Solvent Extraction Mampu Memperoleh CPO 4%


Ada dua teknologi yang dapat digunakan untuk mengekstrak minyak dari fiber yakni, mechanical extraction dan solvent extraction (SE). Dengan hanya menggunaan Teknologi mechanical  /Tekanan/Pressing untuk mengambil minyak seperti yang dilakukan di hampir semua PKS hasil ekstrak minyak nya sangat terbatas sehingga masih banyak kandungan minyak yang tertinggal pada fiber/serabut, Oleh karena itu, divisi research and development (R&D) Eonmetall Technology mengkombinasikan penggunaan ke 2 teknologi ini dimana hasil pressan teknologiy mechanical dilanjutkan dengan penggunaan teknologi solvent extraction, sehingga mampu mengurangi kadar minyak di fibre dari 5% menjadi 1% atau menaikkan rendemen CPO sebesar 0,5% terhadap TBS Olah.

Bonar Saragih General Manager Eonmetall Technology Sdn Bhd mengungkapkan, Teknologi Solvent Extraction ini  sederhana dengan memberikan pelarut Hexane Food Grade ke fiber maka kandungan minyak yang ada pada Fibre akan terlarut dalam cairan Hexane. Untuk proses selanjutnya Fibre yang telah terkontaminasi Hexane akan dipanaskan dengan steam sehingga Hexane akan menguap. Fibre yang kandungan Hexanenya sdh minimal dikirim kembali ke Boiler sebagai bahan bakar. Sedangkan Hexane di kondensasi menjadi cairan lagi untuk dapat di recycle ulang tandasnya.

Proses yang sama pada minyak yang mengandung hexane akan di panaskan dengan steam pada Distillation sehingga hexane menguap dan di kondensasi kembali. Sedangkan minyaknya dikirim ke storage tank.

Bonar menambahkan, kapasitas pabrik kelapa sawit (PKS) 60 ton per jam tandan buah segar (TBS), pabrik sehari dapat mengolah 1.200 ton TBS dan menghasilkan 360.000 ton TBS per tahun. Dengan komposisi fiber 13,5% X 360.000 ton diperoleh sebanyak 48.000 ton fiber per tahun.

“Ada kandungan minyak 5%, maka ada minyak sebanyak 2.400 ton per tahun yang dibakar di Boiler sia sia. Dengan Solvent Extraction dapat diambil 80% maka akan menghasilkan 1.900 ton per tahun. Ini dikalikan Rp 7,5 juta saja, dapat menghasilkan Rp 14,5 miliar per tahun,” ungkap Bonar kepada Agrofarm.

Adapun biaya operational Solvent Plant hanya sebesar Rp.2.200.000/Ton Minyak atau sekitar 30% dari revenue.

Untuk membangun Solvent Extraction Plant ini dibutuhkan total areal 1.600 m2 dimana bangunan utama lebarnya 12 meter dan panjang 30 meter. Masa pembangunan hanya 6 bulan sampai 8 bulan setelah memperoleh izin pendirian pabrik,” ungkapnya.

Menurutnya, layanan purna jual yang ditawarkan adalah garansi performance, servis kontrak maintenance agar para pembeli itu tidak memusingkan perawatan. Garansi biasanya satu tahun dari Eonmetall.

Untuk PKS 60 Ton/Jam maka Return of Investment hanya 3 Tahun sedangkan untuk PKS 90 Ton/Jam ROI hanya 2,3 Tahun.

Technologi ini juga dapat di terapkan dengan bahan baku expeller cake dai Kernel Crushing Plant sehingga oil loss di cake yang biasanya 7,5% dapat di turunkan menjadi 1,5%. Solvent Extraction Plant ini akan menggantikan Second Press sehingga dapat menghemat pemakaian Listrik di KCP sebesar 200 KWh.

Untuk KCP dengan olah 300 Ton Kernel/Hari akan memperoleh ROI hanya 2,1 Tahun sedangkan KCP olah 500 Ton/Hari ROI dalam waktu 1,5 Tahun.

Bonar mengatakan, persoalan sekarang masih adanya keraguan dari para investor untuk menanamkan modal pada teknologi ini. Itu tidak perlu dikhawatirkan lantaran ada surat garansi di dalam kontrak pembelian. Jika serapan CPO di bawah 780% , maka uangnya bisa dikembalikan semua. “Bahkan kita menawarkan profit sharing dalam berinvestasi karena kita yakin investasi ini menguntungkan,” tambahnya.

Bonar mengungkapkan, di Malaysia ada 13 unit yang sudah jalan dan 4 yang sedang dalam project. Di Indonesia sekarang sudah jalan pembangunannya di Best Agro di Pangkalanbun Kalimantan Tengah. Kemudian ada perusahaan sawit Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK) di Riau yang akan comissioning pada bulan Nopember 2013 ini . “Saat ini sedang dalam tahap penjajakan dengan PT Smart Tbk, PT Bumitama Gunajaya Agro dan PT Astra Agro Lestari Tbk,” tuturnya.

Bonar optimis, permintaan akan terus meningkat karena dengan harga CPO sekitar USD 750 per ton, perusahaan sawit telah memperoleh keuntungan. Tahun ini targetnya ada 5 unit bisa terjual. beledug bantolo


Berita lain: