah masa lalu,” jelas Bambang.

Sekarang kejayaan rempah tersebut sudah saatnya kita raih kembali dengan nilai tambah  dan rantai nilai yang menjadi milik Indonesia. “Kebangkitan rempah harus disinergikan dengan seluruh pelaku dari petani, pedangan, industri, eksportir, lembaga penelitian, perguruan tinggi dan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” tuturnya.

Menurutnya, perbaikan tidak hanya pada tataran on-farm, tapi juga off-farm. Perbaikan menyeluruh dari mulai pembibitan, penerapan Good Agriculture Practices (GAP), pengembangan produk, pemasaran. akses pasar serta upaya peningkatan konsumsi dalam negeri.

“Ini harus dilakukan secara sistematis, bertahap dan berkelanjutan yang dilandasi oleh filosofi kemitraan. Sehingga produktivitas bisa meningkat, kualitas produk membaik  dan terhindar dari serangan hama penyakit,” tandasnya.

Ke depan, katanya,  tidak ada lagi keluhan terkait dengan produktivitas rendah, produksi kurang berkualitas, masih terkena cemaran antara lain jamur atau serangga.

Untuk pembiayaan komoditas rempah, Kementan pada tahun 2017 telah mengalokasikan dana sebesar Rp 40 miliar melalui kegiatan intensifikasi dan rehabilitasi khususnya tanaman lada, pala dan cengkeh di sentra produksi pada 22 propinsi. “Ini dapat menjadi pengungkit peningkatan produksi yang mempunyai titik tumbuh tinggi dalam pengembangan rempah,” kata Bambang.

Dan ini didukung oleh penyediaan dan pemeliharaan pohon induk, sarana pengolahan dan pengeringan, pemberdayan petani, penguatan lembaga petani dan pengembagan desa organik. Sedangkan pengembangan spesifik lokasi difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Selain itu, Kementan akan akan melakukan pendekatan pengembangan kawasan atau klaster rempah.  Misalnya membangun kawasan Pala di Sulawesi Utara, dan ini dapat terbangun melalui kemitraan anatara petani dan industri yang saling menguntungkan.

Kuncinya perlu penguatan kelembagaan petani secara intensif. “Petani menyiapkan bahan baku dan industri arahkan petani untuk menghasilkan produk-produk yang lebih spesifik yakni jahe merah, jahe putih dan jahe gajah untuk kebutuhan konsumsi obat-obatan serta kosmetik lainnya yang dibutuhkan konsumen,” jelas Bambang.

Peran pemerintah memfasilitasi antara industri yang membutuhkan bahan baku dari petani. Selain itu, lanjutnya, memangkas rantai pasok dari produsen ke konsumen. Tujuannya agar harga rempah di tingkat petani menjadi lebih baik.

Meskipun, diakuinya, sekarang yang dihadapi oleh petani adalah minimnya ketersediaan bibit tanaman rempah. Petani kekurangan bibit dan ini berbeda kondisinya dengan bibit karet dan sawit yang pasokannya melimpah. “Untuk itu, ke depan pemerintah akan mengembangkan desa mandiri benih rempah,” ujar Bambang.

Dia menerangkan, Kementan mulai mengidentifikasi sentra-sentra sumber benih. Ada penelusuran sumber benih oleh Direktorat Jenderal Perkebunan hingga kabupaten untuk mendapatkan benih unggul tanaman pala, cengkeh dan lada. Ini nantinya ditetapkan menjadi kebun benih, kemudian petani dibina menjadi penangkar.

“Selain itu, pemerintah mendorong petani melakukan sertifikasi benih agar menjamin mutu benih itu unggul. Sehingga ke depan petani mempunyai sumber benih rempah sendiri,” jelas Bambang

Ketua Dewan Rempah Indonesia (DRI) Gamal Nasir menambahkan, produksi rempah tiap tahun terus menurun karena kurang perawatan kebun, tanaman sudah banyak yang tua. Akibatnya terserang hama penyakit dan imbasnya kualitas produk rempah menjadi turun. “Untuk itu, perlu pembinaan petani melalui kemitraan dengan para industri,” ujar Gamal.

Menurutnya, potensi rempah Indonesia luar biasa. Sejarah telah mencatat pada zaman VOC rempah sangat diminati oleh orang-orang eropa. Bahkan pemerintah belanda sampai menjajah Indonesia.” Jika rempah di Indonesia terus dibiarkan dan tidak diurus, maka rempah kita akan masuk ICU dan tingga sejarah,” tukas Gamal.

Untuk itu, katanya, perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan  di semua sektor agar produk rempah Indonesia kembali berjaya. “Sekarang rempah Indonesia kalah dengan Malaysia, Thailand dan Vietnam,” tandasnya.

DRI akan melakukan rodshow ke Kementerian Perindustrian untuk membuat roadmap pengembangan industri rempah ke depan. Tak kalah penting perbaikan data agar menjadi pijakan dalam pembuatan kebijakan rempah nasional. “Selain itu, melakukan audensi dengan Presiden Joko Widodo untuk membicarakan masa depan rempah. Rempah ini potensinya luar biasa besar untuk Indonesia,” tambahnya.

Berdasarkan data Kementan, luas areal pengembangan tanaman rempah (8 komoditi dari 56 komoditi rempa) mencapai sekitar 1,1 juta hektar (ha) dengan produksi sekitar 410 ribu ton. Komoditas rempah juga merupakan komoditas yang lebih dari 96 % diusahakan oleh perkebunan rakyat dan rata-rata kepemilikan 0,4 ha. Disisi lain komoditas rempah memberikan sumbangan dalam perolehan devisa pada tahun 2015 sebesar USD 1,185 miliar atau Rp. 16 triliun. Beledug Bantolo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here