Manajemen Pemeliharaan Jadi Masalah Perunggasan Indonesia

Agrofarm.co.id-Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita mengatakan, permasalahan perunggasan di Indonesia saat ini salah satunya adalah karena masih adanya kelemahan dalam manajemen pemeliharaan.

Diarmita menyampaikan, penurunan produksi telur tidak semata disebabkan oleh infeksi H9N2, namun juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti praktik pemeliharaan yang kurang baik, misalnya: kualitas pakan, sirkulasi udara, sistem perkandangan dan kurangnya perhatian peternak terhadap penerapan biosekuriti di kandang.

Ketut menjelaskan, virus flu burung H9N2 terdeteksi pada awal tahun 2017 melalui surveilans yang dilakukan oleh Balai Veteriner Kementerian Pertanian di sejumlah daerah yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

“Virus H9N2 merupakan jenis virus flu burung yang bersifat Low Patogenic Avian Influenza/ LPAI, meskipun tidak mematikan akan tetapi dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh unggas dan kerusakan pada beberapa organ,” kata Ketut dalam siaran persnya, Jumat (29/12/2017).

Dia menambahkan, penurunan kekebalan tubuh unggas maka ketika infeksinya bersamaan dengan penyakit infeksi lainnya seperti Newcastle Disease (ND) atau lebih dikenal dengan Tetelo, Infectious Bronchitis (IB) dan Egg Drop Syndrome (EDS) maka dapat mengakibatkan turunnya produksi telur.

I Ketut menuturkan, untuk menurunkan kasus H9N2, Pemerintah terus berupaya maksimal untuk segera memproduksi vaksin, namun proses produksi vaksin H9N2 memerlukan waktu yang cukup lama terutama untuk isolasi dan purifikasi virus.

Saat ini proses produksi vaksin sudah sampai tahap pengujian mutu dan keamanan di Pusvetma dan akan dilanjutkan di Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH). Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan karena Pemerintah harus memastikan vaksin yang akan diproduksi aman dan berkualitas ketika akan didistribusikan kepada masyarakat.

Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjatur Rasa, menegaskan, vaksinasi bukan satu-satunya cara dalam mengendalikan infeksi H9N2. Menurutnya, tindakan penerapan tindakan biosekuriti yang ketat, perbaikan mutu pakan, pemberian vitamin dan immunostimulan dapat mencegah dan mengendalikan virus H9N2.

“Ditjen PKH Kementerian Pertanian melalui sistem IVM online (Influenza Virus Monitoring) telah membangun sistem pengawasan penyebaran virus flu burung, sehingga dapat dilakukan analisa melalui identifikasi, karakterisasi dan sequenzing DNA. Saat ini, sistem IVM online ini merupakan teknik monitoring penyakit flu burung yang terbaik dan terdepan di kawasan Asia,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan, saat ini pemerintah juga sedang berupaya untuk menggerakkan ekspor unggas ke beberapa negara. Tahun 2016 Indonesia telah melakukan ekspor Telur Tertunas ke Myanmar.

“Upaya ekspor produk unggas olahan telah berhasil dilakukan ke Papua Nugini dan juga telah disetujui untuk ekspor ke Jepang,” terang Fadjar. Bantolo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*